"Tidakkah dia merasa penampilannya aneh? Tetapi itu yang membuatku semakin penasaran"
■□ □ □ □ □■
Aku mendapat tugas dari salah satu dosen, yang mengharuskanku untuk pergi ke perpustakaan. Dan aku baru mengunjungi perpustakaan kampus setelah dua tahun menjadi mahasiswa. Ya. Perpustakaan bukan termasuk tempat favoritku. Sangat membosankan. Tapi, ini semua demi tugas. "Hmm... Lumayan..." kataku setelah memasuki ruang penitipan barang. Aku mengambil beberapa buku dan duduk di salah satu sudut perpustakaan. Tak kusangka perpustakaan ini penuh dengan mahasiswa. Hampir tak ada bangku yang kosong. Entah memang karena suka membaca di perpustakaan atau mereka sama seperti ku, karena tugas kampus.
"Maaf, tapi ... ini tempatku." Seorang wanita berambut pendek dengan kaca mata yang hampir memenuhi wajahnya menghampiriku.
Susah payah aku mencari tempat kosong. Kupikir itu hanya akal-akalan dia. Tapi ternyata memang ada beberapa buku yang masih terbuka di tempat aku duduk. Kenapa aku tidak menyadarinya. "Ah. Maaf maaf, tadi saya ga liat ada buku disini." Aku berdiri dan kembali membawa buku-buku yang ku ambil tadi. Merepotkan sekali. Tempat lain sudah penuh. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang ku kenal. Aku malas mencari-cari tempat lagi, ditambah dengan buku-buku menyebalkan ini. "Tempat lain udah penuh. Boleh saya gabung disini?" Aku memutuskan untuk kembali ke tempatku semula.
"..." Tidak ada jawaban. Dia hanya menoleh. Matanya sama sekali tak melihat ke wajahku.
"Halo... Mbak, saya disini. Boleh gabung? Saya ga akan berisik kok." Aku melambai-lambaikan tangan. Berharap mendapat jawaban.
"... I-Iya. Boleh ..." Dia nampak sedikit terkejut.
Aku duduk berhadapan dengannya. "Thanks ya..." Dia sama sekali tidak merespon. Terus membaca dan sesekali mencatat di bukunya sendiri. Aku tidak biasa membaca buku setebal ini. Belum lagi jumlahnya yang tidak hanya satu. Ini semua membuatku bosan. Dan mengantuk. Aku kembali melihat ke arah wanita yang ada di depanku. Setelah kuperhatikan, penampilannya sangat, bagaimana aku harus menjelaskannya? Dia memakai kaos berwarna abu-abu dengan ukuran berkali-kali lipat dari tubuhnya dan celana panjang berwarna cokelat yang juga terlihat kebesaran. Sepertinya bukan miliknya. Rambut pendeknya terlihat kusut, seperti tidak pernah disisir selama berbulan-bulan. Ditambah dengan kacamata itu. Aku tak habis pikir. Apa dia tidak pernah berkaca sebelum keluar rumah? Kupikir itu sudah yang terburuk. Namun saat aku melihat ke bawah, mataku membulat melihat sepatu yang dia gunakan. Oxford shoe berwarna cokelat dan putih dengan tali yang di ikat sembarangan. Mungkin dia sedang terburu-buru saat mengikatnya. Kaos kakinya terlihat dari sela-sela celananya yang digulung. Warnanya berbeda, antara kanan dan kiri. Aku mencoba fokus kembali ke buku. Tapi aku lebih penasaran dengan wanita yang ada di depanku. Tidakkah dia merasa penampilannya aneh?
Aku tidak mendapatkan apa-apa. Bahkan buku-buku itu tidak sempat kubaca semua. Layar laptopku masih putih bersih. Hanya ada satu garis yang terus berkedip-kedip. Kuputuskan untuk kembali lagi keesokan harinya.
+++
Kupastikan setidaknya satu paragraf menghiasi layar laptopku. Perpustakaan nampak lebih lengang dari hari sebelumnya. Aku datang lebih pagi hari ini. Setelah mendapat tempat duduk, aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruang baca. Dia ada disana. Ditempat kemarin kami duduk. Sangat fokus pada buku yang ia baca.
Dia sungguh bukan tipeku. Tapi entah mengapa dia menarik perhatianku. Penampilannya begitu, unik. Masih dengan sepatu yang sama, kali ini dia memakai baju terusan yang menutupi lututnya dan sweater rajut berwarna khaki. Itu membuat kaos kakinya terlihat sangat jelas. Berbeda. Kanan dan kiri. Atau mungkin itu memang style-nya. Tanpa sadar senyum mengembang diwajahku.
Empat jam sudah kuhabiskan waktu di perpustakaan. Aku berhasil mendapat dua paragraf dari beberapa buku yang telah kubaca. Kembali kuarahkan pandanganku ke perempuan unik itu. Ah, aku benar-benar harus tahu namanya. Aku tidak tahu harus memanggilnya apa. Dia sangat terburu-buru. Sepertinya dia ada kelas. Gerakannya terlihat kikuk. Dia memasukkan semua buku dan peralatan tulisnya dengan asal kedalam tas yang sediakan khusus oleh perpustakaan. Aku mendengus menahan tawa. Sungguh hiburan yang pas setelah suntuk membaca buku-buku yang menyebalkan.
+++
Hari ke-tiga, empat, lima. Sudah dua minggu ini aku jadi semakin sering mengunjungi perpustakaan. Bahkan setelah tugas penelitianku selesai. Dan hal pertama yang selalu kulakukan adalah memastikan apakah dia berada disana. Ditempat biasa, dengan Oxford shoe nya, dan kaos kaki yang tak senada. Aku membuka laptop. Hari ini kuputuskan untuk berkenalan dengannya. Paling tidak bertukar nama.
Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Dia masih belum terlihat. Seharusnya dia sudah ada ditempatnya sejak pagi tadi. Hari ini dia tidak ada jadwal pagi. Aku yakin sekali karena selama dua minggu ini aku sudah menyesuaikan jadwalnya.
Hari ini kelasku kosong. Dan aku memutuskan untuk menunggu sampai ia datang. Tapi sudah lebih dari lima jam, ia tak kunjung datang. Aku semakin gelisah. Apa dia baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu? Ini sudah ke-tujuh kalinya aku mengelilingi perpustakaan untuk mencarinya, tetapi tetap tidak menemukannya. Perpustakaan juga sebentar lagi tutup. Sepertinya hari ini dia memang tidak datang. Ini sudah melebihi waktu biasa ia berkunjung. Dengan perasaan kecewa aku mematikan laptop dan bersiap untuk pulang. Hari ini aku tidak melihatnya. Tidak apa. Masih ada hari esok.
+++
Kelasku selesai sebelum jam makan siang. Teman-teman sudah menungguku di kantin yang ada di gedung sebelah. Aku ditugaskan untuk mengumpulkan tugas ke ruang dosen dan baru keluar setelah setengah jam tertahan oleh salah satu dosen yang terus mengajakku berdiskusi. Langkahku semakin cepat setelah menerima pesan dari mereka yang sudah sangat tidak sabaran.
Brukk
"Ah!" Isi tasnya berserakan di lantai.
"Maaf, maaf. Saya ga liat ada ..." Aku terhenti saat melihat ke arah kakinya. Aku yakin tak ada seorang pun yang memakai sepatu itu dengan kaos kaki yang tak senada ̶ ̶selain dia.
"....." Dia sibuk memasukkan barang-barangnya yang berhamburan di lantai.
"Hai... ini..." Aku tersenyum dan memberikan buku catatannya, kurasa itu buku yang selalu ia gunakan untuk menulis di perpustakaan.
"....." Dia terus menunduk dan pergi begitu saja.
+ To be Continued +

Comments
Post a Comment