[Part 3] Aruna Bersama Ibuk


"Perbuatan jahat tak sepantasnya dibalas dengan kejahatan pula"


"Ibuk, tadi di sekolah Jun bikin Aru marah."

"Kenapa marah, Aru?"

"Jun ambil buku Aru. Terus dilemparnya buku Aru ke tempat sampah. Aru marah, jadi Aru lempar juga tas Jun ke luar kelas."

"Seharusnya Aru bertanya kenapa Jun membuang buku Aru. Bukan malah membalas Jun, nak."


Ibuk mengambil salah satu buku yang ada di rak buku. Aru sudah sikat gigi dan membasuh kaki dan tangan. Bersiap untuk tidur. Ibuk mengambil buku yang bercerita tentang Seekor kucing dan ayam.

-----

Di suatu pagi yang cerah, Pak Ayam, warga desa yang sangat rajin bersiap untuk berangkat bekerja. Bahkan sebelum matahari menyapa, Pak Ayam sudah bersiap dan berjalan dengan langkah ringan sambil menyenandungkan lagu kesukaannya. Diwaktu yang sama, terlihat Pak Kucing yang masih tertidur pulas di atas ranjang tidur kesukaannya. Pak Kucing mendengkur sangat keras hingga terdengar oleh Pak Ayam yang lewat di depan rumah Pak Kucing. Hingga saat Pak Ayam pulang, hari sudah mulai gelap. masih terdengar suara Pak Kucing mendengkur keras.

Keesokan harinya, seperti biasa pada hari libur, Pak Ayam membersihkan halaman rumahnya. Pak Ayam tersenyum lebar saat semuanya terlihat bersih dan rapi.

"Hei, Pak Ayam! Apa yang kau kerjakan sampai membuat kegaduhan pagi-pagi begini?" Pak Kucing, terlihat berjalan keluar menuju rumah Pak Ayam. Pak Kucing marah dan berteriak pada Pak Ayam yang sudah mengganggu tidurnya.

"Pagi? Ini sudah siang, Pak Kucing. Maaf jika memang sudah mengganggu. Tapi apakah tidak sebaiknya kau bersihkan halamanmu yang kotor itu. Lihat! Daun menumpuk dan berserakan dimana-mana." Pak Ayam menunjuk halaman rumah Pak Kucing yang berantakan.

"Ah, berisik! Ini halaman rumahku! Dan berhenti membuat keributan!" Pak Kucing masuk kembali ke dalam rumahnya dengan langkah kesal dan membanting pintunya.

Pak Ayam hanya menghela napas dan bersabar, masuk ke dalam rumahnya dan menyiapkan sarapan.

Pak Ayam melihat ke luar jendela. Terlihat halaman rumah Pak Kucing yang kotor dan tercium aroma tidak sedap. Sudah beberapa kali Pak Ayam lapor kepada kepala desa, tapi Pak Kucing belum juga membersihkan halaman rumahnya.

Kesabaran Pak Ayam sudah habis. Karena tidak kuat dengan aroma yang sangat mengganggu hingga tercium ke dalam rumahnya, Pak Ayam mengambil sapu dan beberapa peralatan. Jika Pak Kucing tak ingin bersih-bersih. Maka tak apa kali ini Pak Ayam membantunya. Mungkin saja Pak Kucing memiliki kegiatan yang jauh lebih penting di dalam sana.

Ketika malam hari semua warga terlelap, Pak Kucing bangun dari tidurnya dan bersiap untuk berburu di halaman rumahnya. Betapa terkejut Pak Kucing mendapati halaman rumahnya terlihat kosong. Pak Kucing menggeram dan melihat ke arah rumah Pak Ayam, "Ini pasti ulah Si Ayam yang cerewet."


"Astaga! Apa yang...." Pak Ayam terkejut melihat rumahnya dirusak dan halaman rumahnya juga berantakan. Sampah bertebaran dimana-mana.

"Selamat pagi, Pak Ayam!" Pak Kucing muncul dari balik pagar rumahnya dan tersenyum puas.

"Pak Kucing! Apa ini semua ulah Pak Kucing?"

"Oh. Halaman rumahku sudah bersih dan rapi. Aku malas membereskannya jika kukotori lagi. Kau kan tidak suka halaman rumahku yang kotor. Tadi malam seru sekali berburu dirumahmu. Kupikir karena Pak Ayam suka bersih-bersih jadi aku tidak perlu repot merapikannya kembali. Terima kasih banyak Pak Ayam."


Pak Ayam tak habis pikir dengan apa yang telah dilakukan Pak Kucing. Padahal dia sudah membantunya. Setelah beberapa hari, Pak Ayam tak lagi mau berurusan dengan Pak Kucing. Hingga suatu malam, Pak Ayam mendengar suara teriakan minta tolong dari depan rumahnya. Pak Ayam berlari keluar dan mendapati Pak Kucing terluka. Sepertinya terluka saat mengejar buruannya. Pak Ayam diam sejenak.

"AH! Sakit! Kakiku!" Pak Kucing mengaduh.

Pak Ayam masih terdiam melihat Pak Kucing kesakitan. Kemudian kembali berlari kecil untuk segera menolong Pak Kucing. Pak Ayam membawa Pak Kucing masuk ke dalam rumahnya dan mengobati luka Pak Kucing.

"Kau tidak keasl padaku, Ayam?"

"Tentu saja aku kesal. Tapi aku tidak membencimu sampai harus meninggalkan yang sedang membutuhkan bantuan." Pak Ayam selesai membalut luka Pak Kucing dan memberinya minuman hangat.

Malam itu, untuk pertama kalinya Pak Ayam dan Pak Kucing mengobrol bersama dan menceritakan kegiatan masing-masing. Pak Kucing akhirnya minta maaf karena selalu menyusahkan Pak Ayam. Tak lupa ia berterima kasih karena sudah menolongnya. Sejak saat itu Pak Ayam dan Pak Kucing menjadi dekat dan saling membantu satu sama lain.

-----

"Ibuk, kenapa Pak Ayam mau menolong Pak Kucing?"

"Karena kita memang seharusnya saling membantu, Aru."

"Tapi Pak Kucing sudah  merusak rumah Pak Ayam."

"Perbuatan jahat tidak seharusnya dibalas dengan perbuatan jahat pula, Aru."

"Aru benci Pak Kucing! Sama seperti Jun, padahal sudah Aru bantu tapi dia malah melempar buku Aru ke tempat sampah."

"Hmm... Kalau begitu Aru bisa menjadi seperti Pak Ayam. Tetap membantu Jun dan saling bicara. Dengan begitu Aru bisa tahu kenapa Jun membuang buku Aru. Dan setelahnya kalian bisa menjadi lebih dekat. Seperti Pak Ayam dan Pak Kucing tadi, saling membantu."

"Tapi Aru sudah terlanjur sebal dan benci Jun."

"Aru, membenci seseorang itu lebih melelahkan daripada melakukan perbuatan baik."

"... Iya, ibuk. Besok Aru akan tanya Jun."


"Membenci lebih melelahkan daripada melakukan perbuatan baik."

Comments