Untukmu (For You)



Aku melihatnya, sedang duduk di bangku taman. Menghadap ke danau yang ada di taman itu. Dia tampak begitu cantik, sangat cantik bahkan. Dengan gaun putih yang menyelimuti tubuh mungilnya. Beberapa helai rambutnya terurai, terbang tak beraturan tertiup angin. Perlahan aku melangkah ke bangku tempat ia duduk.


“Hei.” Ku sentuh pundaknya pelan.

“…Hei.” Dia menoleh ke arahku. Ada jeda beberapa detik sebelum dia menjawabku.

“Kau baik-baik saja?” Aku duduk di ujung bangku, meletakkan tanganku di senderan lengan.

“… Entahlah. Aku hanya … sedikit gugup.” Ia kembali menatap danau, lebih tepatnya udara kosong. Tatapannya jauh kedepan. 

“Itu wajar. Semua hal, pada awalnya memang membuat kita gugup. Karena ini yang pertama kali.” Aku tersenyum, dan mengikuti arah pandangannya. Menatap udara kosong.

“…” Untuk beberapa menit hening. Tak satupun dari kami yang berbicara. Hanya terdengar suara angin, dan beberapa daun yang gugur tertiup angin.

“Hei. Kau ingat saat hari pertama kita bertemu?” Dia menoleh ke arahku. Tersenyum. Sangat manis.

“Ya. Tentu saja…” Aku membalas senyumnya.


          Tentu saja aku ingat. Bagaimana aku bisa lupa. Dan aku sangat beruntung bisa mengenalmu. Saat itu kita sama-sama tak mengenal siapapun. Sama-sama mengenakan kawat gigi, kaca mata dan berseragam putih abu-abu. Kau yang masih sama mungilnya seperti dulu. Senyummu yang selalu menjadi andalan ketika kau membuatku kesal. Suaramu yang selalu membangunkanku tengah malam hanya karena sedih setelah menonton film. Bagaimana aku bisa melupakan itu semua. Kau yang setiap hari tak pernah absen menceritakan kekesalanmu karena anak-anak perempuan dikelasmu selalu membicarakanmu di belakang. Sungguh tak ada satu momen bersamamu yang ku lupakan.


“Kau masih sama seperti dulu. Kau tahu?”

“Seperti apa? Setampan pangeran?” Aku menjawab asal. Merapikan jasku.

“Hahaa… Bukan. Tapi ku akui kau memang tampan.” Aku senang bisa melihatnya tertawa lepas seperti itu.

“Lalu apa?”


“Kau selalu ada untukku. Kapanpun dan dimanapun. Sekarang pun juga begitu. Kau ada disini, disaat aku merasa gugup.”

“… Aku selalu bisa menemukanmu dimanapun kau berada.”

“Hei. Itu curang.” Dia kesal. Dan aku sangat suka saat melihatnya sedang kesal.

“…” Kembali hening. Aku melemaskan tubuhku. Bersandar pada bangku. Aku hanya ingin menikmati momen ini.

“Maukah kau meyakinkanku? Seperti dulu yang kau lakukan setiap aku ragu akan sesuatu.” Dia menyentuh tanganku lembut.

“Maksudmu?” Aku tidak yakin pasti apa maksudnya. Tapi aku menyukai sentuhannya.

“Pernikahan ini? Aku takut ini bukan pilihan yang tepat. Apa aku akan bahagia? Apa kau akan bahagia? Apa kita semua akan bahagia?”


       Aku melepaskan tangannya dari tanganku. Memegang kedua pundaknya dan menariknya perlahan untuk berdiri. “Hei. Pernikahan ini tidak dipersiapkan hanya dalam semalam. Dan kau masih bisa tertawa hari ini, itu artinya kau bahagia. Aku? Tentu saja aku bahagia. Kau bahkan terlihat sangat cantik hari ini. Bagaimana aku tidak bahagia?”


“Terima kasih, Mark.”


 ---         ---


       Hari itu aku mengantarmu kepadanya, aku melepaskan genggamanmu untuknya. Dan hari itu menjadi hari terakhirku menjadi yang selalu ada untukmu. Bukan karena aku tak bisa, bukan karena aku sudah tak ingin, tapi karena masaku sudah habis. Kau sudah bersamanya. Dia yang lebih menyayangimu. Dia yang lebih bisa membahagiakanmu. Dia yang lebih berani dan dengan yakin mengajakmu ke jenjang pernikahan. Tidak. Aku tidak membencinya karena telah merebutmu, dia juga salah satu sahabatku. Lagipula dia tidak bisa dibilang ‘merebutmu dariku’, karena kau tak pernah benar-benar menjadi milikku. Aku hanya menyesali diriku yang begitu pengecut. Yang selama ini merasa bahwa hanya dengan berada didekatmu saja sudah cukup bagiku. Disini aku berdiri. Menjadi salah satu dari sekian banyak tamu undangan yang hadir. Bertepuk tangan bersama untuk pasangan yang sedang berbahagia. Kini kau telah resmi menjadi milik seseorang. Dan orang itu bukan aku. Senyummu mengembang. Manis. Seperti biasa. Kau terlihat sangat bahagia. Begitu juga dengan pria yang ada disebelahmu, betapa beruntungnya dia memilikimu. Semua orang yang ada disini juga terlihat sangat bahagia. Aku? Jika kau tanya aku. Ya. Aku bahagia. Aku (harus) bahagia, dan aku bahagia (untukmu). 

Comments