"Anak kecil sekali pun bisa menjadi kuat dan berani."
Halo teman-teman, namaku Aruna. Aru suka ibuk.
Kata ibuk, Aru paling cantik kalau tersenyum. Tapi Aru lebih sering menangis daripada tersenyum. Itu karena Aru ... penakut. Juga karena Aru hanyalah anak kecil.
Aru ingin cepat besar supaya tidak lagi jadi penakut, seperti ibuk. Ibuk tak pernah takut pada apapun. Ibuk akan langsung tahu apa yang harus dilakukan ketika aku merasa takut. Ibuk selalu bilang, anak anak kecil sekali pun bisa menjadi kuat dan berani. Karena semua itu ada didalam pikiran kita. Sebenarnya Aru tak begitu mengerti apa maksudnya, hanya saja itu tetap terdengar hebat bagi Aru.
Suatu hari Aru pergi ke pasar bersama ibuk. Pergi ke pasar adalah salah satu aktivitas bersama ibuk yang paling Aru sukai. Banyak hal yang bisa dilihat disana. Selain orang-orang yang sibuk berlalu lalang dan menawar barang belanjaan, beraneka ragam buah, sayur serta ikan juga menarik jika dilihat langsung. Terkadang Aru juga mencoba menyentuh mereka.
Aru sebenarnya bukan anak nakal. Hanya Aru ingin tahu banyak hal. Sampai lupa waktu dan tempat. Ibuk selalu menggenggam erat tangan Aru. Katanya supaya Aru tidak tersesat.
Saat Aru dan ibuk tiba di tempat penjual sayur langganan ibuk, Aru melihat sesuatu yang menarik di ujung jalan. Berwarna-warni, terbang kekanan dan kekiri. Aru belum pernah melihat balon yang seperti itu. Bentuknya sangat lucu, seperti karakter kartun kesukaan Aru. Ibuk masih sibuk memilih sayur yang akan dibeli. Tapi Aru sangat ingin melihatnya dari dekat.
Tak berapa lama, ibuk melepas tangan Aru beberapa detik untuk mengambil dompet yang ada di tas. Karena sudah tidak sabar, Aru berlari ke arah penjual balon. Baru beberapa langkah Aru berlari, Sekeliling Aru tampak penuh sesak. Orang-orang terus melangkah dengan tergesa-gesa tanpa melihat ke depan. Tiba-tiba Aru ingin menangis. Aru tidak bisa bernapas. Aru ingin ibuk. Balon-balon tadi juga sudah tak terlihat dari arah Aru berdiri.
Aru kembali melihat ke sekeliling. Mengambil napas dalam-dalam dan mengeluarkannya sekaligus. Aru menahan air mata yang sudah menggenang dikelopak mata. Teringat akan pesan ibuk untuk menjadi berani. Dan ketika itu, pandangan Aru bertemu dengan salah satu penjual, "kenapa, dik? Kamu tersesat?"
"Huwaaaa..."
"Loh. Dik, kok nangis? cup, cup... Sini minggir dulu kesini. Jangan ditengah jalan gitu. Nanti tertabrak orang-orang yang lewat."
"Huuuu... Aru mau ibuk."
"Iya. Jangan nangis. Nanti dibantu cari ibunya. Ibunya namanya siapa?"
Paman penjual sayur menggendong Aru dan memberikan sebotol susu kepada Aru. Sambil menenangkan Aru, paman itu terus bercerita dan menanyakan alamat tempat tinggal Aru, lalu mengumumkannya lewat pengeras suara yang dimiliki oleh salah satu pedagang yang ada di pasar. Sekali, dua kali, masih sambil menggendong dan terus menghibur Aru. Air mata Aru tak lagi mengalir, sudah digantikan oleh senyuman. Aru tak lagi takut. Ada banyak orang yang membantu Aru.
Satu jam Aru bermain dengan paman dan bibi yang ada di pasar. Mereka sangat baik dan terus membuat Aru tertawa. Salah satu dari mereka juga memberikan balon yang Aru lihat sebelumnya. Aru sangat senang. Aru berlari-lari kecil saking senangnya, bibi penjual ikan mengejar Aru di belakang.
"Aru!"
"Ibuk!"
Aru berlari ke arah ibuk. Aru senang bisa melihat ibuk lagi. Ibuk lalu berterima kasih kepada paman dan bibi yang sudah membantu Aru.
Diperjalanan pulang Aru bercerita pada ibuk tentang bagaimana Aru menjadi kuat dan berani. Sekarang Aru mengerti maksud ucapan ibuk saat itu. Lagipula tak ada yang harus ditakuti karena kita tidak sendiri. Akan selalu ada orang-orang baik di sekitar kita. Jika saat itu Aru hanya menangis dan takut, Aru tidak tahu apa bisa melihat ibuk lagi. Tapi karena Aru mau mencoba dan berusaha tetap kuat, Aru berani bicara pada paman penjual sayur dan bisa bertemu ibuk lagi.
Ibuk tersenyum lebar mendengar cerita Aru. Ibuk bilang kalau akan selalu menyenangkan bertemu orang-orang baru dan merasakan pengalaman baru, asal kita kuat dan berani.
"Aru!"
"Ibuk!"
Aru berlari ke arah ibuk. Aru senang bisa melihat ibuk lagi. Ibuk lalu berterima kasih kepada paman dan bibi yang sudah membantu Aru.
Diperjalanan pulang Aru bercerita pada ibuk tentang bagaimana Aru menjadi kuat dan berani. Sekarang Aru mengerti maksud ucapan ibuk saat itu. Lagipula tak ada yang harus ditakuti karena kita tidak sendiri. Akan selalu ada orang-orang baik di sekitar kita. Jika saat itu Aru hanya menangis dan takut, Aru tidak tahu apa bisa melihat ibuk lagi. Tapi karena Aru mau mencoba dan berusaha tetap kuat, Aru berani bicara pada paman penjual sayur dan bisa bertemu ibuk lagi.
Ibuk tersenyum lebar mendengar cerita Aru. Ibuk bilang kalau akan selalu menyenangkan bertemu orang-orang baru dan merasakan pengalaman baru, asal kita kuat dan berani.

Comments
Post a Comment