Her [Part 2]


"Aku ingin (lebih) mengenalmu"

Sebulan berlalu sejak terakhir kami bertemu. Dia semakin jarang mengunjungi perpustakaan. Dan aku selalu kehilangan waktu yang tepat untuk berkenalan dengannya. Tak ada satupun temanku yang mengenalnya. Bahkan setelah aku menjelaskan secara detail ciri-ciri yang dia miliki. 

Suatu hari aku iseng bertanya kepada salah satu petugas perpustakaan yang sering kulihat setiap kali aku datang. Awalnya aku tak mengharapkan apa-apa. Tapi ternyata aku mendapatkan lebih dari yang aku inginkan. Dan itu membuatku yang awalnya akan puas hanya dengan mengetahui namamu menjadi semakin ingin lebih mengenalmu. 

+++

Aku menekan-nekan pelipisku. Mataku pusing setelah lama memandangi laptop, dan tenggorokanku terasa kering, aku membutuhkan air. Setelah memastikan tugas yang kukerjakan telah tersimpan, aku beranjak menuju tempat istirahat yang ada di salah satu sudut ruang perpustakaan. Untung saja perpustakaan ini menyediakan air minum secara gratis. Kalau tidak aku harus berjalan ke kantin untuk membeli air minum kemasan, dan itu butuh waktu yang tidaklah sebentar, mengingat perpustakaan dan kantin tidak berada di satu gedung yang sama.

Dalam perjalananku kembali ke tempat duduk, aku melihatnya. Ya. Aku tidak salah lihat. Itu memang dia. Duduk menghadap ke jendela. Tidak sedang membaca buku, juga tidak sedang menulis di buku catatannya. Pandangannya jauh ke luar jendela. Apa yang sedang dipikirkannya? Tiba-tiba aku teringat dengan cerita petugas perpustakaan beberapa hari lalu. Ingin rasanya aku mendekat dan menghiburnya. Tapi aku tidak bisa begitu saja melakukannya. Kau akan mengira aku adalah penguntit yang mengetahui segalanya tentangmu. Aku terus menimbang-nimbang, haruskah aku datang menghampirimu? atau haruskah aku hanya memperhatikanmu dari kejauhan?-seperti seorang pengecut.

Belum usai perdebatan yang terjadi di dalam pikiranku, dia berdiri dari kursinya. Dan membalikkan badan. Sepertinya dia melihat ke arahku. Atau hanya perasaanku saja. Dia melangkah dan terus berjalan ke arahku. Nafasku seketika terhenti. Jantungku berdetak begitu cepat seakan meronta dan hendak melompat dari tempatnya. Tapi dia melewatiku begitu saja. Seakan aku tak terlihat.

"Hei ..."

"..." Dia menoleh dan mencari sumber suara.

"Kau menjatuhkan ini..." Aku memberikan kunci loker yang terjatuh dari kantong celananya.

"... Terima kasih."

Dia berbalik dan terus berjalan. Bodoh. Seharusnya itu bisa menjadi kesempatanku untuk bicara dengannya. Aku yang masih menyesali kebodohanku terduduk lemas di depan laptop. Aku melihat pantulan wajahku dari layar laptop yang berwarna hitam. Menyedihkan. Itu bisa jadi kesempatan terakhirku bertemu dengannya. Bagaimana jika dia benar-benar pindah ke luar negeri dalam waktu dekat seperti yang dikatakan petugas perpustakaan. Apakah aku tidak akan melihatnya lagi. Aku terus mengutuk diriku sendiri.

Setelah aku memaksakan pikaranku untuk kembali fokus pada tugas yang sedang kukerjakan, jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Kondisi ruangan menjadi lebih lengang. Sepertinya, jika perpustakaan ini buka 24 jam pastilah akan semakin banyak mahasiswa yang datang menghabiskan waktu disini. Terlebih untuk para pecinta buku. Satu per satu barang kumasukkan ke dalam tas yang disediakan khusus oleh perpustakaan dan aku berjalan menuju loker penitipan. Petugas perpustakaan yang ada di seberang meja tersenyum ramah kepadaku. Aku membalas senyumnya dan memberi isyarat bahwa aku harus segera pulang. Sepertinya kini kami berteman.

Sore ini hujan cukup deras. Padahal pagi hingga siang tadi matahari masih dengan angkuh menampakkan diri dan membuat perpustakaan ramai oleh orang-orang yang haus akan kesejukan. Aku mengambil payung yang kusimpan di dalam tas. Ketika aku sudah sampai di pintu utama gedung aku kembali melihat sosok yang sangat familiar. Kini, tanpa ragu aku berjalan cepat menghampirinya. Tak ingin mengulang kesalahan yang sama karena melewatkan kesempatan.


"Hei. Belum pulang? Ga bawa payung?"

"...", Dia menoleh, kemudian kembali menatap ke arah tetesan-tetesan hujan yang saling beradu di atas rerumputan.


Aku masih menunggu jawabannya. Entah hanya perasaanku saja tapi aku melihat kesedihan di matanya.


"Aku ... masih belum mau pergi dari sini."

"Nunggu reda? Tapi mungkin hujannya bakal awet." Aku menjawab santai dan kembali melipat payung yang sudah setengah terbuka.

"... bukan itu." Dia tersenyum, meski hanya sesaat tapi cukup membuatku berdebar.


Lima belas menit berlalu. Tak ada satupun dari kami yang bersuara. Hanya menikmati moment dan terhanyut dalam pikiran kami masing-masing.


"Apa kau pernah merasa sendiri meski berada di tengah keramaian?"

"..." Aku tak tahu harus bereaksi seperti apa. Aku hanya menatapnya yang terus melihat ke bawah. Sungguh aku ingin memeluknya. Dia terlihat begitu rapuh.

"Saat kau mati-matian berjuang pada satu-satunya yang kau miliki di dunia, tetapi orang lain menganggap itu hanya hal sepele. Saat kau juga ingin orang lain mendengar semua isi hatimu." Suaranya sedikit bergetar.

"Saya ..." Aku bingung. Satu-satunya yang kau miliki, hal sepele, isi hati. Dia benar bicara padaku kan? Tapi kenapa? Apa dia tahu jika aku mengetahui masalahnya?


Kami kembali terdiam. Aku meremas-remas tanganku sendiri. Apa yang harus kulakukan? Hujan mulai mereda. Awan kelabu perlahan digantikan oleh bintang-bintang yang menghiasi langit malam.


"Maaf, dari tadi aku mengoceh tak jelas. Anggap saja tadi aku tak mengatakan apapun." Dia tersenyum ramah dan menuruni anak tangga dan kemudian berjalan menembus cahaya lampu taman yang ada di sepanjang jalan.

"Hei!" Aku berteriak, maju beberapa langkah dan sampai di ujung anak tangga terakhir.

"..." Dia berhenti dan menoleh ke belakang.

"Saya bisa jadi teman jika kamu mau. Dan dengan senang hati, saya akan mendengar apapun yang mau kamu bicarakan, apapun!" Kata- kata itu keluar begitu saja. Sepertinya hatiku tak rela berpisah dengannya hanya dengan cara seperti ini.

"Terima kasih. Tapi ... ini hari terakhirku di sini. Besok aku akan pindah ke luar negeri." Dia terdiam. Kami hanya berjarak tiga meter, tapi aku bisa melihat cahaya matanya meredup, disusul dengan senyum kesedihan.

"Hei, ini 2017! Untuk apa Jack Dorsey menciptakan Twitter? Untuk apa Leonard Kleinrock ada dan dijuluki Bapak Internet? Facebook? Smartphone? Kau tahu? Orang-orang menyebutnya era teknologi!" Aku semakin menggebu-gebu.

Dia tertawa. Aku melihatnya tertawa, begitu lepas. Sepertinya aku menyukainya. Tidak. Aku mencintainya. Aku suka cara dia tertawa. Entah apa aku gila. Aku tahu aku belum mengenalnya. Tapi satu hal yang aku yakini. Aku jatuh cinta padanya.

+++






Tujuh tahun kemudian...






Aku terus memperhatikan jam yang ada di dalam ruang kerjaku. Ini adalah hari yang sangat kunantikan. Setelah tujuh tahun lamanya. Aku hanya bisa berhubungan dengan Re melalui layar dua dimensi. Kami selalu bertukar kabar, baik itu kabar penting maupun sekedar celotehan Re tentang orang-orang kantor yang menyindir gaya berpakaiannya. Aku bisa memaklumi mereka, karena dulu aku pun juga begitu.

Belakangan aku tahu alasan dari gaya berpakaiannya (yang hingga sekarang menjadi kebiasaan). Dulu saat ibunya masih berjuang dengan penyakitnya, Re banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Re hanya membawa baju seadanya bahkan ia memakai baju milik ibunya jika sudah kehabisan baju bersih. Re memiliki tubuh yang mungil sedangkan ibunya sangat berisi. Seperti dugaanku, itu bukan baju miliknya.

Aku juga mengatakan padanya jika aku sedikit banyak tahu tentang masalahnya dari salah satu petugas perpustakaan. Ternyata pertugas perpustakaan itu adalah satu-satunya teman yang dia miliki. Seringkali Re terlambat menghadiri kelas atau terkadang sampai melewatkannya. Itu yang membuatnya susah mencari teman dikelasnya. Tak jarang dia kesulitan jika sudah ada tugas kelompok dan tak ada satupun yang mau menjadi kelompoknya. Aku kecewa dengan teman-temannya yang bersikap seperti itu, tapi jika tidak begitu Re tidak akan menghabiskan waktu di perpustakaan dan entah apakah aku akan dipertemukan dengannya atau tidak.

Beberapa bulan pertama setelah kami memutuskan untuk berteman, aku selalu memanggilnya Miss Oxford Shoe. Aku terus memanggilnya seperti itu sampai ia memberitahu alasannya hanya memakai sepatu itu setiap hari. Sepatu itu ternyata pemberian ayahnya sebelum ayah dan ibunya berpisah. kemudian ayahnya kembali ke negara asalnya, Australia. Lalu aku menyinggung soal kaos kakinya yang tak pernah sama baik warna maupun motif antara kaki kiri dan kanan. Ternyata selama ini dia tak menyadarinya. Penglihatannya sangat buruk. Saat menginap di rumah sakit, Re selalu terburu-buru dan tidak menyadari ternyata kaos kaki yang ia gunakan tak senada. Aku yang tak habis pikir hanya bisa tertawa mendengar cerita itu. Aku teringat saat pertama kami bertemu. Aku harus melambaikan tanganku karena matanya terus mencari asal suara dari lawan bicaranya. Kupikir dia sengaja melakukannya.

+++

Pukul empat sore, aku sengaja izin untuk pulang lebih cepat. Pesawat Re datang pukul tujuh malam, dan aku tidak mau terlambat sampai di bandara, mengingat jalanan yang menjadi sangat padat saat jam pulang kerja. Sepanjang perjalanan menuju bandara, ingatan tentang kejadian-kejadian semasa kuliah seakan terputar kembali. Dan pertemuan kami yang terakhir, ketika aku melihat Re tertawa lepas. Aku tersenyum.

Sesampainya di bandara aku langsung menuju terminal kedatangan. Aku mengambil ponsel yang ada dikantong celana. Belum ada pesan ataupun panggilan dari Re. Seharusnya pesawatnya sudah datang. Aku mulai gelisah. Setelah beberapa menit, mulai tampak sekumpulan orang yang keluar dan tertawa, memeluk keluarganya masing-masing. Aku semakin gelisah. Ketika itu aku melihat seorang wanita yang sangat kukenali, masih dengan oxford shoe nya. Aku tersenyum. Kaos kaki abu-abu terpasang dikedua kakinya. Sepertinya penglihatannya mulai membaik. Cara berpakaiannya masih seperti dulu, hanya saja tampak lebih trendy. Rambut panjang sebahu ia biarkan terurai. Ada yang berbeda dari wajahnya.

"Hei, kemana kacamata bulat itu?"

"Aku pakai lensa kontak, agar lebih praktis. Hihii..." Dia tersipu sambil menyisir rambutnya dengan tangan.

"Kamu ... sisiran?"

"... Kenapa? Aneh ya?" Dia salah tingkah.

"Cantik ... Selamat datang kembali, Erendira." Aku memberikan rangkaian bunga yang sedari tadi kusembunyikan di balik punggungku.

"Heiiii..... Terima kasih." Dia tersenyum bahagia. Sepertinya dia menyukai kejutan kecilku. Aku memeluknya lembut. Rasanya hangat. Aku sangat bersyukur bisa mengenalmu, dan melihat senyum yang mengembang diwajah polosmu setiap hari. Apa yang sudah kau lakukan padaku? Aku benar-benar tergila-gila padamu, ReGadis mungil berpenampilan unik, yang selalu kunanti keberadaannya di perpustakaan.









END

Comments