[Epilog] Cacto


"Setiap orang berhak untuk bahagia, jangan biarkan siapapun membuatmu terjebak dalam kesedihan."


Aku menatap bayangan wajahku sendiri di depan cermin besar yang ada di suatu ruangan. Dengan gaun panjang berwarna krem yang membalut di tubuhku, ditambah buket bunga sederhana. Aku mencoba tuk tetap tersenyum meski kenyataannya sangat gugup. "Kau sudah siap, Han?" Seseorang mengetuk pintu dan memanggilku agar segera keluar. Aku kembali menatap cermin, menarik napas dalam-dalam dan langsung mengeluarkannya sekaligus. Perlahan aku berjalan menuruni anak tangga, tamu undangan sudah memenuhi ruangan. Semua mata tertuju pada satu arah, saling bertukar senyum dengan tatapan takjub.

"Jika orang tidak tahu, mereka akan mengira kau mempelai wanitanya, Han." Bena berbisik sambil berpegangan padaku yang membantunya menuruni tangga.

"Aku juga merasa mereka semua melihat ke arahku." Senyumku semakin kaku dan cara berjalanku menjadi sedikit pincang.

"Sudah kubilang latihan pakai heels! Hei, senyummu itu seperti menahan sesuatu, Hana. Tidak enak dilihat." Bena berjalan didepanku, bersiap menemui mempelai pria yang telah menantinya di atas panggung.


Bena memutuskan untuk segera menikah setelah bertemu dengan teman kecilnya yang juga adalah tetangganya saat keduanya masih taman kanak-kanak. Mereka tak sengaja bertemu ketika Bena sedang mengadakan rapat dengan salah satu kliennya. Setelah mereka bernostalgia dan merasa cocok satu sama lain, si pria mantap melamar Bena. Tanpa ragu ia menerima lamaran pria itu, bahkan ia tak repot-repot bertanya padaku. Sebelumnya Bena tak pernah menjalani hubungan yang serius dengan seorang pria. Ia hanya memikirkan karir dan hidup bebas tanpa suatu ikatan. Tapi pandangannya berubah setelah melihat keseriusan dari teman lamanya itu.

Hari itu aku melihat Bena, sahabatku, sangat cantik, tersenyum bahagia ke arahku. Melihatnya sangat bahagia membuatku ikut tersenyum, tanpa sadar air mataku menetes. Dari kejauhan Bena memintaku menghapus air mata dengan gerakan tangannya. Aku mengangguk dan segera mengusap kedua pipi, kutarik kedua ujung bibirku setinggi mungkin dan melempar senyum terbaikku sambil bertepuk tangan bersama seluruh undangan. Ikut berbahagia atas kedua mempelai.


---


Keesokan pagi setelah kejadian malam itu.
Arka berbaring di salah satu sofa ruang tv rumahku. Ia sibuk dengan game yang ia mainkan diponselnya. Aku membawakan beberapa buah yang telah kupotong-potong dan meletakkannya di meja. "Kenapa membiarkan tv menyala kalau kau sibuk dengan ponselmu?" Aku mencari remote tv di sofa tempatnya berbaring. Arka hanya memandangiku, mengikuti kemana arahku bergerak. Saat aku mencoba menarik tubuhnya aku tersandung oleh selimut yang ia pakai semalam dan jatuh tepat di pelukan Arka. Kami terdiam, aku bisa merasakan hembusan napasnya mengenai wajahku. Dalam beberapa detik kami hanya saling tatap sementara napasku tertahan saking terkejutnya, aku merasakan panas disekujur tubuhku. Musik tanda iklan di tv menggema ke seluruh ruangan, memecah keheningan, kami tersadar dan duduk di masing-masing sudut sofa.

"...Han, aku... tentang pernikahan kita..." Arka memecah keheningan dan membuka percakapan.

"Hmm... Ya?" Aku berdeham dan menoleh ke arahnya.

"Kurasa memang lebih baik tidak kita lakukan dalam waktu dekat. Aku...hanya ingin memastikan ini padamu."

"...Kau masih marah padaku?" Aku mempelajari raut wajahnya. Ia tersenyum lembut padaku dan menggelengkan kepalanya, menepuk-nepuk sofa, memintaku untuk lebih mendekat. Aku duduk tepat disebelahnya, dengan posisi berhadapan. "Kau masih belum percaya padaku?"

"...kurasa kau masih butuh waktu, selama ini aku terlalu memaksakanmu. Aku bahkan belum mendengarmu mengatakan cinta padaku, sekali pun. Kau masih butuh waktu untuk berdamai dengan dirimu sendiri. Pastikan siapa yang sebenarnya ada di pikiranmu, juga hatimu, Hana."


---


Matahari pagi bersinar lebih cerah dari biasanya, entah memang karena cuaca atau suasana hatiku yang membuatnya begitu. Tanpa sadar aku bersenandung sambil merapikan rambut didepan cermin. Langkah kakiku terasa lebih ringan dari biasanya. Aku menuruni tangga dengan senyum mengembang.

"Kau menakutkan, Han." Bena melirik ke arahku dan kembali menyesap kopinya.

"Apa?"

"Bisa kau berhenti melakukan itu?"

"Melakukan apa?"

"Senyummu itu menyeramkan. Ditambah lagi, sejak kapan kau melakukan goyangan-goyangan itu?" Bena menggerakkan badannya asal.

"Haha. Kapan aku melakukannya?"

"Sesenang itu kau mendengar Arka kembali lusa?" Aku menatap Bena yang masih memasang wajah kesal, kembali tersenyum dan menggodanya dengan tarianku. "Ah. Hentikan, Hana. Itu menyebalkan."

Sudah setahun sejak kami memutuskan untuk berpisah. Semalam Arka menghubungiku dan berkata akan kembali. Selama ini ia menyibukkan dirinya dengan projeknya yang ada di luar negeri. Kami masih saling berhubungan, meski tak sesering dulu. Hanya sekedar untuk mengetahui kabar masing-masing. Dan Bena hari ini datang untuk menemaniku pergi ke sebuah mall di pusat kota.

Sepanjang perjalanan aku tak hentinya bersenandung mengikuti musik dari siaran radio. Bena sesekali melirikku, mencoba mengirimkan sinyal agar aku berhenti melakukannya. Namun akhirnya menyerah dan menghela napas panjang, mencoba untuk bersabar. Aku pun juga merasa aneh dengan diriku sendiri. Setahun belakangan ini rasanya aku bukanlah diriku yang biasanya. Tapi perubahan ini membuatku menjadi lebih bahagia dari hari ke hari. Sepertinya ini yang dimaksud Arka dengan 'berdamai dengan diri sendiri'.

Sesampainya di mall kami sibuk dari satu toko ke toko yang lain. mencari baju mana yang paling sesuai dengan keinginanku. Bena juga sama pusingnya denganku. Bahkan dia membeli lebih banyak daripada yang kubeli.

Kurang lebih enam jam kami berkeliling, ini adalah rekor terlama yang pernah kumiliki. Biasanya tak lebih dari dua jam, aku akan langsung pulang setelah membeli keperluan. Setelah lelah menghabiskan seluruh tenaga, Bena memutuskan untuk singgah di salah satu resto kesukaannya.

"Hana, kau yakin memesan sebanyak itu?" Bena terkejut setelah mendengar pesanan yang kusebutkan kepada pelayan. Aku mengangguk mantap dan kembali tersenyum. "Kau benar-benar sesuatu, Han. Arka harus lihat apa yang dilakukan tuan putrinya setelah ditinggal olehnya." Aku yang mendengar hanya tertawa.

Dua dari lima menu yang kupesan sudah tertata di atas meja. Aku menyantapnya dengan lahap namun tetap terlihat anggun. Aku juga tak ingin mempermalukan diriku sendiri di tempat umum. Baru saja aku hendak memasukkan suapan terakhir ke mulutku, seseorang yang amat kukenal mendekat, tersenyum ramah. "Kak Hana? Eh, kak Hana, kan?"


---


"Kau yakin tak ikut denganku ke bandara?" Aku sibuk memilih sepatu yang kurasa cocok dengan baju yang kukenakan.

"Tidak, terima kasih. Aku tidak ingin melihat drama sepasang kekasih yang akhirnya bertemu setelah sebelumnya berpisah karena kebodohan masing-masing." Bena menyilangkan kedua tangannya, menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Hei. Apa itu? Sangat tidak sopan. Ya sudah kalau begitu. Aku pergi, daaah! Jangan lupa kunci pintunya." Aku berlari kecil meninggalkan Bena. Segera menyambar kunci mobil yang ada di meja makan. Aku tidak boleh terlambat, jangan sampai Arka tiba sebelum aku sampai di bandara.

Aku tiba tepat setelah pesawat Arka mendarat. Dengan tergesa-gesa aku berlari menuju pintu kedatangan. Senyum di wajahku terus mengembang. Sambil mengatur napas, mataku sibuk memperhatikan orang-orang yang baru keluar dari pintu kedatangan.

Pintu otomatis itu terbuka. Dibelakang kumpulan orang yang keluar aku melihatnya. Wajah yang kurindukan. Bahkan saat kami berpisah 4 tahun, aku tak serindu ini. Dia tersenyum padaku. Aku berlari ke arahnya, memeluknya erat. Tak memedulikan orang sekitar yang melihat kami. "Hei. Kau bilang tak akan pernah melakukan hal seperti ini?" Arka balas memelukku lembut. Aku tersenyum memandanginya, kembali memeluknya.


---


Naraya Tama

"Kak, Sarah harus segera dipindah minggu ini. Kakak ikut, kan?"

"..."

"Kak Tama?"

"Kalau sekarang kakak bilang ingin melepas Sarah, apa kakak jahat?"

"Kenapa? Apa karena Kak Hana?"

"Dia bebeda dari gadis kebanyakan, dik. Awalnya memang karena kakak penasaran. Tapi semakin lama mengenal Hana, kakak semakin yakin kalau dia memang berbeda. Kakak tahu ini salah, tapi kakak tidak ingin menelepaskan Hana."

"Dan meninggalkan Sarah yang lebih membutuhkan kakak disampingnya? Setelah tiga tahun kalian bersama? Kakak yang dulu memaksaku untuk mengenalkannya pada kakak. Dia teman baikku, kak. Aku tidak pernah menyalahkan kakak atas apa yang menimpa Sarah sampai sekarang. Tapi apa kakak tidak merasa bersalah sedikitpun? Kakak juga yang memintanya ikut jalan-jalan dengan kakak. Kalau saja waktu itu dia menolaknya... padahal dulu kalian saling menyayangi... kalau saja aku tidak pernah mengenalkannya pada kakak."

"..."

Tama menghabiskan masa kuliahnya di luar negeri, sekaligus menjaga dan merawat Sarah yang masih koma dari semenjak mereka memindahkan Sarah ke rumah sakit terbaik di negara tersebut. Ia selalu memikirkan Hana. Ia berpikir untuk menemani Sarah sampai ia kembali sadar dan kembali menemui Hana, menjelaskna semuanya.

Suatu hari Tama membuat akun sosial media untuk berhubungan dengan teman-teman lamanya. Dari sekian banyak foto yang muncul di berandanya, muncul satu wajah yang sangat ia kenali. Ia melihat Hana tersenyum, tampak beberapa orang memperhatikan Hana yang ia yakini sedang mengajarkan mereka sesuatu. Tama terus mencari informasi mengenai Hana dari teman-teman SMAnya. Hingga terdengar kabar bahwa sekolahnya akan mengadakan reuni. Tanpa pikir panjang Tama langsung kembali dan menitipkan Sarah pada adiknya. Bahkan beberapa hari sebelum acara reuni Tama sudah memesan tiket pesawat dan langsung terbang ke kampung halamannya.

Bertahun-tahun Tama menanti saat-saat bertemu Hana. Hatinya hancur mengetahui Hana akan segera menikah dengan kekasihnya. Ditambah dengan Hana yang sudah terlanjur membencinya.

Tama kembali menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia terus teringat dengan kata-kata Hana. Ia sadar apa yang ia katakan tentang Sarah sudah sangat kelewatan. Ia menyesalinya.

Dengan kesabaran dan kasih sayang, Tama terus menemani Sarah yang kondisinya semakin memperlihatkan kemajuan. Sarah akhirnya membuka mata setelah lebih dari 10 tahun koma. Tama meneteskan air matanya, memandangi Sarah dan memeluknya seraya meminta maaf. Adiknya yang menyaksikan mereka kembali bersama tidak kalah bahagianya dan ikut menangis lega.

"Jangan mencari bahagiamu pada orang lain, temukan bahagiamu pada dirimu sendiri."


Comments