Pelayan kafe datang dengan membawa secangkir minuman hangat, ini sudah minuman kedua yang kupesan. Tak lupa ia memberi senyuman ramah padaku. Aku duduk menghadap jendela yang menyuguhkan hiruk pikuk jalanan ibukota yang terlihat dari lantai dua kafe. Hujan deras tak menghalangi orang-orang untuk tetap melanjutkan aktivitas masing-masing. Jam menunjukkan pukul sembilan di layar laptop. Aku bukan orang yang terbiasa bepergian selarut ini, kupikir tak akan ada banyak orang yang datang kesini. Tapi ternyata jumlah pengunjung kafe jauh lebih ramai saat malam hari. Aku terus melihat ke layar ponsel yang kuletakkan di samping laptop. Berharap orang yang memintaku datang segera memberi kabar. Beberapa menit berlalu, seseorang menepuk pundakku pelan dari belakang.
"Duh, maaf. Aku terjebak macet. Sudah lama menunggu?" Wanita cantik berambut pendek yang tak lain adalah sahabatku, Bena. Kami sudah berteman sejak kami berusia 13 tahun. Dia memintaku untuk datang ke kafe tempat kami biasa bertemu saat membicarakan hal penting. Meski aku tahu penting baginya belum tentu penting bagiku. Itu karena Bena memiliki sifat suka melebih-lebihkan segala sesuatunya.
"Tidak apa. Aku baru satu jam disini. Biasanya aku harus menunggu dua sampai tiga jam." Aku mematikan laptop dan menutupnya.
"Ha. Lucu sekali, Hana." Bena meletakkan jaketnya di sandaran kursi, mengangkat satu tangannya dan tersenyum pada salah satu pelayan. Ia memesan iced coffee kesukaannya. Tak peduli cuaca maupun tempatnya, ia selalu memesan iced coffee. "Maafkan aku, Hana. Kau tahu perbaikan jalan di persimpangan dekat kantorku? Entah kapan mereka akan menyelesaikan pekerjaan itu. Hhhh." Ia menata rambutnya yang basah terkena air hujan saat ia berlari memasuki kafe.
"Jadi, apa hal pentingnya?" Aku tersenyum dan meminum cokelat panasku. "Kau membuatku keluar malam-malam, bahkan saat hujan seperti ini."
"Oh, benar. Aku tahu kau sibuk, Han. Tapi rasanya hal ini harus kusampaikan secara langsung." Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja, menarik napas dan melepaskannya perlahan. Kedua alisnya berkerut, ia diam sejenak. "Hmm... Ada acara reuni SMA akhir tahun ini. Dan aku sudah bilang bahwa kita akan ikut." Wajahnya terlihat seperti anak kecil yang habis melakukan kesalahan.
"Aku tidak masalah. Kenapa kau harus terlihat ketakutan seperti itu?"
"Ah, itu... Masalahnya... Kau masih ingat Tama? Naraya Tama?" Napasku seakan tertahan, tanpa sadar tanganku sudah mengepal dan kepalaku mulai terasa pusing. Bena melihat reaksiku, sejenak ragu untuk melanjutkan kalimatnya. "Hmm... Hana, dia... belum lama ini dia menghubungiku. Katanya dia akan datang ke sini untuk ikut reuni, sekaligus menemuimu. Dia minta kontakmu tapi aku tidak memberikannya. Dia bilang akan datang dua atau tiga minggu lagi." Aku masih diam, mencoba menenangkan diri. "Han, are you okay?" Bena meraih tanganku.
13 tahun lalu, pengumuman pergantian kelas baru.
"Hanaa... Kenapa? kenapaaaa?! Oh. Aku harus ke ruang kepala sekolah dan meminta agar aku bisa kembali sekelas denganmu. Harus!" Bena terus merengek dan mengikuti Hana ke kelasnya.
"Itu karena kamu malas belajar. Memohon pada kepala sekolah sama saja kamu dengan suka rela menjadi yang terakhir di kelas."
Bena melihat ke sekeliling dan baru menyadari jika Hana berada di kelas unggulan tempat dimana anak-anak dengan peringkat tinggi berada. Sebenarnya anak-anak di kelas baru Bena tidak terlalu buruk, hanya saja ia sudah terbiasa bersama Hana dimanapun dan kapanpun semenjak mereka berseragam putih biru. Bel tanda masuk berbunyi. Bena berjalan menuju kelasnya sambil merentangkan kedua tangannya tanda tak rela harus berpisah dengan sahabatnya. Hana hanya bisa tersenyum dan segera mengeluarkan buku dari dalam tasnya.
"Hei, bangku ini kosong?" Salah seorang murid yang baru datang menunjuk kursi yang ada di sebelah Hana.
"Ayo, ayo... cepat duduk, pelajaran sudah dimulai!"
Hana baru mau menolak tetapi terlanjur menutup mulutnya kembali karena pak guru menyuruh semua murid untuk duduk. Mau tak mau Hana mengiyakan pertanyaan murid tadi. Sebenarnya Hana berharap untuk bisa duduk sendirian dibangku depan, namun nyatanya jumlah murid yang ada di kelasnya sesuai dengan jumlah bangku yang tersedia. Bukan hanya merasa canggung dengan orang baru, ditambah murid yang duduk disebelahnya adalah murid laki-laki.
"Hai. Naraya Tama, panggil aja Tama." Sambil menyodorkan tangannya, dia tersenyum. Hana menoleh sesaat, menganggukkan kepalanya dengan canggung dan kembali fokus pada papan tulis. Sadar tangannya tak juga disambut oleh si lawan bicara. Tama menautkan kedua tangannya dan mengayun-ayunkannya ke kanan lalu ke kiri seolah memenangkan suatu penghargaan. Selama pelajaran berlangsung Hana hanya fokus pada papan tulis dan guru yang ada di depannya. Sementara Tama, ia malah sibuk dengan pensil yang terus menerus patah setiap kali ia memasukkan isi kedalamnya. Setelah berkali-kali mencoba dan terus saja gagal, ia menyerah lalu ganti menulis dengan pulpen yang ada di tempat pensil. Baru saja beberapa kata, Tama kembali sibuk dengan tempat pensilnya. Kali ini ia mencari correction pen dan menyadari miliknya masih ada di kamarnya setelah semalam ia gunakan.
"Bisa tolong hentikan, mengganggu konsentrasi!" Hana menyodorkan correction pen miliknya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Tama dan kembali menulis.
"...oh, maaf. Aku biasa menulis dengan pensil karena lebih mudah dihapus... hmm... tau ga? Pensilku rusak... dan ternyata aku lupa bawa ini... aku baru ingat semalam masih ada di atas meja belajar, hahaa..." Hana heran dengan Tama yang terus bercerita --tentang hal yang bahkan tak ia tanyakan kemudian menoleh dan meletakkan pulpennya. Matanya tertuju pada pensil mekanik milik Tama. Ia meraihnya dan memutar kepala pensil. Setelah mengetuk-ketuk kepala pensil tadi ke atas bukunya beberapa kali, ia memasangnya kembali dan memasukkan isi pensil baru miliknya. Tanpa berkata apa-apa Hana meletakkan pensil Tama tepat diatas buku Tama. Tama diam sesaat, tersenyum dan berterima kasih pada Hana yang kemudian lanjut mencatat tulisan yang ada di papan tulis.
Sinar matahari pagi masuk melalui sela-sela jendela kamarku. Aku baru tertidur tiga jam lalu. Bena sukses membuatku terjaga dengan 'berita pentingnya'. Akan lebih baik jika percakapan semalam hanyalah mimpi. Kenapa nama itu muncul lagi setelah lama tak terdengar kabarnya. Nama yang pernah membuat hariku bahagia, nama yang pernah mengajarkan kekuatan dan keberanian untuk menjadi diriku sendiri, namun sekaligus menjadi nama yang paling kubenci sejak beberapa tahun lalu. Dengan secangkir kopi panas ditangan kanan dan selembar roti bakar di mulut, aku melangkah menuju studio kecilku. Banyak yang harus kuselesaikan dalam beberapa bulan ke depan. Termasuk sejumlah workshop sebelum akhir tahun.
Kurang lebih empat jam lamanya aku menyelesaikan beberapa gambar yang sudah mendekati deadline. Hal yang paling kusuka dari pekerjaan ini adalah saat aku melihat coretan-coretan warna yang menutupi sebagian tanganku, rasanya sungguh membuatku tenang. Tanpa sadar senyumku mengembang. "Berapa kali pun aku melihatnya, senyum itu tetap menyeramkan, Hana." Dira menutup pintu dan berjalan menuju meja kerjanya.
"Apa? Siapa yang senyum?" Entah sejak kapan Dira berdiri disana. Aku bahkan tak mendengarnya masuk. Dira adalah orang yang membantuku dalam menyusun semua jadwal maupun keuanganku, bisa dibilang dia adalah seorang manajer. Entah apa jadinya jika tidak ada Dira. Bertemu klien-klien baru, project kerjasama, workshop di luar kota atau bahkan luar negeri, semua itu bisa terlaksana karena keramahtamahan dan keahlian Dira dalam berkomunikasi dengan orang asing. "Berapa workshop lagi yang tersisa?" Rasanya aku tidak ingin melakukan apapun seminggu ini.
Dira membuka buku jurnalnya. jari telunjuknya bergerak mencari catatan yang ia tulis rapi sehingga mudah dibaca dan diingat. "Dua untuk bulan ini dan satu untuk bulan depan. Setelah itu kau bebas, tuan putri." Nada bicaranya seakan menunjukkan bahwa ia adalah orang bijak sedunia.
Aku harus segera kembali membangkitkan semangatku. Orang-orang akan kecewa jika datang dan melihatku mengajar dengan suasana hati yang suram. "Aku sudah menyelesaikannya, tolong kirim email untuk mereka dan kabari aku lagi. Oh, seminggu ini aku tidak akan ada di studio jadi kau bisa melakukan pekerjaanmu di rumah jika kau mau." Aku menunjuk lukisan yang baru kuselesaikan dan meletakkan beberapa kertas di atas mejanya, bergegas untuk pergi dan menghilang dibalik pintu.
Saat bosan atau mengalami kebuntuan dalam mencari ide biasanya aku menghabiskan waktu dengan duduk di taman menikmati pemandangan, pergi ke book café yang tak jauh dari rumah, atau hanya menyibukkan diri di rumah, dalam artian tidur seharian penuh.
Pukul empat lewat sepuluh menit. Sesampainya dirumah aku mendapati ada 11 panggilan tak terjawab. Belum sempat jariku menggeser layar, ponsel kembali bergetar dan tertulis nama Bena disana. Aku tersenyum tipis. "Hana! Kamu tahu berapa kali aku mencoba menghubungimu?!?!!" Suara Bena memenuhi seluruh ruangan, menggema di telingaku. Aku menjauhkan ponsel dari telinga. Mendengus geli.
"Aku memang pernah bilang suaramu merdu, Ben. Tapi tidak saat berteriak."
"Aku tidak sedang ingin bercanda, Han. Kau mungkin masih bisa bercanda sekarang, tapi tidak setelah tahu pagi tadi Tama mengirimiku pesan bahwa dia akan tiba lusa!"
"..."
"Halo? Han?"
"... Ben. Kau tahu aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya. Lusa aku tidak akan ada di rumah, ada workshop di luar kota."
"Oh. Ya. Bagus. Aku hanya merasa kau harus mengetahuinya karena... kau tahu... kupikir kalian bisa menyelesaikan masalah kalian dan ..."
"Bena, aku baik-baik saja. Tidak ada yang harus diselesaikan, aku tidak mau dengar apa-apa lagi tentang dia. Itu hanya masa lalu dan aku sudah melupakannya. Maaf, Ben."
"Kau belum melupakannya, Hana. Baiklah. Aku mengerti, maafkan aku."
Bena sudah memutus panggilan sejak semenit lalu. Sedangkan aku tetap bergeming dengan ponsel yang masih menempel di telingaku. Aku memang belum melupakannya. Tapi aku selalu mencoba. Dan di saat aku sudah mulai sedikit melupakannya, nama itu kembali terdengar. Aku tidak bisa menyalahkan Bena, dia benar tentang aku yang belum melupakannya. Dan aku benci mengakuinya.
Lima menit lagi 'watercolour' workshop akan segera dimulai. Dira masih sibuk berkeliling meja memastikan tidak ada satupun yang terlupa. Entah sudah berapa kali workshop yang kami adakan, aku masih selalu gugup disaat orang-orang akan memasuki ruangan. Tapi semua perlahan hilang ketika kelas berlangsung dan melihat wajah-wajah antusias mereka yang ingin mempelajari teknik yang kuajarkan. Dengan melihat senyum mereka, aku jadi lebih bersemangat untuk membagi ilmu yang kumiliki. Tak jarang kami bertukar pengetahuan dan pengalaman masing-masing.
Setelah acara selesai, aku langsung kembali ke hotel. Masih ada seminggu lagi sebelum workshop selanjutnya diadakan. Aku memutuskan untuk langsung menuju ke lokasi selanjutnya. Mengingat aku sudah cukup sering mengadakan workshop di kota ini. Hanya butuh satu setengah jam dengan menggunakan pesawat untuk sampai ke lokasi workshop selanjutnya.
Aku mengangkat kedua tanganku, meregangkan tubuh, mempersiapkan diri untuk tidur satu setengah jam kedepan. Ku lihat lagi layar ponsel sebelum kualihkan menjadi mode terbang karena penerbangan sebentar lagi akan dimulai. Bena masih belum menghubungiku atau sekedar mengirim pesan setelah panggilan dua hari lalu. Biasanya dia akan langsung memenuhi layar ponselku dengan puluhan pesan yang ia kirim setiap aku berada di luar kota, menyemangatiku.
"Kau menunggu telepon seseorang?" Dira yang duduk disampingku sedikit terganggu karena aku terus memencet tombol on/off ponsel. Aku menggeleng, memasukkan kembali ponsel ke dalam kantong sweaterku. Sepertinya Bena masih marah. Lagipula jika aku menghubunginya lebih dulu hanya akan kembali merusak moodku nantinya. Aku akan segera menemuinya sesampainya dirumah nanti.
"Ra, apa yang akan kau lakukan jika kau membuat seseorang kesal padamu?" Mataku terpejam dan membiarkan tubuhku bersandar di kursi pesawat.
"Biarkan saja dulu. Mungkin Bena butuh waktu." Dira menjawab sekenanya.
"Hei, aku tidak pernah bilang itu Bena." Aku melirik Dira kesal.
"Ayolah, siapa lagi orang yang akan membuatmu gelisah seperti itu jika bukan Bena. Terkadang aku jijik dengan hubungan kalian. Menggelikan."
"Kau menyebalkan, Ra."
Satu setengah jam berlalu. Tanpa terasa pesawat sudah mendarat di tempat tujuan dan akhirnya kami tidak jadi tidur karena asyik mengobrol. Dira kembali sibuk dengan ponselnya, menghubungi hotel tempat kami menginap. Sesampainya di hotel aku langsung terlelap. Aku bahkan tak mendengar Dira mengetuk pintu kamarku berkali-kali. Begitu bangun aku langsung mandi dan berencana turun untuk makan malam. Aku terpaksa pergi sendiri karena Dira sudah terlanjur menemui salah satu orang yang ia kenal, yang kebetulan rumahnya tak jauh dari lokasi hotel tempat kami menginap.
Dengan bermodal aplikasi maps, aku mencari tempat makan yang menyajikan makanan khas kota setempat. Hanya diperlukan waktu lima menit jika berjalan dari hotel. "Maaf, anda Hana kan? Designer yang terkenal itu?" Salah seorang remaja yang berpapasan denganku nampak kegirangan. Aku hanya tersenyum mengiyakan. Ia meminta tanda tangan dan foto bersama dengan teman-temannya. Mereka berterima kasih dan kembali melanjutkan perjalan. Aku tertawa kecil. Terkenal dia bilang? Orang-orang memang banyak memanggilku dengan sebutan designer, illustrator, guru menggambar, pelukis, apa pun itu yang berhubungan dengan seni. Tapi aku tak menyangka aku merupakan seorang yang terkenal. Padahal aku belum pernah sama sekali muncul di televisi.
Tiba di Nusantara Resto, aku memesan makanan yang direkomendasikan pelayan dan segelas wedang jahe untuk menemani dinginnya malam. Aku melihat sekeliling, interior bergaya vintage dengan beberapa sentuhan industrial pada beberapa material, membuat Resto tampak berkelas, namun tak lantas membuat harga makanan dan minumannya melambung drastis. Menu yang disajikan pun cukup beragam. Satu hal yang kusadari, ternyata tak banyak orang yang datang malam itu, cenderung sepi. Bagus, pikirku. Mungkin karena sekarang sudah lewat jam makan malam. Dira pasti akan menertawakanku jika tahu aku makan sendirian di sebuah resto, terlebih di kota yang baru pertama kudatangi.
Pelayan datang dengan membawa pesanan yang membuat mataku berbinar, tak lupa wedang jahe panas. Aku menoleh, kulihat secarik kertas yang diberikan kepadaku. Pelayan tadi menunjuk salah satu sudut ruangan. Kulihat seorang pria melambaikan tangannya dengan tatapan genit. Aku tersenyum jijik. "Maaf, aku sudah punya kekasih." Pelayan tadi terlihat malu dan segera meninggalkan mejaku. Dia berbisik pada pria diujung sana. Aku merubah posisi duduk, memunggungi pria aneh tadi dan menikmati makanan yang telah dihidangkan.
Malam semakin larut, Dira sudah menghubungiku untuk segera kembali ke hotel. Ada beberapa hal yang harus dibicarakan mengenai workshop selanjutnya. Baru beberapa langkah meninggalkan resto, seorang pria menarik pergelangan tanganku dan aku hampir terjatuh. Betapa terkejutnya aku saat menyadari pria tersebut adalah orang yang memberiku tatapan genit di resto tadi. Aku menarik tanganku dengan sekuat tenaga. Sia-sia, badannya jauh lebih besar dariku. Oh, Tuhan. Aku hampir berteriak, namun seseorang menepuk pundakku dari belakang. "Disini kau rupanya, aku mencarimu daritadi." Pria aneh tadi langsung pergi menjauh dengan senyum yang digantikan oleh makian dan tatapan sinis. Rahangku mengeras. Kurasakan panas di kedua mataku, tak percaya dengan apa yang kulihat malam itu. "Ternyata benar kau. Bagaimana kabarmu, Hana?" Suara yang tak asing ditelingaku, senyum yang dulu selalu kurindukan, bahkan tatapan matanya masih sama seperti dulu. Naraya Tama. Dia benar-benar kembali. Tapi bagaimana dia bisa ada disini. Aku mencoba mencerna keadaan, menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Tak lama terdengar seorang wanita paruh baya memanggil Tama dari kejauhan dan saat Tama mencari asal suara, tanpa pikir panjang aku menghilang dari tempatku berdiri, berlari sekuat tenaga.
Lampu tanda sabuk pengaman harus dikenakan, telah padam. Pesawat mendarat setelah sebelumnya harus mengalami delay selama dua jam. Penerbangan yang memakan waktu lebih dari sepuluh jam lamanya membuat Tama merindukan daratan. Terik matahari yang menusuk, keramah tamahan orang sekitar, senyumnya melebar ketika menyadari bahwa dirinya telah kembali. "I'm home."
Kepalanya mulai berputar, matanya sedikit kabur, Tama hanya sempat beristirahat dua jam di rumah. Bahkan ia belum membuka isi kopernya. Tama dipaksa keluar oleh ibunya dengan alasan bahwa sang ibu rindu padanya. Ibunya terlalu bahagia melihat putra kesayangannya yang telah lama merantau, akhirnya pulang. Untung saja ada pak Mus, sopir pribadi mereka. Tama tak harus lelah menyetir. Melihat wajah bahagia sang ibu membuat Tama tak sanggup untuk menolak, apalagi mengeluh. Ia menyerah dan menuruti kemanapun ibunya ingin membawanya.
"Nak, lihat disana! Sebelumnya tempat itu sangat tak terurus. Tapi sekarang setiap sore selalu dipenuhi warga. Bahkan hanya untuk duduk-duduk santai." Ibunya menunjuk ke arah taman kota yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Tama tersenyum melihat pemandangan yang ada di taman. Ada yang sedang membaca buku, ada yang berlarian mengejar burung-burung, ada pasangan yang saling berbisik kemudian tertawa, sampai orang tua yang membawa anak mereka piknik di bawah pohon. Memang bukan pemandangan baru baginya. Karena di kota tempatnya merantau jauh lebih banyak taman kota. Hanya saja disini suasananya lebih terasa hangat.
Pak Mus menunggu di area parkir taman sementara Tama dan ibunya berkeliling dengan menaiki becak. Ia merasa seperti anak kecil yang dibawa ibunya jalan-jalan. Bahkan ibunya tak pernah lepas menggenggam tangannya dari semenjak mereka naik ke atas becak.
"Kau tidak banyak berubah, nak." Ibunya mengusap punggung tangan Tama penuh kasih sayang.
"Ibu juga, masih tetap cantik seperti saat terakhir kita bertemu." Tama mengedipkan sebelah matanya.
"Ibu sudah tua, ayahmu saja sering mengejek keriput ibu. Tidak tahu wajahnya sendiri sudah dipenuhi keriput."
"Haha... Ibu masih tetap cantik di mataku." Tawanya pecah, ia bisa membayangkan wajah menyebalkan sang ayah saat mengejek ibunya.
"Kau paling bisa membuat ibu senang. Coba saja ayahmu bisa seperti ini setiap hari pada ibu."
"Itu karena aku mirip dengan ibu. Memang ibu pernah bilang ayah tampan?"
"Ayahmu memang tidak tampan, untuk apa dipuji segala?"
"Bagaimana ini, orang-orang bilang wajah ini kudapat dari ayah? Apa itu berarti aku tidak tampan dimata ibu?" Ia menangkupkan kedua tangannya dibawah dagu dan memasang wajah sedih.
"Kau tampan, nak. Sangat tampan." Ibunya diam sejenak dan menatap kedua mata Tama. "Bagaimana keadaan Sarah, nak?" Tama sudah menduga pertanyaan itu akan muncul. Tapi ia tetap merasa enggan membahasnya.
"... Dia, baik-baik saja, bu."
Deretan lampu jalan mulai menerangi dinginnya kota malam itu. Setelah mampir untuk makan malam di salah satu resto kesukaan ibunya, Tama berjalan mencari minimarket terdekat untuk membeli beberapa keperluan. Ia mengikuti arahan yang sebelumnya telah diberikan sang ibu. Saat ia hendak berbelok di salah satu persimpangan, ia melihat sosok wanita yang dirasa sangat dikenalinya. Samar-samar Tama melihatnya berjalan keluar dari sebuah resto yang lain. Tama ingin meyakinkan dirinya dan tanpa sadar sudah berlari menyeberangi jalan, senyumnya mengembang. Ia berhenti sejenak dan mempercepat langkahnya begitu melihat sosok pria bertubuh tambun menarik dan memaksa wanita itu. "Disini kau rupanya, aku mencarimu daritadi." Tama menarik tangan pria tambun tadi, meremasnya sekuat tenaga. Dengan wajah kesal dan kesakitan, pria itu pergi menjauh. Tama kembali fokus pada sosok yang diyakininya adalah Hana. "Ternyata benar kau. Bagaimana kabarmu, Hana?" Tama tak dapat menyembunyikan wajah bahagianya bahkan ia hampir memeluk Hana. Berbeda dengan lawan bicaranya yang hanya mematung, tak berekspresi. Dalam beberapa detik keduanya saling tatap, tanpa bersuara. Tama hendak maju selangkah, kakinya terhenti oleh suara ibunya yang memanggil dari seberang jalan. Ia mencari sumber suara dan melambaikan tangannya. Namun saat ia kembali berbalik, Hana sudah tak ada ditempatnya. Pergi entah kapan. Ibu Tama terus memanggil karena malam semakin larut dan Pak Mus sudah menunggu tak jauh dari tempat ibunya berdiri. Mau tak mau ia harus pulang, lagipula ia tak tahu kemana arah Hana pergi.
Seminggu berlalu semenjak pertemuan singkat dengan Tama malam itu, aku duduk di salah satu sudut ruangan. Memandangi cangkir kosong yang telah habis kuminum sedari tadi. "Kau baik-baik saja?" Dira datang dengan buku jurnal dan cangkir kopi masing-masing di kedua tangannya. Aku mengiyakan dengan pandangan masih kepada cangkir kosong di depanku. "Hei, kau bahkan tak fokus selama workshop tadi berlangsung. Seharusnya kau merasa bersalah pada orang-orang yang sudah bersusah payah untuk mengikuti kelasmu karena kuota yang terbatas. Aku kecewa padamu, Hana. Sebenarnya apa yang mengganggumu?" Aku menatap Dira, diam. Aku bahkan tak mengerti apa yang sedang ada dikepalaku. Aku terlalu lelah. Lelah untuk mencoba mengerti. Bagaimana dia bisa tersenyum lebar seakan tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. "Aku sudah membeli tiket penerbangan tercepat hari ini, sesuai keinginanmu. Sebaiknya kau punya alasan bagus untuk semua ini. Aku sudah meminta maaf pada orang-orang yang membantu kita hari ini. Kuharap kau bisa lebih profesional, Han." Dira bangkit dari kursinya dan berjalan keluar. Aku tidak bisa berpikir jernih saat ini. Aku tahu Dira dan orang-orang sudah bersusah payah menyiapkan acara ini agar berjalan sebaik mungkin. Dan aku mengacaukannya dengan membubarkan kelas 30 menit lebih awal. Bahkan saat sesi foto bersama di akhir acara aku tak ada di tempat.
Tepat setelah aku memutar kunci dan memasuki rumah, ponselku berbunyi. Aku tidak sempat melihat nama yang muncul di layar dan menggesernya dengan asal. Suara bising terdengar dari ujung telepon.
"Halo? Hana? Han, kau bisa mendengarku? Duh, kenapa mereka berisik sekali..."
"Bena?"
"Han, maaf aku baru menghubungimu. Keadaan kantor sedang kacau."
"Ah. Kupikir kau marah."
"Apa?! Han, aku tidak bisa mendengarmu. Sebentar, aku akan pindah ke beranda."
"Ya."
"Kau bisa mendengarku sekarang?"
"Ya." Aku bisa mendengar jelas setiap kata yang keluar dari Bena sejak awal, hanya saja dia tidak bisa mendengar suaraku dari ujung sana.
"Hana, apa maksudnya Tama melihatmu?! Kalian sudah bertemu? Semalam dia menghubungiku, aku terlalu sibuk mengetahui ada panggilan masuk. Jadi dia mengirimiku pesan."
"... Ya."
"HANA! Dari tadi kau hanya bilang ya, ya dan ya! Apa yang terjadi?" Bena kembali berteriak.
"Ya, kami bertemu, Ben. Dia tiba-tiba muncul entah dari mana. Dia tersenyum padaku dan, dan... hhh..." Dadaku terasa sesak. Napasku tak teratur, tangisku pecah.
"Han, kuharap aku berada disampingmu dan memelukmu sekarang." Suaranya melembut.
"Aku baik-baik saja, Ben. Aku hanya butuh istirahat. Aku langsung kembali begitu workshop selesai." Aku mencoba mengatur napas agar kembali normal.
"Baiklah, hubungi aku jika kau butuh sesuatu."
Cahaya lampu masuk melalui celah-celah jendela. Aku menatap kosong langit-langit kamar. Mencoba menata kembali kekacauan yang terjadi di kepalaku. Aku sudah memutuskan untuk hidup bahagia. Kehadirannya tak berarti apa-apa bagiku. Setidaknya itu yang ingin selalu kuyakini. Dan akan selalu seperti itu. Ada hal yang jauh lebih penting yang harus kulakukan.
"Han, kau suka kaktus?" Tama tampak memilih-milih tanaman disalah satu booth pameran yang diadakan di sekolah mereka.
"Entahlah, aku tidak terlalu terertarik dengan hal-hal seperti itu."
"Hana hanya peduli pada makanan." Bena menyambar dari belakang.
"Hei!" Hana mengerutkan kedua alisnya, tak terima.
"Ayo, Han. Kita bisa kehabisan es krim yang disebelah sana. Antriannya sudah sangat panjang. Kenapa sih dia selalu mengikutimu. Padahal kulihat temannya banyak." Bena menarik Hana dan pergi meninggalkan Tama seorang diri.
"Entahlah, tapi menurutku dia sedikit mirip denganmu, Ben."
"Hei! Itu sangat tidak sopan, Han. Dan lagi aku jadi tidak punya waktu berdua denganmu."
"Kau pikir aku milikmu?" Hana mengejek Bena dan berlari mendahului Bena.
"Han! Tunggu aku!"
Tama yang merupakan murid pindahan yang tak mengenal siapapun di sekolah barunya memutuskan untuk menjadikan Hana sebagai temannya. Terlebih karena saat itu mereka duduk sebangku. Hana awalnya merasa terganggu karena sifat Tama yang sangat berbanding terbalik dengannya. Menurutnya, Tama adalah Bena versi yang lebih parah. Hana akhirnya megijinkan Tama menjadi teman dengan syarat tidak mengganggunya selama jam pelajaran berlangsung. Semenjak itu pertemanan mereka dimulai. Meski pada akhirnya Tama sangat dikenal oleh anak-anak sekolah karena sifatnya yang mudah bergaul, tapi ia paling suka mengganggu Hana. Bena mau tak mau juga harus melihat Tama dimanapun Hana berada. Mereka seperti remaja pada umumnya, belajar bersama, bermain bersama dan saling menguatkan satu sama lain. Namun, pada satu waktu Tama merasa ada yang berbeda ketika melihat Hana. Bahkan mereka akan canggung jika hanya berdua di satu ruangan. Bena menyadari hal tersebut dan mencoba menerima bahkan ia membantu Tama untuk menyatakan perasaannya pada Hana. Sayangnya pada saat hari yang telah ditentukan, Tama membatalkan rencana dengan alasan adiknya masuk rumah sakit dan ia harus segera pergi ke sana. Saat itu Bena bisa memaklumi keputusan Tama, karena baginya keluarga juga pilihan yang paling utama. Namun lama kelamaan Bena merasa kesal karena ia merasa Tama selalu menomorsekiankan Hana apapun yang terjadi. Ia merasa Hana tak pernah menjadi prioritas Tama. Apalagi saat mereka berusia sembilan belas tahun, Hana kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan pesawat. Tama sama sekali tak muncul dan lebih memilih menemani Sarah yang sedang berulang tahun.
Malam itu adalah hari terakhir Hana mendengar kabar mengenai Tama. Bena datang membawa sebuah surat dan tanaman kaktus, yang seharusnya Tama berikan saat menyatakan perasaannya pada Hana. Bena menceritakan semuanya dan ia terkejut mengetahui Hana yang ternyata memiliki perasaan yang sama dengan Tama.
"Han, dia pergi untuk menjaga Sarah! Katanya Sarah tidak punya siapa-siapa selain dia. Jika kau mau aku bisa membuang tanaman bodoh ini! Lagipula ini semua hanya omong kosong." Bena meledak-ledak.
"Tidak, Ben. Terima kasih." Hana masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Bena yang tak tega melihat Hana kembali terluka.
Aku terbangun dari mimpi buruk. Aku menatap ke arah jendela. Hujan turun cukup deras. Bagus, bahkan sekarang dia muncul dimimpiku. Aku mengusap wajah dan bangkit dari tempat tidur, menuruni anak tangga. Dira sudah berada di ruang makan, sibuk dengan laptopnya.
"Kau baru bangun, nona?"
"Ya." Aku menuang kopi ke dalam cangkir yang berada tak jauh dari Dira.
"Sudah merasa lebih baik? Atau kau mau aku membatalkan workshop terakhirmu tahun ini, yang tepatnya adalah lima hari lagi?" Dira masih sibuk mengetik dan memasang wajah datar.
"Mungkin lebih baik seperti itu." Aku melirik Dira, menunggu reaksi darinya.
"Hana! Kau gila?!"
"Aku hanya bercanda, Ra. Aku janji tidak akan mengulang kesalahan yang sama seperti sebelumnya. Maafkan aku, Ra." Aku memeluknya dari belakang.
"Oke. Sekarang lepaskan. Lama-lama kau jadi seperti Bena, Han. Menggelikan."
"Kau sudah mengirim merchandise untuk orang-orang yang kemarin ikut workshop, Ra?"
"Ya. Berkat seseorang aku jadi sangat sibuk di pagi buta begini. Bahkan langit ikut menangis bersamaku!." Dira mengangkat kedua tangannya ke arah jendela. Diikuti suara tawaku yang merasa gerakan Dira sangatlah lucu.
Hari-hari berjalan seperti biasanya. Aku terlalu sibuk mengurus materi serta kebutuhan lain untuk workshop akhir tahun. Acaranya sedikit berbeda dari workshop-workshop sebelumnya. Dira menambahkan sesi tanya jawab mengenai buku pertamaku yang akan rilis tahun depan, sesi merangkai bunga dan sedikit games. Juga ada hadiah menarik bagi murid yang beruntung. Aku tidak begitu setuju dengan adanya games yang mana pastinya aku harus ikut serta dalam permainan. Tapi karena Dira terus saja mengungkit sikapku saat workshop sebelumnya, mau tak mau aku meyetujuinya.
Hari yang dinanti tiba, Bena mengirim semangatnya melalui pesan dan buket bunga yang cukup besar. Aku tersenyum, seperti biasa, dia mengirimiku bunga yang dia sukai. Dira memanggilku untuk segera masuk ke dalam. Acara kali ini diadakan di studio milikku, yang tak lain adalah sebuah ruangan yang tidak terlalu luas dibelakang rumah. Setelah semua murid datang, aku memasuki ruangan dengan senyum terbaikku. Aku terkejut mendapati satu wajah yang membuat senyum diwajahku hilang begitu melihatnya.
"Ra, apa maksudnya ini?"
"Apa? Kenapa menarikku keluar?"
"Kupikir tidak ada nama laki-laki di daftar peserta."
"Oh, dia menggantikan adiknya dan aku sudah konfirmasi dengan orangnya, adiknya juga sudah mengirimiku email. Ini biasa terjadi bukan? Kau juga tidak terlalu peduli dengan hal-hal seperti ini. Kenapa kau berlebihan, Hana!" Aku kembali mengintip ke dalam ruangan dan mendapati semua orang telah berbisik satu sama lain, menanyakan apa yang sedang terjadi. "Kau mengenal orang itu?"
"Ah... Tidak. Maksudku ...."
"Sudahlah, lebih baik kita masuk sekarang." Dira kembali menarikku masuk ke dalam.
Tama melambaikan tangannya padaku. Aku bertingkah seolah tak melihatnya dan memulai acara. Aku menjelaskan beberapa teknik penggunaan kuas dan cat air pada peserta yang datang. Mereka begitu serius, menyimak dengan seksama.
Setelah arahan selesai diberikan, Tama mengangkat sebelah tangannya, memasang wajah menyebalkan. Aku hendak melewatinya tapi Dira sudah memelototiku dari kejauhan. Aku mengatur emosi dan pikiranku, berjalan ke meja Tama, menanyakan hal yang belum ia mengerti. "Hei. Aku bahkan tak tahu cara memegang alat ini." Tama berbisik padaku. Aku kembali menarik napas panjang mencoba untuk tetap tenang. Aku mencontohkannya dengan tanganku dan Tama mencoba menirunya. Ia kemudian mencelupkan kuas ke dalam gelas berisi air dan mengambil salah satu warna yang telah disediakan di atas palet. Aku gemas melihatnya mengambil dalam satu sapuan penuh, menyebabkan kertas bergelombang dan hampir bolong. Tama menatapku, mengharapkan bantuan. Aku berani bertaruh dia sengaja melakukannya. Dengan kesabaran tinggi aku mengambil kertas baru, mengulang yang sudah kujelaskan di depan kelas tadi. Terpaksa aku menarik tangannya dan mengusapkan kuas ke atas kertas dengan perlahan. Tama kembali menatapku. "Kau terlihat cantik, Hana." Aku melepaskan tanganku dari tangannya. Kembali menuju mejaku.
Sesi berikutnya adalah merangkai bunga, kali ini yang memberi arahan adalah Dira. Dira sudah menekuni seni merangkai bunga sejak setahun lalu tapi ia belum berani memulai workshopnya sendiri. Untuk sesi ini aku yang mengusulkannya kepada Dira. Dira terlihat sangat bersemangat. Aku ikut tersenyum, belum pernah aku melihat wajah bahagia Dira yang seperti itu. "Kupikir kau tak menyukai tanaman?" Tama sudah berdiri disampingku, entah kapan ia menukar posisi dengan orang sebelumnya. Aku mengabaikannya dan mencoba fokus pada arahan Dira. "Bukan seperti itu, kalau kau meletakkannya disana bunga yang ada dibelakangnya jadi tak terlihat, Han." Tama yang kini sudah berada dibelakangku menata kembali rangkaian bunga yang kubuat. Aku merasakan dingin di sekujur tubuh, tak bisa bergerak. Dira dari kejauhan kembali memelototiku, namun kini dengan senyum menggodanya. Tersadar aku langsung melangkah mundur, mendorong Tama yang ada dibelakangku dan pergi meninggalkan ruangan.
Aku melihat bayanganku sendiri dari pantulan cermin kamar mandi. Wajahku sudah seperti kepiting rebus, entah karena marah atau malah tersipu. Aku masih tak mengerti dengan perasaanku sendiri. Bukankah seharusnya aku marah, mengingat apa yang telah dilakukannya padaku dulu. Tapi disisi lain aku ingin melupakan kejadian masa lalu. Kalian tahu saat kalian ingin melupakan masa lalu, mencoba untuk memaafkan sehingga lambat laun masa lalu itu akan hilang dengan sendirinya. Karena jika kita tak bisa memaafkan masa lalu, ingatan itu akan selalu terperangkap dikepalamu, entah saat kau sadar atau tidak.
"Kau baik-baik saja?" Tama berdiri di samping pintu kamar mandi.
"Ya." Aku melewatinya dan merapikan rambut.
"Han, tunggu." Tama menarik pergelangan tanganku lembut.
"Bisa tolong lepaskan, aku tidak ingin orang-orang salah paham melihat kau melakukan ini." Aku mendorong tangannya.
"Aku tidak peduli mereka mau berpikir apa."
"Tapi aku peduli."
"Han, tunggu. Kau tidak rindu padaku? Setelah sekian lama kita tidak bertemu, setidaknya beri aku pelukan selamat datang. Hei, bahkan seminggu lalu aku memohon pada adikku untuk ikut acara ini agar aku bisa bertemu denganmu, Hana. " Tama merentangkan kedua tangannya kedepan. Aku sudah tidak bisa menahannya. Kepalaku rasanya mau pecah, aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Namun karena tak ingin mencuri perhatian aku menahannya.
"Maaf. Seperti yang kubilang tadi, aku tak ingin orang-orang salah paham. Aku harus segera kembali. Acara selanjutnya pasti sudah dimulai dan terima kasih sudah jauh-jauh datang untuk mengikuti acara ini." Pandanganku kabur, air mata mulai menggenang di kelopak mataku.
Dira menarikku ke atas panggung kecil yang telah disiapkan untuk sesi tanya jawab peluncuran buku pertamaku. Orang-orang sangat antusias dan aku mencoba fokus pada acara. Aku melihat Tama yang berdiri diujung pintu memandangiku. Aku mengalihkan pandanganku kembali pada peserta yang sedang bertanya. Beberapa menit setelahnya aku kembali melihat ke arah pintu dan mendapati Tama sudah tak lagi berdiri disana. Dira menyikut lenganku. Aku menoleh, mencoba tersenyum padanya. "Apa yang kali ini kau pikirkan, nona? Setelah ini acara games, kau harus ikut apapun yang terjadi."
"Baik, permainan pertama kalian harus menggambar orang yang ada disamping kalian dengan mata tertutup. Kalian bisa meraba teman yang kalian gambar dengan tangan kalian masing-masing. Tapi hati-hati, atau kalian bisa mengenai mata teman kalian, atau sialnya malah tangan kalian masuk ke lubang hidung. Hahaa." Sesi permainan diadakan di taman belakang, Dira menjelaskan peraturan permainan menggunakan mic yang ada ditangannya. Semua orang heboh dan mulai menutup mata masing-masing. "Han, lihat orang itu. Sepertinya yang lain sudah mengakrabkan diri satu sama lain. Kau saja yang jadi pasangannya." Aku menolak keras. Dira sengaja membuat peserta dengan jumlah ganjil, dan aku mau tak mau harus ikut bermain. "Ayolah. Kau tak akan membuat pria malang itu bermain seorang diri bukan?"
Aku berdiri disamping Tama dan menutup mataku dengan kain hitam yang diberikan Dira padaku. Ketika peluit tanda permainan dimulai berbunyi, aku masih dengan posisi awal. "Han, permainannya sudah dimulai. Kenapa diam saja?" Tama meraih tanganku dan meletakkannya diatas wajahnya. Aku merasa aneh dan langsung menariknya kembali. Aku mundur selangkah dan meraba udara mencari kanvas yang disediakan untuk menggambar. Tama kembali membantu mengarahkan tanganku. Setelah peluit tanda waktu habis berbunyi, kami melepas penutup mata. Ada yang tertawa, ada yang kesal karena wajahnya terlihat aneh digambar dan ada yang sampai terjatuh dari kursinya karena bercanda satu sama lain. Aku terdiam memandangi kanvas yang ada didepan mataku. "Kurasa kau masih sangat mengingatku, Han. Bahkan kau tak menyentuh wajahku sama sekali tadi." Tama tersenyum lembut, senyum yang sangat kukenal saat kami berseragam putih abu-abu. Aku hampir terpengaruh oleh tatapannya, cepat-cepat aku meninggalkannya. Mendekati Dira yang sibuk menertawakan gambar peserta lain.
Permainan-permainan selanjutnya berjalan sesuai rencana. Semua orang terlihat senang dan sangat menikmati acara. Hana sejenak melupakan kekesalannya pada Tama. Sampai akhirnya ia tersadar tangannya saling bertautan dengan Tama, senyumnya memudar. Dira memberikan pengarahan untuk kembali ke dalam. Pengumuman peserta yang beruntung akan dibacakan di sela-sela makan siang bersama.
Aku duduk dibangku taman yang tak jauh dari studio, tempat workshop diadakan. Menghela napas lega. Hari ini terasa sangat panjang bagiku.
"Kau tidak ikut makan siang, Han?" Tama datang dan duduk disampingku.
"Aku akan pergi sekarang." Aku bangkit dari kursi.
"Hana, kenapa kau terus menghindariku?"Tama ikut bangkit dari kursi, kali ini ia tak menyentuhku sedikitpun.
"Bagus kalau kau menyadarinya. Seharusnya tak usah pedulikan aku." Aku berbalik, menatap wajahnya.
"I missed you, Han. Melihat reaksimu seharian ini membuatku berpikir kau juga merasakan hal yang sama. Apa aku salah?"
"Ya. Kau salah. Aku hanya mencoba bersikap baik pada muridku, tidak lebih. Maaf jika kau mengartikannya lain." Aku mengepalkan kedua tanganku, mencoba berbicara setenang mungkin.
"Hana. Maaf sudah meninggalkanmu tanpa kabar. Kuharap kita bisa memulai hubungan kita lagi. Seperti dulu?"
"Lagi? Kita bahkan belum pernah memulai apapun. Hubungan seperti apa yang kau maksud?" Suaraku mulai meninggi.
"Aku mencintaimu, Han. Kau tahu itu. Tak pernah seharipun aku tak memikirkanmu." Tama maju selangkah.
"... Dan kau tiba-tiba muncul dan baru mengatakannya sekarang. Setelah sepuluh tahun?!"
"Hana..."
"Kau pikir aku semudah itu? Dulu kau memintaku terbuka padamu, kemudian aku menceritakan semua masalahku padamu. Kau memintaku untuk percaya pada diriku sendiri. Mencintai diriku sendiri, kemudian aku melakukannya. Kau selalu tersenyum padaku. Bahkan setiap malam kau menemaniku yang kesulitan untuk tidur. Kemana kau saat aku gagal masuk tes perguruan tinggi, kau bahkan tahu aku mati-matian belajar untuk itu. Terlebih saat kedua orang tuaku pergi meninggalkanku selamanya. Aku hancur, Tam. Aku membenci diriku sendiri, aku membenci semua yang ada didunia ini. Tapi bodohnya saat itu aku masih berharap kau akan datang menghiburku. Kemudian kau muncul setelah sepuluh tahun lamanya dengan entengnya tersenyum, lalu apa? 'bagaimana kabarmu?' ha?" Suaraku serak. Air mataku tak terbendung, turun membasahi pipi.
"Hana, aku minta maaf. Maafkan aku, Han." Aku lengah, Tama sudah memelukku yang terisak seperti anak kecil. Aku tak ada tenaga untuk melepaskan pelukannya dariku. Dan aku membiarkannya memelukku selama beberapa menit.
Ponselku bergetar, satu pesan masuk terlihat di layar utama. Aku melihat satu nama yang langsung membuatku menyadari kenyataan. Aku mendorong Tama pelan. Mengusap air mataku yang hampir kering. Aku hendak berbalik namun lagi-lagi Tama menahanku. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Han." Untuk kesekian kalinya aku mencoba mengabaikannya. "Bisa kita memulainya dari awal, Han? Aku janji tuk membuatmu selalu bahagia."
"Aku harus pergi sekarang."
"Hana, kumohon jawab aku."
"Aku tidak bisa, Tama."
"Kau masih belum memaafkanku?"
"Aku masih dan selalu mencoba memaafkanmu."
"Lalu apa yang menahanmu?"
"Aku mencintai seseorang. Kami akan menikah tahun depan." Seketika genggaman Tama terlepas dari tanganku. Dia membiarkanku pergi. Dan kami tak berbicara sepatah katapun sampai acara hari itu selesai.
Aku berdiri di depan pintu kedatangan. Hujan siang itu sangat lebat, beberapa penerbangan bahkan dibatalkan. Kulihat seseorang melambai dari kejauhan. Aku tersenyum, balas melambaikan tangan padanya. Dia berlari kecil dan memelukku lembut. "Kau pasti lama menunggu ya?" Aku menggelengkan kepalaku. "Wah, hujannya deras sekali. Aku yang menyetir, berikan kuncinya padaku."
Aku menggeleng untuk kedua kalinya. "Kau pasti lelah setelah penerbangan empat belas jam. Biar aku saja." Aku menarik salah satu tasnya, bergegas menuju tempat parkir.
"Atau kita bisa menunggu sampai hujan sedikit reda." Dia mengambil kembali tasnya dari tanganku. Kami akhirnya memutuskan untuk singgah di salah satu kafe yang ada di bandara, menunggu hujan reda. "Kau terlihat baik-baik saja tanpa aku, Hana. Aku sedih sekali." Dia mencodongkan posisi duduknya ke depan dan memasang wajah sedih yang menyebalkan.
"Kau mau aku bagaimana? Berlari memelukmu sambil berteriak dan menangis?" Aku menikmati cokelat panas yang ada di depanku. "Kau yang memintaku jangan menghubungimu selama menyelesaikan S3. Aku hanya menuruti keinginanmu, Tuan Arkana Davie."
"Itu yang tidak kusuka darimu, Han. Kau terlalu penurut." Arka kembali menyenderkan tubuhnya ke belakang.
"... Kau akan langsung kembali jika aku menghubungimu. Dan kau akan mengabaikan sekolahmu. Aku tak ingin mengulang 4 tahun dari awal lagi menunggumu jika kau melakukannya. Kau pikir aku senang kau tinggal sendiri disini." Arka diam, menatapku penuh arti. Dia tersenyum. "Berhenti melihatku seperti itu."
"Apa? Maksudmu aku tak boleh memandangi kekasihku yang tak pernah menghubungiku selama 4 tahun?"
"Hentikan, Arka. Atau aku akan pergi meninggalkanmu disini." Aku kembali meminum cokelat panasku, mengalihkan pandangan ke arah lain. Arka tertawa mengejek melihatku salah tingkah. Kami memang sudah berjanji untuk fokus pada kegiatan masing-masing selama 4 tahun. Arka awalnya ragu untuk melanjutkan sekolahnya ke luar negeri, tapi aku terus meyakinkannya karena tak ingin menjadi penghalang bagi karir dan cita-citanya. Dia memintaku untuk ikut, tapi aku menolak dengan alasan ingin melakukan apa yang selama ini ingin kulakukan. Saat itulah Bena mengenalkanku pada Dira, dan menemukan kesibukanku sendiri.
Keesokan harinya Arka sudah berada di depan rumahku. Aku masih tertidur lelap di kamar. Dira yang memang datang setiap hari, masuk dengan kunci yang pernah kuberikan padanya. Aku terbangun mendengar suara ketel air yang mendesis dan berjalan menuju dapur. "Kau baru bangun, nona?" Dira mengejekku, seperti biasa. Aku mengiyakan tanpa melihat ke arahnya. Dengan mata yang masih setengah tertutup aku menuang kopi ke dalam gelas. "Lihat itu, setiap hari aku harus melihatnya seperti itu. Dia pikir aku alarm baginya."
"Dia terlihat, luar biasa bagiku." Arka tersenyum melihatku yang mengenakan piyama dengan rambut berantakan.
"Hei! Apa yang kau lakukan pagi-pagi buta disini?"Aku yang terkejut, nyaris menyemburkan kopi yang ada dimulutku, bersembunyi dibalik counter.
"Pagi buta apanya, nona? Sekarang bahkan sudah jam 10 lewat. Lucu sekali nona ini."
"Kenapa kau bersembunyi, Hana? Mulai sekarang aku siap jadi alarm untukmu setiap pagi." Arka sudah duduk jongkok disampingku.
"Hana! Kudengar Arka sudah kembali apa itu benar?" Bena, seorang lagi yang memiliki kunci rumahku datang membuat kehebohan.
"Apa-apaan ini, kenapa pagi-pagi kalian sudah berkumpul disini?" Aku berdiri, diikuti Arka. Bena berteriak dan berlari menghampiri Arka. Ia memeluk Arka dengan sangat kuat. "Ben, apa yang kau lakukan?" Arka hanya melirikku dan mengangkat kedua bahunya. Bena dan Dira menatapku heran. "Apa? Kenapa kalian melihatku seperti itu?"
"Apa aku tidak salah lihat, barusan Hana seperti cemburu padamu Ben. Selamat Arka, ini sejarah baru bagimu."
"Ups. Maaf, Han. Aku hanya terlalu senang melihat Arka." Bena meletakkan satu tangannya tepat dimulutnya dan memasang wajah sok polos. "Sepertinya ditinggal 4 tahun membuat Hana sedikit posesif."
"Aku tidak cemburu."
"Hana. Barusan kau imut sekali." Arka mendorong Bena dengan asal dan menangkupkan kedua tangannya kepipiku. Dira dan Bena sudah bersiap-siap dengan posisi seperti orang mau muntah.
Akhir minggu ini Arka berencana mengajakku pergi. Sebenarnya aku ingin Bena dan Dira juga ikut bersama, tapi mereka sama-sama menolak dengan alasan tak ingin mengganggu waktu berduaku dengan Arka.
Arka sudah duduk di ruang tv, seperti janjinya, ia menggantikan Dira yang biasa menjadi alarmku setiap pagi. Aku masih sering mengalami kesulitan tidur setiap malam, dan itu menjadi alasan yang membuatku kesulitan untuk bangun pagi karena terjaga semalaman. Arka terus menekan tombol yang ada di remote tv, mencari channel yang dirasa seru untuk ditonton. Bosan tak ada acara yang menarik, Arka menaiki tangga menuju kamarku. "Boleh aku masuk, Hana?" Dia mengetuk pintu kamar. Aku mengiyakan dan dia masuk sambil tersenyum. "Kau sudah sangat cantik Hana, kenapa kau lama sekali? Aku sampai hafal apa yang dikatakan iklan-iklan di tv itu." Aku mendengus geli, mengambil tas yang ada di lemari dan siap berangkat.
Kami berjalan melewati rerumputan hijau yang terbentang sepanjang jalan. Ada banyak binatang ternak dan bunga-bunga indah disana. Arka membawaku ke sebuah tempat wisata di kaki gunung. Udara disini sangat berbeda dengan kota. Tak banyak mobil yang berlalu lalang, orang-orang sekitar banyak menggunakan sepeda sebagai alat transportasi, atau hanya dengan berjalan kaki. Sebuah toko kecil terlihat dari tempat kami berdiri. Arka sudah duluan masuk ke dalam toko, aku mengikutinya dan berdiri tepat disampingnya. Dia tersenyum padaku sambil melihat-lihat tanaman yang beraneka ragam. "Kau meyukainya, Han?"
"Hmm... Ya. Tempat ini bagus." Aku mengangguk, melihat ke sekeliling.
"Kupikir kau menyukai tanaman?" Arka nampak bingung.
"Ah... aku... Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik. Tapi disini bagus." Kali ini aku memaksakan senyum tergambar diwajahku.
"Sepertinya aku salah. Tapi aku melihat banyak tanaman di studiomu. Kupikir karena kau menyukainya." Arka menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Itu... Dira yang meletakkannya disana. Dia bilang tanaman bisa membuat suasana lebih rileks dan nyaman."
"Hmm... Aku juga melihat kaktus dikamarmu. Bahkan kulihat setiap tahun kau mengganti potnya. Terakhir kulihat coraknya tidak seperti yang tadi pagi."
"Itu... aku... aku akan segera membuangnya. Aku sudah lelah merawatnya." Aku menundukkan kepalaku, menatap lantai kayu toko. Merasa tak enak karena telah berbohong pada Arka.
"Kenapa? Kau sudah merawatnya selama bertahun-tahun, Han. Kenapa sekarang baru membuangnya? Jika aku jadi kaktus itu ... pasti akan sangat sedih. Kukira kau menyayangiku, tapi kau membuangku begitu saja saat kau bosan. Terlebih aku tidak bisa marah padamu, karena selama ini kau satu-satunya orang yang selalu menjagaku meski pada akhirnya kau membuangku yang sudah terlanjur bergantung padamu." Raut wajah Arka berubah, sinar matanya memancarkan kesedihan. Aku terkejut mendengar kalimat itu keluar dari mulut Arka, rasanya seakan dia benar-benar membicarakan dirinya sendiri. "Selama ini aku selalu berharap jadi kaktus itu, Han. Yang selalu melihatmu terlelap dan bangun esok paginya. Kurasa sekarang aku tak mau lagi jadi kaktus itu.
"Arka, aku ... sebenarnya ... " Aku tercekat, Arka tak pantas merasa seperti itu, dia terlalu sempurna jika dibandingkan dengan kaktus bodoh itu. Seketika aku menyesal tak langsung membuangnya malam itu.
"Hei! Hana, kenapa kau menangis? Aku hanya merasa kasihan pada kaktusmu. Itu pilihanmu, Han. Aku tak bisa berbuat apa-apa." Air mataku sudah jatuh membasahi pipi, Arka menyekanya dan mengusap lembut kepalaku. Aku harus segera menceritakan yang telah terjadi beberapa minggu ini, juga tentang beberapa tahun silam jauh sebelum aku mengenal Arka. Tapi aku tak tahu harus mulai darimana. Aku tak ingin menyakiti Arka, tapi disisi lain sesuatu masih mengganjal dihatiku.
Setelah lelah mengelilingi peternakan, kami singgah di sebuah kedai. Aku sedang tak berselera menyantap apapun dan hanya memesan jeruk hangat. "Kau tidak sedang diet kan, Han?" Arka menyendok nasinya ke dalam mulut. Aku tersenyum sambil menggeleng. Selama makan siang Arka banyak cerita tentang kegiatan dan kejadian-kejadian yang terjadi selama ia sekolah. Seringnya ia bercerita tentang dirinya yang menjadi bahan olok-olok teman-temannya. Mereka bilang bahwa Arka berhalusinasi mengenai kekasihnya karena aku sama sekali tak pernah menghubunginya. Begitu pun dengan teman kantor Arka. Aku hampir tidak pernah datang jika teman kantornya mengadakan suatu acara. Aku tidak terlalu senang dengan hal-hal yang seperti itu, terlalu ramai dan berisik. Arka juga tak pernah memaksaku, itu salah satu hal yang kusuka darinya.
Arka mengantarku sampai depan pintu rumah. Dari dulu, sebelum berpisah Arka selalu mencium keningku. Awalnya aku sedikit risih, tapi lama kelamaan aku memahami bahwa itu adalah caranya menunjukkan kasih sayangnya. Dia adalah pria terlembut yang pernah ku kenal. Arka melambaikan tangannya dari dalam mobil. Senyumku mengembang, sebaiknya besok aku menceritakan semuanya pada Arka, pikirku.
Hari demi hari berlalu. Tama beberapa kali mencoba menghubungiku meski tak pernah sekali pun aku membalas pesan atau menerima telepon darinya. Aku mengeluarkan semua pakaian terbaikku yang ada di lemari. Bena mengirimku pesan bahwa besok adalah hari dimana acara reuni SMA diadakan. Kebingungan dengan apa yang sebaiknya kukenakan di acara reuni seperti itu, aku meraih ponsel yang ada di atas tempat tidur dan memilih satu nama.
"Ya, Han?" Bena terdengar seperti sedang menahan sesuatu.
"Ben, kau baik-baik saja? Kenapa suaramu aneh begitu?"
"Aku tidak baik, Han. Ini sangat sakit. Uh!"
"Bena, kau tidak sedang..."
"Aaahhh..."
"Hmm. Mungkin sebaiknya kutelepon lagi nanti." Aku memasang wajah jijik sambil menutup telepon, memasukkannya ke dalam saku celana. Tak mau semakin pusing, aku meninggalkan kamar yang berantakan oleh baju-baju menuju dapur. Aku menuang sereal dan susu ke dalam mangkuk lalu menikmati sarapan dengan memandangi taman belakang.
Mangkuk sereal sudah hampir kosong. Ponselku bergetar dan Bena terdengar lebih baik dari sebelumnya. "Hana. Kau tidak berpikir yang aneh-aneh, kan? Aku tadi ..."
"Tak apa, Ben. Aku juga pernah seperti itu. Ah, akan lebih baik jika kau banyak minum air putih atau makan makanan berserat." Aku memotong pembicaraan Bena, tak mau membuatnya malu.
"Well, okay. Aku khawatir untuk hal yang tak berguna. Aku tidak sedang sembelit, Aku sedang massage di spa, hehee."
"Oh. Kupikir kau..."
"Lupakan. Ada apa meneleponku?"
"Apa yang dipakai orang-orang saat acara reuni sekolah, Ben?"
"Kau meneleponku hanya untuk itu?"
"Ya."
"Seriously!? Kau boleh memakai apapun, Hana! Aku sibuk, Han. Aku harus melakukan treatment selanjutnya.. Bye..."
Aku kembali berkutat pada pakaian yang akan kukenakan besok malam. Jawaban Bena sama sekali tak membantu. Aku memilih satu gaun yang pernah Dira belikan untukku. Setelah merapikan semua pakaian ke dalam lemari aku berbaring di atas kasur. Meluruskan badanku yang terlalu lama berdiri dan membungkuk secara bergantian. Ujung mataku menangkap kaktus yang ada di dekat jendela, menatapnya kosong. Seketika teringat kata-kata Arka saat di peternakan. Apa yang sebaiknya kulakukan padamu?
Malam acara reuni.
Aku memasuki ruangan yang sudah dipenuhi alumni. Kulihat sebagian wajah yang kukenali, namun lebih banyak yang terlihat asing dimataku. Hanya orang-orang yang pernah berada dikelas yang sama denganku yang benar-benar kuingat. Mereka semua menatapku, aku merasa canggung. Bena yang ada di salah satu tempat duduk berdiri dan menarikku agar duduk di sebelahnya. "Wah. Apa itu Hana? Benar kau, Hana? Aku ingat sekali dulu ... dimana ada Hana disitu ada Tama. Dimana ada Tama disitu pasti ada Hana. Hahaa... Kemana anak itu sekarang?" Arka yang baru saja duduk dikursi yang tak jauh dariku menatapku penuh tanya. "Hei! Panjang umur kau, Tam. Lihat! Hana yang selalu kau puja-puja berubah jadi wanita yang sangat cantik." Bena menyikut orang yang dulunya ketua kelas itu dan mengangkat kedua alisnya, menatapnya tajam. Dia nampak bingung dan tak mengerti maksud tatapan Bena.
Semakin malam suasana semakin ramai, aku lebih banyak diam dan menyimak pembicaraan mereka. Orang-orang saling tertawa mengingat masa-masa sekolah mereka dulu. Sampai tiba-tiba Romi, si ketua kelas, yang baru kuingat namanya kembali berulah. "Kupikir kau benar-benar akan menikah dengan Hana, Tam. Kau sering sekali menceritakan betapa hebatnya dia dimatamu. Oh. Aku memberinya nomor ponselmu, Han. Apa dia tidak menghubungimu?" Saking terkejutnya aku tersedak air yang sedang kuminum. Lagi-lagi aku melirik ke arah Arka, wajahnya terlihat kesal dan duduknya tak tenang. Bena yang juga menyadarinya mencubit perut gendut Romi. Dia mengaduh. Mereka semua tertawa melihat Romi kesakitan, termasuk Tama. Aku yang mendapati Arka sudah tak lagi ada di tempat duduknya, langsung berdiri meninggalkan ruangan.
Sepuluh menit sudah aku mencari Arka disekitar gedung. Aku masih belum juga menemukannya. Bahkan ia tak mengangkat panggilan dariku. Aku kembali menghubunginya, namun tetap tak ada jawaban. "Kau sedang apa, Han?" Tama muncul dari belakang, ternyata dia mengikutiku keluar dari gedung. Aku mengabaikannya dan terus berusaha menghubungi Arka. "Hana, kenapa kau tak membalas pesan ataupun telepon dariku? Aku tahu kau berbohong soal pernikahan itu untuk menghindariku, kan?" Aku masih mengabaikannya, berpura-pura tak mendengarnya. Tama berjalan mendekatiku dan menyentuh kedua pundakku. "Hana, kumohon dengarkan aku."
"Aku tidak ada waktu meladenimu, Tama." Aku menepis kedua tangannya dari pundakku dan mundur selangkah.
"Kau datang bersama orang itu?"
"Ya. Dan sekarang dia pergi mendengar leluconmu dan Romi."
"Kenapa? Apa dia belum tahu? Kau tidak pernah menceritakan hubungan kita dulu padanya? Kau takut dia juga akan meninggalkanmu, Han?"
"Berhenti bicara tentang 'kita' disetiap kata-katamu, Tama. Dan jangan pernah samakan Arka denganmu!"
"Kau mencintai dia, Han?"
"... apa maksudmu?"
"Kau mencintainya, Han?"
"... Dia datang disaat aku benar-benar terpuruk. Dia selalu memastikan bahwa aku baik-baik saja, dan karena dia aku memiliki keberanian untuk kembali berharap. Bagaimana bisa aku tidak mencintainya? Dia berbeda denganmu, Tama. Sangat. Amat berbeda." Sejenak aku ragu dengan apa yang harus kukatakan, dan semua keluar begitu saja dari mulutku.
"Itu bukan cinta, Hana. Kau hanya terbiasa dengan kehadirannya saat kau benar-benar tidak memiliki siapa-siapa. Kau hanya mencari sosok yang bisa menggantikanku dari pikiranmu dan berharap akan dengan mudah melupakanku. Ya, kan? Apa kau pernah berpikir, mungkin pikiranmu dipenuhi dia saat ini, Hana. Tapi tidak dengan hatimu." Tama menyentuh pipiku lembut, menyeka air mata yang perlahan jatuh tak terkendali.
"... Bagaimana denganmu? dengan 'kita'? Pernahkah kau berpikir dulu kita hanya saling terbiasa, dan salah mengartikannya sebagai cinta? Kau dengar apa yang tadi dikatakan Romi? Kemana-mana selalu bersama. Aku ada saat kau ada, begitu sebaliknya. Itu tidak ada bedanya, Tam."
"Hana, kumohon. Biarkan aku memperbaiki kesalahanku. Sekarang aku tak lagi harus menjaga Sarah, Han. Pihak rumah sakit mengabariku bahwa sudah waktunya untuk membiarkannya pergi. Semua sudah berakhir dan aku bisa kembali kesisimu sekarang." Tama menatapku dan tersenyum lega. Tanganku bergerak dengan sendirinya, mendarat di pipi Tama. Aku merasakan dingin di sekujur tubuhku. Merinding mendengar apa yang baru saja ia katakan.
"Kau... Kau senang mengetahui seseorang akan kehilangan nyawanya, Tama? Kau tahu, untuk sesaat tadi aku masih ragu dengan diriku sendiri karena entah hati atau kepalaku masih dipenuhi olehmu. Tapi melihatmu tersenyum seperti itu membuatku sadar dan yakin. Aku sudah melepasmu, Tam. Tak ada lagi ruang untukmu dihatiku. Tak pernah, tak pernah sekali pun aku berpikir bahwa Sarah adalah penghalang hubungan kita. Jika aku jadi Sarah aku akan sangat ketakutan berada didekatmu, Tam. Semua ini terjadi karena ulahmu sendiri! Kau hanya dan selalu mementingkan dirimu sendiri, Tama. Dulu, maupun sekarang. Kuharap aku tak lagi melihatmu di kemudian hari, Naraya Tama."
"Aku tidak bisa membiarkanmu keluar seperti ini, Hana." Arka memasang wajah serius. Hana berputar didepan kaca dan menanyakan apa ada yang salah dengan penampilannya malam itu. "Semua pria pasti akan jatuh cinta padamu, Tuan putri." Arka berlutut dan mengecup punggung tangan Hana. Hana salah tingkah, wajahnya memerah.
Hana dan Arka tiba disebuah gedung tempat acara reuni diadakan. Hana masuk lebih dulu karena Arka harus menerima telepon dari rekan kantornya. Begitu selesai, Arka masuk dan mencari kursi yang kosong. Ia bisa melihat Hana dari arah tempatnya duduk. Seseorang dengan perut buncit menyebut nama Hana dengan seorang lain bernama Tama yang tak pernah ia dengar sebelumnya. Arka yang penasaran, mengirimkan sinyal menggunakan gerakan matanya kepada Hana. Tak lama seseorang yang dipanggil Tama tadi masuk, orang-orang mulai berdiri dan menyambutnya. Arka berpendapat bahwa Tama cukup terkenal di sekolahnya dulu. Ia lalu bergantian memandangi Hana dan Tama. Hana tampak memalingkan pandangannya dari Tama, sebaliknya Tama terus memperhatikan Hana meski sibuk berjabat tangan dengan teman-temannya. Ia tak menyukai cara Tama memandangi kekasihnya. Siapa pun pasti menyadari jika Tama memiliki perasaan terhadap Hana.
Arka sudah sangat bersabar mendengar nama Hana terus diungkit dalam pembicaraan Tama dan teman-temannya. Puncaknya adalah ketika ia mendengar Tama bercerita tentang pertemuannya dengan Hana suatu malam di luar kota, ditambah dengan si buncit yang memberikan nomor Hana pada Tama. Arka semakin tak bisa menahan amarahnya dan keluar dari ruangan tersebut.
Setelah berkeliling mencari udara segar, Arka memutuskan untuk kembali ke dalam, langkahnya terhenti, samar-samar ia mendengar suara Hana di ujung lorong. Ia mencari asal suara, dan tak sengaja mendengar pembicaraan Hana dengan seseorang yang ternyata adalah Tama. "Kau mencintai dia, Han?" Arka kesal dan mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia hendak keluar dari balik dinding namun urung ia lakukan setelah mendengar jawaban dari Hana. Ia mendengus pelan, tangannya tak lagi mengepal. Ia memejamkan kedua matanya, tersenyum kecut. Kenapa kau menjawabnya dengan pertanyaan lagi, Hana? Kau bahkan tak bisa langsung mengatakannya.
Malam setelah acara reuni, Arka menjadi sedikit berbeda. Ia tak lagi datang setiap pagi ke rumahku. Hanya ada pesan singkat yang memastikan aku sudah bangun dan sarapan. Awalnya aku tak menyadari jika dia menghindariku, dia beralasan jika dirinya hanya sibuk dengan kerjaan dikantornya. Sampai suatu hari aku bertemu salah satu teman kantor Arka di sebuah mall, ia mengenaliku dari foto yang ada di meja kerja Arka. Dia memastikan agar aku tak lupa pada acara makan malam dan ulang tahun istrinya. Sebenarnya aku belum mendengar hal itu dari Arka. Aku hanya tersenyum mengiyakan.
Sampai hari ini Arka masih tak mengangkat teleponnya, meski ia menjawab pesanku, balasannya hanya seputar 'ya' dan 'tidak'. Bena menyarankan agar aku mendatangi kantornya. Tapi setiap kali aku datang, dia selalu tak ada ditempat. Setelah kupikir-pikir acara makan malam teman kantornya adalah satu-satunya cara untuk bisa menemui Arka dan menceritakan yang seharusnya dari dulu ku katakan padanya.
Aku mengaktifkan GPS ke alamat yang dikirim teman Arka melalui pesan. Meyakinkan diri dan berharap semua terselesaikan dengan baik. Aku tidak ingin Arka terus menghindariku. Aku tak bisa membiarkan kesalahpaham ini berlanjut dan melukai perasaan Arka, dia tak pantas mendapatkannya.
Aku tiba sedikit terlambat karena jarak yang lumayan jauh dan jalanan yang macet. Sampai di depan gerbang, aku diantar ke halaman belakang dan melihat Arka sedang tertawa bersama teman-temannya. Dari kejauhan si pemilik rumah sudah meneriaki Arka dan mengatakan wanitanya telah datang. Aku tersenyum canggung. Seketika raut wajah Arka berubah.
Arka terus menggeser layar ponselnya. Ia terlihat sedang berpikir keras. Teman-temannya heran melihat Arka yang tak biasanya melamun saat jam kerja. Neo, salah satu temannya mengetuk meja Arka pelan. "Halo. Kau tidak pulang? Semua orang sudah pergi." Arka menoleh dan mengedip-ngedipkan matanya. Ia nampak sedikit terkejut dan bingung. "Kau masih belum bicara dengannya?" Arka menggeleng dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kalian tidak pernah bertengkar sebelumnya. Kau bahkan tak mau menemuinya saat ia mendatangimu beberapa kali ke sini."
"Entahlah. Aku hanya merasa, selama ini hanya aku yang jatuh cinta."
"Apa maksudmu? Hei, sudah seminggu kau seperti ini. Tahun depan kalian akan menikah. Ingat itu!"
"Aku tahu..."
"Dua hari lalu aku bertemu Hana. Awalnya aku takut dia hanya orang yang mirip Hana, tapi ternyata benar dia. Aku memastikan dia harus ikut ke acara makan malam besok, dari ekspresinya terlihat jelas dia tak tahu apa-apa."
"Lagipula dia tidak suka acara yang seperti itu..."
"Kau tahu apa yang dia tanyakan pertama kali saat kubilang aku teman kantormu?"
"Mana ku tahu..."
"Dia langsung menanyakan kabarmu. Dia sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Dia bahkan tak repot bertanya siapa namaku."
"..."
"Masalah hanya akan selesai jika kalian saling bicara. Selebihnya baru boleh kau serahkan pada waktu. Hei, kau tidak jatuh cinta sendirian, kawan. Aku melihatnya dengan mataku sendiri, Hana jauh lebih mencintaimu. Dia hanya belum menyadarinya."
Arka asyik bercanda sambil menikmati hidangan yang telah disediakan. Neo terlihat meninggalkan kursinya setelah membaca pesan masuk di ponselnya. Ia membawa Hana masuk dan bertemu Arka. "Hei, Arka! Lihat, wanitamu sudah datang!"
Hana sudah duduk disebelah Arka, diam satu sama lain. Arka tak lagi lahap menyantap makanannya. Neo yang melihat mereka berdua nampak menderita, berdiri membuat pengumuman. "Hmm... Semuanya! Karena yang datang malam ini semua berpasangan, bagaimana kalau kita berdansa dengan pasangan masing-masing?" Mereka semua langsung berdiri, berjalan mengikuti Neo, bergandengan dengan pasangan masing-masing. Hana baru berdiri setelah Arka bangkit dari kursinya dan mengikuti teman-temannya.
"Aku...aku tidak pernah berdansa sebelumnya." Hana memecah keheningan setelah beberapa detik mereka hanya berdiri berhadapan satu sama lain. Arka menatap Hana yang terlihat tak nyaman berdiri ditengah-tengah lantai dansa dengan musik keras yang mengiringi. Ia menghela napas, berjalan menjauh dari kerumunan orang. "Kau mau kemana? Aku ... ingin berdansa denganmu." Arka yang melihat Hana tetap bergeming kembali menghela napas dan menghampiri Hana. Ia diam sejenak, menyentuh lembut pinggang Hana, menautkan jemarinya dengan jemari kecil milik Hana, menariknya mendekat, mulai berdansa. Hana yang semula terlihat tegang mulai tersenyum, dengan hati-hati ia mengikuti langkah kaki Arka. "Ini seru sekali, Arka." Melihat Hana tersenyum bahagia, ia pun menyerah dan ikut tersenyum.
"Jangan terlalu cepat, ikuti irama musiknya." Arka kembali menuntun Hana menyesuaikan irama. Neo yang melihat dari kejauhan juga ikut tersenyum. untuk beberapa saat mereka hanya berdansa dan menikmati musik. Hana yang sudah mulai terbiasa tak lagi sibuk mengikuti langkah kaki Arka, ia menatap lurus ke depan. Kemudian sedikit mendongak ke atas dan menatap mata Arka. "Apa?" Arka salah tingkah dan mengalihkan pandangannya.
"Maaf."
"... untuk apa?"
"Semuanya, Arka. Maaf karena aku tidak pernah menceritakan tentang Tama sebelumnya, kupikir karena itu hanya masa lalu. Maaf karena aku tak langsung memberitahumu ketika dia datang ke studioku mengikuti workshop. Juga... aku tak bilang jika dia terus menghubungiku setelah itu... Maaf ..."
"...maaf karena tak mencintaiku?"
"...Apa maksudmu?"
"Aku mendengar semuanya, Han. Bahkan aku melihat semuanya malam itu. Kau membiarkan dia menyentuhmu, memelukmu." Gerakan kaki mereka terhenti, Arka melepaskan tangannya dari tubuh Hana.
"Arka, aku ..." Belum sempat Hana menyelesaikan kalimatnya, Arka sudah lebih dulu pergi menuju tempat dimana mobilnya terparkir. "Kau tak ingin mendengarku, Arka?" Arka sudah siap membuka pintu mobilnya.
"Aku tak ingin membahasnya sekarang, Han."
"Lalu kapan? Kau akan terus menghindariku, Arka. Seperti yang kau lakukan semingguan ini." Arka tak mempedulikan Hana dan masuk ke dalam mobilnya. Hana hanya bisa menatap mobil Arka yang semakin menjauh meninggalkannya. Malam itu terasa sangat dingin baginya, ia terduduk, menangis dalam diam.
Tahun telah berganti, tepat setelah malam tahun baru Tama mengirim pesan singkat untuk membatalkan rencana pernikahan kami. Aku tak ingin lagi menangis. Tapi rasanya, sebagian dari diriku menghilang. Aku mengasihani diriku sendiri, kembali teringat akan malam dimana Bena membawakan kabar serta kaktus bodoh milik Tama.
Bulan ketiga di tahun baru, seharusnya sekarang kami sedang sibuk-sibuknya menyiapkan segala kebutuhan pernikahan yang rencananya akan di adakan pertengahaan tahun ini. Aku tak bisa menahan diriku untuk tak menangisi yang telah terjadi. Bena kerap kali datang mengunjungiku, memastikan bahwa aku baik-baik saja.
Malam itu hujan kembali turun membasahi seluruh kota. Aku masih terjaga karena rasa kantuk yang tak kunjung datang. Samar-samar aku mendengar suara bel pintu dibunyikan. Ragu sejenak, aku memberanikan diri dan menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati. Kuraih payung yang ada di sudut ruangan, aku mengintip dari balik jendela dan tak mendapati siapa pun diluar sana. Perlahan aku membuka pintu dengan posisi siaga. Betapa terkejutnya aku melihat seluruh tubuh Arka basah oleh air hujan.
"Kau masih ingat saat pertama kita bertemu, Hana?"
"Astaga! Arka, apa yang terjadi?!" Aku menariknya masuk dan cepat-cepat menutup kembali pintu.
"Saat sebelum kau mengatakan 'iya' setiap kali aku menyatakan perasaanku? Tak peduli berapa kali kau menolaknya, aku selalu datang ke perpustakaan hanya untuk melihat wajahmu. Saat itu yang kupikirkan hanyalah melihatmu tersenyum, Han. Terbebas dari kesedihan yang selama ini membuatmu terpuruk."
"Kau basah kuyup, Arka."
"Maaf aku menghindarimu, aku menghilang tanpa kabar, aku melakukan hal yang sama dengan yang Tama lakukan padamu. Kupikir aku akan baik-baik saja jika membiasakan diri tanpamu. Tapi itu semakin membuatku takut kehilanganmu. Aku takut berakhir seperti kaktus itu, Hana."
"Kupikir kau membenciku."
"Aku menyayangimu, Hana. Aku tak bisa berjanji untuk terus membuatmu selalu bahagia, tapi aku akan selalu ada disisimu, apa pun yang terjadi."
Malam itu, hujan badai sekalipun tak terasa dingin bagiku. Meski angin berhembus kencang menggoyahkan pepohonan, meski kilat dan petir menyambar hingga memekakkan telinga. Meski dia memelukku dengan tubuh yang basah karena air hujan, yang kurasakan saat itu hanyalah kehangatan dan kasih sayang yang tulus dari seorang pria manja, bernama Arkana Davie.
"Ha. Lucu sekali, Hana." Bena meletakkan jaketnya di sandaran kursi, mengangkat satu tangannya dan tersenyum pada salah satu pelayan. Ia memesan iced coffee kesukaannya. Tak peduli cuaca maupun tempatnya, ia selalu memesan iced coffee. "Maafkan aku, Hana. Kau tahu perbaikan jalan di persimpangan dekat kantorku? Entah kapan mereka akan menyelesaikan pekerjaan itu. Hhhh." Ia menata rambutnya yang basah terkena air hujan saat ia berlari memasuki kafe.
"Jadi, apa hal pentingnya?" Aku tersenyum dan meminum cokelat panasku. "Kau membuatku keluar malam-malam, bahkan saat hujan seperti ini."
"Oh, benar. Aku tahu kau sibuk, Han. Tapi rasanya hal ini harus kusampaikan secara langsung." Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja, menarik napas dan melepaskannya perlahan. Kedua alisnya berkerut, ia diam sejenak. "Hmm... Ada acara reuni SMA akhir tahun ini. Dan aku sudah bilang bahwa kita akan ikut." Wajahnya terlihat seperti anak kecil yang habis melakukan kesalahan.
"Aku tidak masalah. Kenapa kau harus terlihat ketakutan seperti itu?"
"Ah, itu... Masalahnya... Kau masih ingat Tama? Naraya Tama?" Napasku seakan tertahan, tanpa sadar tanganku sudah mengepal dan kepalaku mulai terasa pusing. Bena melihat reaksiku, sejenak ragu untuk melanjutkan kalimatnya. "Hmm... Hana, dia... belum lama ini dia menghubungiku. Katanya dia akan datang ke sini untuk ikut reuni, sekaligus menemuimu. Dia minta kontakmu tapi aku tidak memberikannya. Dia bilang akan datang dua atau tiga minggu lagi." Aku masih diam, mencoba menenangkan diri. "Han, are you okay?" Bena meraih tanganku.
---
13 tahun lalu, pengumuman pergantian kelas baru.
"Hanaa... Kenapa? kenapaaaa?! Oh. Aku harus ke ruang kepala sekolah dan meminta agar aku bisa kembali sekelas denganmu. Harus!" Bena terus merengek dan mengikuti Hana ke kelasnya.
"Itu karena kamu malas belajar. Memohon pada kepala sekolah sama saja kamu dengan suka rela menjadi yang terakhir di kelas."
Bena melihat ke sekeliling dan baru menyadari jika Hana berada di kelas unggulan tempat dimana anak-anak dengan peringkat tinggi berada. Sebenarnya anak-anak di kelas baru Bena tidak terlalu buruk, hanya saja ia sudah terbiasa bersama Hana dimanapun dan kapanpun semenjak mereka berseragam putih biru. Bel tanda masuk berbunyi. Bena berjalan menuju kelasnya sambil merentangkan kedua tangannya tanda tak rela harus berpisah dengan sahabatnya. Hana hanya bisa tersenyum dan segera mengeluarkan buku dari dalam tasnya.
"Hei, bangku ini kosong?" Salah seorang murid yang baru datang menunjuk kursi yang ada di sebelah Hana.
"Ayo, ayo... cepat duduk, pelajaran sudah dimulai!"
Hana baru mau menolak tetapi terlanjur menutup mulutnya kembali karena pak guru menyuruh semua murid untuk duduk. Mau tak mau Hana mengiyakan pertanyaan murid tadi. Sebenarnya Hana berharap untuk bisa duduk sendirian dibangku depan, namun nyatanya jumlah murid yang ada di kelasnya sesuai dengan jumlah bangku yang tersedia. Bukan hanya merasa canggung dengan orang baru, ditambah murid yang duduk disebelahnya adalah murid laki-laki.
"Hai. Naraya Tama, panggil aja Tama." Sambil menyodorkan tangannya, dia tersenyum. Hana menoleh sesaat, menganggukkan kepalanya dengan canggung dan kembali fokus pada papan tulis. Sadar tangannya tak juga disambut oleh si lawan bicara. Tama menautkan kedua tangannya dan mengayun-ayunkannya ke kanan lalu ke kiri seolah memenangkan suatu penghargaan. Selama pelajaran berlangsung Hana hanya fokus pada papan tulis dan guru yang ada di depannya. Sementara Tama, ia malah sibuk dengan pensil yang terus menerus patah setiap kali ia memasukkan isi kedalamnya. Setelah berkali-kali mencoba dan terus saja gagal, ia menyerah lalu ganti menulis dengan pulpen yang ada di tempat pensil. Baru saja beberapa kata, Tama kembali sibuk dengan tempat pensilnya. Kali ini ia mencari correction pen dan menyadari miliknya masih ada di kamarnya setelah semalam ia gunakan.
"Bisa tolong hentikan, mengganggu konsentrasi!" Hana menyodorkan correction pen miliknya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Tama dan kembali menulis.
"...oh, maaf. Aku biasa menulis dengan pensil karena lebih mudah dihapus... hmm... tau ga? Pensilku rusak... dan ternyata aku lupa bawa ini... aku baru ingat semalam masih ada di atas meja belajar, hahaa..." Hana heran dengan Tama yang terus bercerita --tentang hal yang bahkan tak ia tanyakan kemudian menoleh dan meletakkan pulpennya. Matanya tertuju pada pensil mekanik milik Tama. Ia meraihnya dan memutar kepala pensil. Setelah mengetuk-ketuk kepala pensil tadi ke atas bukunya beberapa kali, ia memasangnya kembali dan memasukkan isi pensil baru miliknya. Tanpa berkata apa-apa Hana meletakkan pensil Tama tepat diatas buku Tama. Tama diam sesaat, tersenyum dan berterima kasih pada Hana yang kemudian lanjut mencatat tulisan yang ada di papan tulis.
---
Sinar matahari pagi masuk melalui sela-sela jendela kamarku. Aku baru tertidur tiga jam lalu. Bena sukses membuatku terjaga dengan 'berita pentingnya'. Akan lebih baik jika percakapan semalam hanyalah mimpi. Kenapa nama itu muncul lagi setelah lama tak terdengar kabarnya. Nama yang pernah membuat hariku bahagia, nama yang pernah mengajarkan kekuatan dan keberanian untuk menjadi diriku sendiri, namun sekaligus menjadi nama yang paling kubenci sejak beberapa tahun lalu. Dengan secangkir kopi panas ditangan kanan dan selembar roti bakar di mulut, aku melangkah menuju studio kecilku. Banyak yang harus kuselesaikan dalam beberapa bulan ke depan. Termasuk sejumlah workshop sebelum akhir tahun.
Kurang lebih empat jam lamanya aku menyelesaikan beberapa gambar yang sudah mendekati deadline. Hal yang paling kusuka dari pekerjaan ini adalah saat aku melihat coretan-coretan warna yang menutupi sebagian tanganku, rasanya sungguh membuatku tenang. Tanpa sadar senyumku mengembang. "Berapa kali pun aku melihatnya, senyum itu tetap menyeramkan, Hana." Dira menutup pintu dan berjalan menuju meja kerjanya.
"Apa? Siapa yang senyum?" Entah sejak kapan Dira berdiri disana. Aku bahkan tak mendengarnya masuk. Dira adalah orang yang membantuku dalam menyusun semua jadwal maupun keuanganku, bisa dibilang dia adalah seorang manajer. Entah apa jadinya jika tidak ada Dira. Bertemu klien-klien baru, project kerjasama, workshop di luar kota atau bahkan luar negeri, semua itu bisa terlaksana karena keramahtamahan dan keahlian Dira dalam berkomunikasi dengan orang asing. "Berapa workshop lagi yang tersisa?" Rasanya aku tidak ingin melakukan apapun seminggu ini.
Dira membuka buku jurnalnya. jari telunjuknya bergerak mencari catatan yang ia tulis rapi sehingga mudah dibaca dan diingat. "Dua untuk bulan ini dan satu untuk bulan depan. Setelah itu kau bebas, tuan putri." Nada bicaranya seakan menunjukkan bahwa ia adalah orang bijak sedunia.
Aku harus segera kembali membangkitkan semangatku. Orang-orang akan kecewa jika datang dan melihatku mengajar dengan suasana hati yang suram. "Aku sudah menyelesaikannya, tolong kirim email untuk mereka dan kabari aku lagi. Oh, seminggu ini aku tidak akan ada di studio jadi kau bisa melakukan pekerjaanmu di rumah jika kau mau." Aku menunjuk lukisan yang baru kuselesaikan dan meletakkan beberapa kertas di atas mejanya, bergegas untuk pergi dan menghilang dibalik pintu.
Saat bosan atau mengalami kebuntuan dalam mencari ide biasanya aku menghabiskan waktu dengan duduk di taman menikmati pemandangan, pergi ke book café yang tak jauh dari rumah, atau hanya menyibukkan diri di rumah, dalam artian tidur seharian penuh.
Pukul empat lewat sepuluh menit. Sesampainya dirumah aku mendapati ada 11 panggilan tak terjawab. Belum sempat jariku menggeser layar, ponsel kembali bergetar dan tertulis nama Bena disana. Aku tersenyum tipis. "Hana! Kamu tahu berapa kali aku mencoba menghubungimu?!?!!" Suara Bena memenuhi seluruh ruangan, menggema di telingaku. Aku menjauhkan ponsel dari telinga. Mendengus geli.
"Aku memang pernah bilang suaramu merdu, Ben. Tapi tidak saat berteriak."
"Aku tidak sedang ingin bercanda, Han. Kau mungkin masih bisa bercanda sekarang, tapi tidak setelah tahu pagi tadi Tama mengirimiku pesan bahwa dia akan tiba lusa!"
"..."
"Halo? Han?"
"... Ben. Kau tahu aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya. Lusa aku tidak akan ada di rumah, ada workshop di luar kota."
"Oh. Ya. Bagus. Aku hanya merasa kau harus mengetahuinya karena... kau tahu... kupikir kalian bisa menyelesaikan masalah kalian dan ..."
"Bena, aku baik-baik saja. Tidak ada yang harus diselesaikan, aku tidak mau dengar apa-apa lagi tentang dia. Itu hanya masa lalu dan aku sudah melupakannya. Maaf, Ben."
"Kau belum melupakannya, Hana. Baiklah. Aku mengerti, maafkan aku."
Bena sudah memutus panggilan sejak semenit lalu. Sedangkan aku tetap bergeming dengan ponsel yang masih menempel di telingaku. Aku memang belum melupakannya. Tapi aku selalu mencoba. Dan di saat aku sudah mulai sedikit melupakannya, nama itu kembali terdengar. Aku tidak bisa menyalahkan Bena, dia benar tentang aku yang belum melupakannya. Dan aku benci mengakuinya.
---
Lima menit lagi 'watercolour' workshop akan segera dimulai. Dira masih sibuk berkeliling meja memastikan tidak ada satupun yang terlupa. Entah sudah berapa kali workshop yang kami adakan, aku masih selalu gugup disaat orang-orang akan memasuki ruangan. Tapi semua perlahan hilang ketika kelas berlangsung dan melihat wajah-wajah antusias mereka yang ingin mempelajari teknik yang kuajarkan. Dengan melihat senyum mereka, aku jadi lebih bersemangat untuk membagi ilmu yang kumiliki. Tak jarang kami bertukar pengetahuan dan pengalaman masing-masing.
Setelah acara selesai, aku langsung kembali ke hotel. Masih ada seminggu lagi sebelum workshop selanjutnya diadakan. Aku memutuskan untuk langsung menuju ke lokasi selanjutnya. Mengingat aku sudah cukup sering mengadakan workshop di kota ini. Hanya butuh satu setengah jam dengan menggunakan pesawat untuk sampai ke lokasi workshop selanjutnya.
Aku mengangkat kedua tanganku, meregangkan tubuh, mempersiapkan diri untuk tidur satu setengah jam kedepan. Ku lihat lagi layar ponsel sebelum kualihkan menjadi mode terbang karena penerbangan sebentar lagi akan dimulai. Bena masih belum menghubungiku atau sekedar mengirim pesan setelah panggilan dua hari lalu. Biasanya dia akan langsung memenuhi layar ponselku dengan puluhan pesan yang ia kirim setiap aku berada di luar kota, menyemangatiku.
"Kau menunggu telepon seseorang?" Dira yang duduk disampingku sedikit terganggu karena aku terus memencet tombol on/off ponsel. Aku menggeleng, memasukkan kembali ponsel ke dalam kantong sweaterku. Sepertinya Bena masih marah. Lagipula jika aku menghubunginya lebih dulu hanya akan kembali merusak moodku nantinya. Aku akan segera menemuinya sesampainya dirumah nanti.
"Ra, apa yang akan kau lakukan jika kau membuat seseorang kesal padamu?" Mataku terpejam dan membiarkan tubuhku bersandar di kursi pesawat.
"Biarkan saja dulu. Mungkin Bena butuh waktu." Dira menjawab sekenanya.
"Hei, aku tidak pernah bilang itu Bena." Aku melirik Dira kesal.
"Ayolah, siapa lagi orang yang akan membuatmu gelisah seperti itu jika bukan Bena. Terkadang aku jijik dengan hubungan kalian. Menggelikan."
"Kau menyebalkan, Ra."
Satu setengah jam berlalu. Tanpa terasa pesawat sudah mendarat di tempat tujuan dan akhirnya kami tidak jadi tidur karena asyik mengobrol. Dira kembali sibuk dengan ponselnya, menghubungi hotel tempat kami menginap. Sesampainya di hotel aku langsung terlelap. Aku bahkan tak mendengar Dira mengetuk pintu kamarku berkali-kali. Begitu bangun aku langsung mandi dan berencana turun untuk makan malam. Aku terpaksa pergi sendiri karena Dira sudah terlanjur menemui salah satu orang yang ia kenal, yang kebetulan rumahnya tak jauh dari lokasi hotel tempat kami menginap.
Dengan bermodal aplikasi maps, aku mencari tempat makan yang menyajikan makanan khas kota setempat. Hanya diperlukan waktu lima menit jika berjalan dari hotel. "Maaf, anda Hana kan? Designer yang terkenal itu?" Salah seorang remaja yang berpapasan denganku nampak kegirangan. Aku hanya tersenyum mengiyakan. Ia meminta tanda tangan dan foto bersama dengan teman-temannya. Mereka berterima kasih dan kembali melanjutkan perjalan. Aku tertawa kecil. Terkenal dia bilang? Orang-orang memang banyak memanggilku dengan sebutan designer, illustrator, guru menggambar, pelukis, apa pun itu yang berhubungan dengan seni. Tapi aku tak menyangka aku merupakan seorang yang terkenal. Padahal aku belum pernah sama sekali muncul di televisi.
Tiba di Nusantara Resto, aku memesan makanan yang direkomendasikan pelayan dan segelas wedang jahe untuk menemani dinginnya malam. Aku melihat sekeliling, interior bergaya vintage dengan beberapa sentuhan industrial pada beberapa material, membuat Resto tampak berkelas, namun tak lantas membuat harga makanan dan minumannya melambung drastis. Menu yang disajikan pun cukup beragam. Satu hal yang kusadari, ternyata tak banyak orang yang datang malam itu, cenderung sepi. Bagus, pikirku. Mungkin karena sekarang sudah lewat jam makan malam. Dira pasti akan menertawakanku jika tahu aku makan sendirian di sebuah resto, terlebih di kota yang baru pertama kudatangi.
Pelayan datang dengan membawa pesanan yang membuat mataku berbinar, tak lupa wedang jahe panas. Aku menoleh, kulihat secarik kertas yang diberikan kepadaku. Pelayan tadi menunjuk salah satu sudut ruangan. Kulihat seorang pria melambaikan tangannya dengan tatapan genit. Aku tersenyum jijik. "Maaf, aku sudah punya kekasih." Pelayan tadi terlihat malu dan segera meninggalkan mejaku. Dia berbisik pada pria diujung sana. Aku merubah posisi duduk, memunggungi pria aneh tadi dan menikmati makanan yang telah dihidangkan.
Malam semakin larut, Dira sudah menghubungiku untuk segera kembali ke hotel. Ada beberapa hal yang harus dibicarakan mengenai workshop selanjutnya. Baru beberapa langkah meninggalkan resto, seorang pria menarik pergelangan tanganku dan aku hampir terjatuh. Betapa terkejutnya aku saat menyadari pria tersebut adalah orang yang memberiku tatapan genit di resto tadi. Aku menarik tanganku dengan sekuat tenaga. Sia-sia, badannya jauh lebih besar dariku. Oh, Tuhan. Aku hampir berteriak, namun seseorang menepuk pundakku dari belakang. "Disini kau rupanya, aku mencarimu daritadi." Pria aneh tadi langsung pergi menjauh dengan senyum yang digantikan oleh makian dan tatapan sinis. Rahangku mengeras. Kurasakan panas di kedua mataku, tak percaya dengan apa yang kulihat malam itu. "Ternyata benar kau. Bagaimana kabarmu, Hana?" Suara yang tak asing ditelingaku, senyum yang dulu selalu kurindukan, bahkan tatapan matanya masih sama seperti dulu. Naraya Tama. Dia benar-benar kembali. Tapi bagaimana dia bisa ada disini. Aku mencoba mencerna keadaan, menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Tak lama terdengar seorang wanita paruh baya memanggil Tama dari kejauhan dan saat Tama mencari asal suara, tanpa pikir panjang aku menghilang dari tempatku berdiri, berlari sekuat tenaga.
---
Lampu tanda sabuk pengaman harus dikenakan, telah padam. Pesawat mendarat setelah sebelumnya harus mengalami delay selama dua jam. Penerbangan yang memakan waktu lebih dari sepuluh jam lamanya membuat Tama merindukan daratan. Terik matahari yang menusuk, keramah tamahan orang sekitar, senyumnya melebar ketika menyadari bahwa dirinya telah kembali. "I'm home."
Kepalanya mulai berputar, matanya sedikit kabur, Tama hanya sempat beristirahat dua jam di rumah. Bahkan ia belum membuka isi kopernya. Tama dipaksa keluar oleh ibunya dengan alasan bahwa sang ibu rindu padanya. Ibunya terlalu bahagia melihat putra kesayangannya yang telah lama merantau, akhirnya pulang. Untung saja ada pak Mus, sopir pribadi mereka. Tama tak harus lelah menyetir. Melihat wajah bahagia sang ibu membuat Tama tak sanggup untuk menolak, apalagi mengeluh. Ia menyerah dan menuruti kemanapun ibunya ingin membawanya.
"Nak, lihat disana! Sebelumnya tempat itu sangat tak terurus. Tapi sekarang setiap sore selalu dipenuhi warga. Bahkan hanya untuk duduk-duduk santai." Ibunya menunjuk ke arah taman kota yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Tama tersenyum melihat pemandangan yang ada di taman. Ada yang sedang membaca buku, ada yang berlarian mengejar burung-burung, ada pasangan yang saling berbisik kemudian tertawa, sampai orang tua yang membawa anak mereka piknik di bawah pohon. Memang bukan pemandangan baru baginya. Karena di kota tempatnya merantau jauh lebih banyak taman kota. Hanya saja disini suasananya lebih terasa hangat.
Pak Mus menunggu di area parkir taman sementara Tama dan ibunya berkeliling dengan menaiki becak. Ia merasa seperti anak kecil yang dibawa ibunya jalan-jalan. Bahkan ibunya tak pernah lepas menggenggam tangannya dari semenjak mereka naik ke atas becak.
"Kau tidak banyak berubah, nak." Ibunya mengusap punggung tangan Tama penuh kasih sayang.
"Ibu juga, masih tetap cantik seperti saat terakhir kita bertemu." Tama mengedipkan sebelah matanya.
"Ibu sudah tua, ayahmu saja sering mengejek keriput ibu. Tidak tahu wajahnya sendiri sudah dipenuhi keriput."
"Haha... Ibu masih tetap cantik di mataku." Tawanya pecah, ia bisa membayangkan wajah menyebalkan sang ayah saat mengejek ibunya.
"Kau paling bisa membuat ibu senang. Coba saja ayahmu bisa seperti ini setiap hari pada ibu."
"Itu karena aku mirip dengan ibu. Memang ibu pernah bilang ayah tampan?"
"Ayahmu memang tidak tampan, untuk apa dipuji segala?"
"Bagaimana ini, orang-orang bilang wajah ini kudapat dari ayah? Apa itu berarti aku tidak tampan dimata ibu?" Ia menangkupkan kedua tangannya dibawah dagu dan memasang wajah sedih.
"Kau tampan, nak. Sangat tampan." Ibunya diam sejenak dan menatap kedua mata Tama. "Bagaimana keadaan Sarah, nak?" Tama sudah menduga pertanyaan itu akan muncul. Tapi ia tetap merasa enggan membahasnya.
"... Dia, baik-baik saja, bu."
Deretan lampu jalan mulai menerangi dinginnya kota malam itu. Setelah mampir untuk makan malam di salah satu resto kesukaan ibunya, Tama berjalan mencari minimarket terdekat untuk membeli beberapa keperluan. Ia mengikuti arahan yang sebelumnya telah diberikan sang ibu. Saat ia hendak berbelok di salah satu persimpangan, ia melihat sosok wanita yang dirasa sangat dikenalinya. Samar-samar Tama melihatnya berjalan keluar dari sebuah resto yang lain. Tama ingin meyakinkan dirinya dan tanpa sadar sudah berlari menyeberangi jalan, senyumnya mengembang. Ia berhenti sejenak dan mempercepat langkahnya begitu melihat sosok pria bertubuh tambun menarik dan memaksa wanita itu. "Disini kau rupanya, aku mencarimu daritadi." Tama menarik tangan pria tambun tadi, meremasnya sekuat tenaga. Dengan wajah kesal dan kesakitan, pria itu pergi menjauh. Tama kembali fokus pada sosok yang diyakininya adalah Hana. "Ternyata benar kau. Bagaimana kabarmu, Hana?" Tama tak dapat menyembunyikan wajah bahagianya bahkan ia hampir memeluk Hana. Berbeda dengan lawan bicaranya yang hanya mematung, tak berekspresi. Dalam beberapa detik keduanya saling tatap, tanpa bersuara. Tama hendak maju selangkah, kakinya terhenti oleh suara ibunya yang memanggil dari seberang jalan. Ia mencari sumber suara dan melambaikan tangannya. Namun saat ia kembali berbalik, Hana sudah tak ada ditempatnya. Pergi entah kapan. Ibu Tama terus memanggil karena malam semakin larut dan Pak Mus sudah menunggu tak jauh dari tempat ibunya berdiri. Mau tak mau ia harus pulang, lagipula ia tak tahu kemana arah Hana pergi.
---
Seminggu berlalu semenjak pertemuan singkat dengan Tama malam itu, aku duduk di salah satu sudut ruangan. Memandangi cangkir kosong yang telah habis kuminum sedari tadi. "Kau baik-baik saja?" Dira datang dengan buku jurnal dan cangkir kopi masing-masing di kedua tangannya. Aku mengiyakan dengan pandangan masih kepada cangkir kosong di depanku. "Hei, kau bahkan tak fokus selama workshop tadi berlangsung. Seharusnya kau merasa bersalah pada orang-orang yang sudah bersusah payah untuk mengikuti kelasmu karena kuota yang terbatas. Aku kecewa padamu, Hana. Sebenarnya apa yang mengganggumu?" Aku menatap Dira, diam. Aku bahkan tak mengerti apa yang sedang ada dikepalaku. Aku terlalu lelah. Lelah untuk mencoba mengerti. Bagaimana dia bisa tersenyum lebar seakan tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. "Aku sudah membeli tiket penerbangan tercepat hari ini, sesuai keinginanmu. Sebaiknya kau punya alasan bagus untuk semua ini. Aku sudah meminta maaf pada orang-orang yang membantu kita hari ini. Kuharap kau bisa lebih profesional, Han." Dira bangkit dari kursinya dan berjalan keluar. Aku tidak bisa berpikir jernih saat ini. Aku tahu Dira dan orang-orang sudah bersusah payah menyiapkan acara ini agar berjalan sebaik mungkin. Dan aku mengacaukannya dengan membubarkan kelas 30 menit lebih awal. Bahkan saat sesi foto bersama di akhir acara aku tak ada di tempat.
---
Tepat setelah aku memutar kunci dan memasuki rumah, ponselku berbunyi. Aku tidak sempat melihat nama yang muncul di layar dan menggesernya dengan asal. Suara bising terdengar dari ujung telepon.
"Halo? Hana? Han, kau bisa mendengarku? Duh, kenapa mereka berisik sekali..."
"Bena?"
"Han, maaf aku baru menghubungimu. Keadaan kantor sedang kacau."
"Ah. Kupikir kau marah."
"Apa?! Han, aku tidak bisa mendengarmu. Sebentar, aku akan pindah ke beranda."
"Ya."
"Kau bisa mendengarku sekarang?"
"Ya." Aku bisa mendengar jelas setiap kata yang keluar dari Bena sejak awal, hanya saja dia tidak bisa mendengar suaraku dari ujung sana.
"Hana, apa maksudnya Tama melihatmu?! Kalian sudah bertemu? Semalam dia menghubungiku, aku terlalu sibuk mengetahui ada panggilan masuk. Jadi dia mengirimiku pesan."
"... Ya."
"HANA! Dari tadi kau hanya bilang ya, ya dan ya! Apa yang terjadi?" Bena kembali berteriak.
"Ya, kami bertemu, Ben. Dia tiba-tiba muncul entah dari mana. Dia tersenyum padaku dan, dan... hhh..." Dadaku terasa sesak. Napasku tak teratur, tangisku pecah.
"Han, kuharap aku berada disampingmu dan memelukmu sekarang." Suaranya melembut.
"Aku baik-baik saja, Ben. Aku hanya butuh istirahat. Aku langsung kembali begitu workshop selesai." Aku mencoba mengatur napas agar kembali normal.
"Baiklah, hubungi aku jika kau butuh sesuatu."
Cahaya lampu masuk melalui celah-celah jendela. Aku menatap kosong langit-langit kamar. Mencoba menata kembali kekacauan yang terjadi di kepalaku. Aku sudah memutuskan untuk hidup bahagia. Kehadirannya tak berarti apa-apa bagiku. Setidaknya itu yang ingin selalu kuyakini. Dan akan selalu seperti itu. Ada hal yang jauh lebih penting yang harus kulakukan.
---
"Han, kau suka kaktus?" Tama tampak memilih-milih tanaman disalah satu booth pameran yang diadakan di sekolah mereka.
"Entahlah, aku tidak terlalu terertarik dengan hal-hal seperti itu."
"Hana hanya peduli pada makanan." Bena menyambar dari belakang.
"Hei!" Hana mengerutkan kedua alisnya, tak terima.
"Ayo, Han. Kita bisa kehabisan es krim yang disebelah sana. Antriannya sudah sangat panjang. Kenapa sih dia selalu mengikutimu. Padahal kulihat temannya banyak." Bena menarik Hana dan pergi meninggalkan Tama seorang diri.
"Entahlah, tapi menurutku dia sedikit mirip denganmu, Ben."
"Hei! Itu sangat tidak sopan, Han. Dan lagi aku jadi tidak punya waktu berdua denganmu."
"Kau pikir aku milikmu?" Hana mengejek Bena dan berlari mendahului Bena.
"Han! Tunggu aku!"
Tama yang merupakan murid pindahan yang tak mengenal siapapun di sekolah barunya memutuskan untuk menjadikan Hana sebagai temannya. Terlebih karena saat itu mereka duduk sebangku. Hana awalnya merasa terganggu karena sifat Tama yang sangat berbanding terbalik dengannya. Menurutnya, Tama adalah Bena versi yang lebih parah. Hana akhirnya megijinkan Tama menjadi teman dengan syarat tidak mengganggunya selama jam pelajaran berlangsung. Semenjak itu pertemanan mereka dimulai. Meski pada akhirnya Tama sangat dikenal oleh anak-anak sekolah karena sifatnya yang mudah bergaul, tapi ia paling suka mengganggu Hana. Bena mau tak mau juga harus melihat Tama dimanapun Hana berada. Mereka seperti remaja pada umumnya, belajar bersama, bermain bersama dan saling menguatkan satu sama lain. Namun, pada satu waktu Tama merasa ada yang berbeda ketika melihat Hana. Bahkan mereka akan canggung jika hanya berdua di satu ruangan. Bena menyadari hal tersebut dan mencoba menerima bahkan ia membantu Tama untuk menyatakan perasaannya pada Hana. Sayangnya pada saat hari yang telah ditentukan, Tama membatalkan rencana dengan alasan adiknya masuk rumah sakit dan ia harus segera pergi ke sana. Saat itu Bena bisa memaklumi keputusan Tama, karena baginya keluarga juga pilihan yang paling utama. Namun lama kelamaan Bena merasa kesal karena ia merasa Tama selalu menomorsekiankan Hana apapun yang terjadi. Ia merasa Hana tak pernah menjadi prioritas Tama. Apalagi saat mereka berusia sembilan belas tahun, Hana kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan pesawat. Tama sama sekali tak muncul dan lebih memilih menemani Sarah yang sedang berulang tahun.
Malam itu adalah hari terakhir Hana mendengar kabar mengenai Tama. Bena datang membawa sebuah surat dan tanaman kaktus, yang seharusnya Tama berikan saat menyatakan perasaannya pada Hana. Bena menceritakan semuanya dan ia terkejut mengetahui Hana yang ternyata memiliki perasaan yang sama dengan Tama.
"Han, dia pergi untuk menjaga Sarah! Katanya Sarah tidak punya siapa-siapa selain dia. Jika kau mau aku bisa membuang tanaman bodoh ini! Lagipula ini semua hanya omong kosong." Bena meledak-ledak.
"Tidak, Ben. Terima kasih." Hana masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Bena yang tak tega melihat Hana kembali terluka.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kaktus mengingatkanku padamu, Han.
Kuat, berani, istimewa.
Setidaknya seperti itu kau dimataku.
XOXO
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
---
Aku terbangun dari mimpi buruk. Aku menatap ke arah jendela. Hujan turun cukup deras. Bagus, bahkan sekarang dia muncul dimimpiku. Aku mengusap wajah dan bangkit dari tempat tidur, menuruni anak tangga. Dira sudah berada di ruang makan, sibuk dengan laptopnya.
"Kau baru bangun, nona?"
"Ya." Aku menuang kopi ke dalam cangkir yang berada tak jauh dari Dira.
"Sudah merasa lebih baik? Atau kau mau aku membatalkan workshop terakhirmu tahun ini, yang tepatnya adalah lima hari lagi?" Dira masih sibuk mengetik dan memasang wajah datar.
"Mungkin lebih baik seperti itu." Aku melirik Dira, menunggu reaksi darinya.
"Hana! Kau gila?!"
"Aku hanya bercanda, Ra. Aku janji tidak akan mengulang kesalahan yang sama seperti sebelumnya. Maafkan aku, Ra." Aku memeluknya dari belakang.
"Oke. Sekarang lepaskan. Lama-lama kau jadi seperti Bena, Han. Menggelikan."
"Kau sudah mengirim merchandise untuk orang-orang yang kemarin ikut workshop, Ra?"
"Ya. Berkat seseorang aku jadi sangat sibuk di pagi buta begini. Bahkan langit ikut menangis bersamaku!." Dira mengangkat kedua tangannya ke arah jendela. Diikuti suara tawaku yang merasa gerakan Dira sangatlah lucu.
Hari-hari berjalan seperti biasanya. Aku terlalu sibuk mengurus materi serta kebutuhan lain untuk workshop akhir tahun. Acaranya sedikit berbeda dari workshop-workshop sebelumnya. Dira menambahkan sesi tanya jawab mengenai buku pertamaku yang akan rilis tahun depan, sesi merangkai bunga dan sedikit games. Juga ada hadiah menarik bagi murid yang beruntung. Aku tidak begitu setuju dengan adanya games yang mana pastinya aku harus ikut serta dalam permainan. Tapi karena Dira terus saja mengungkit sikapku saat workshop sebelumnya, mau tak mau aku meyetujuinya.
Hari yang dinanti tiba, Bena mengirim semangatnya melalui pesan dan buket bunga yang cukup besar. Aku tersenyum, seperti biasa, dia mengirimiku bunga yang dia sukai. Dira memanggilku untuk segera masuk ke dalam. Acara kali ini diadakan di studio milikku, yang tak lain adalah sebuah ruangan yang tidak terlalu luas dibelakang rumah. Setelah semua murid datang, aku memasuki ruangan dengan senyum terbaikku. Aku terkejut mendapati satu wajah yang membuat senyum diwajahku hilang begitu melihatnya.
"Ra, apa maksudnya ini?"
"Apa? Kenapa menarikku keluar?"
"Kupikir tidak ada nama laki-laki di daftar peserta."
"Oh, dia menggantikan adiknya dan aku sudah konfirmasi dengan orangnya, adiknya juga sudah mengirimiku email. Ini biasa terjadi bukan? Kau juga tidak terlalu peduli dengan hal-hal seperti ini. Kenapa kau berlebihan, Hana!" Aku kembali mengintip ke dalam ruangan dan mendapati semua orang telah berbisik satu sama lain, menanyakan apa yang sedang terjadi. "Kau mengenal orang itu?"
"Ah... Tidak. Maksudku ...."
"Sudahlah, lebih baik kita masuk sekarang." Dira kembali menarikku masuk ke dalam.
Tama melambaikan tangannya padaku. Aku bertingkah seolah tak melihatnya dan memulai acara. Aku menjelaskan beberapa teknik penggunaan kuas dan cat air pada peserta yang datang. Mereka begitu serius, menyimak dengan seksama.
Setelah arahan selesai diberikan, Tama mengangkat sebelah tangannya, memasang wajah menyebalkan. Aku hendak melewatinya tapi Dira sudah memelototiku dari kejauhan. Aku mengatur emosi dan pikiranku, berjalan ke meja Tama, menanyakan hal yang belum ia mengerti. "Hei. Aku bahkan tak tahu cara memegang alat ini." Tama berbisik padaku. Aku kembali menarik napas panjang mencoba untuk tetap tenang. Aku mencontohkannya dengan tanganku dan Tama mencoba menirunya. Ia kemudian mencelupkan kuas ke dalam gelas berisi air dan mengambil salah satu warna yang telah disediakan di atas palet. Aku gemas melihatnya mengambil dalam satu sapuan penuh, menyebabkan kertas bergelombang dan hampir bolong. Tama menatapku, mengharapkan bantuan. Aku berani bertaruh dia sengaja melakukannya. Dengan kesabaran tinggi aku mengambil kertas baru, mengulang yang sudah kujelaskan di depan kelas tadi. Terpaksa aku menarik tangannya dan mengusapkan kuas ke atas kertas dengan perlahan. Tama kembali menatapku. "Kau terlihat cantik, Hana." Aku melepaskan tanganku dari tangannya. Kembali menuju mejaku.
Sesi berikutnya adalah merangkai bunga, kali ini yang memberi arahan adalah Dira. Dira sudah menekuni seni merangkai bunga sejak setahun lalu tapi ia belum berani memulai workshopnya sendiri. Untuk sesi ini aku yang mengusulkannya kepada Dira. Dira terlihat sangat bersemangat. Aku ikut tersenyum, belum pernah aku melihat wajah bahagia Dira yang seperti itu. "Kupikir kau tak menyukai tanaman?" Tama sudah berdiri disampingku, entah kapan ia menukar posisi dengan orang sebelumnya. Aku mengabaikannya dan mencoba fokus pada arahan Dira. "Bukan seperti itu, kalau kau meletakkannya disana bunga yang ada dibelakangnya jadi tak terlihat, Han." Tama yang kini sudah berada dibelakangku menata kembali rangkaian bunga yang kubuat. Aku merasakan dingin di sekujur tubuh, tak bisa bergerak. Dira dari kejauhan kembali memelototiku, namun kini dengan senyum menggodanya. Tersadar aku langsung melangkah mundur, mendorong Tama yang ada dibelakangku dan pergi meninggalkan ruangan.
Aku melihat bayanganku sendiri dari pantulan cermin kamar mandi. Wajahku sudah seperti kepiting rebus, entah karena marah atau malah tersipu. Aku masih tak mengerti dengan perasaanku sendiri. Bukankah seharusnya aku marah, mengingat apa yang telah dilakukannya padaku dulu. Tapi disisi lain aku ingin melupakan kejadian masa lalu. Kalian tahu saat kalian ingin melupakan masa lalu, mencoba untuk memaafkan sehingga lambat laun masa lalu itu akan hilang dengan sendirinya. Karena jika kita tak bisa memaafkan masa lalu, ingatan itu akan selalu terperangkap dikepalamu, entah saat kau sadar atau tidak.
"Kau baik-baik saja?" Tama berdiri di samping pintu kamar mandi.
"Ya." Aku melewatinya dan merapikan rambut.
"Han, tunggu." Tama menarik pergelangan tanganku lembut.
"Bisa tolong lepaskan, aku tidak ingin orang-orang salah paham melihat kau melakukan ini." Aku mendorong tangannya.
"Aku tidak peduli mereka mau berpikir apa."
"Tapi aku peduli."
"Han, tunggu. Kau tidak rindu padaku? Setelah sekian lama kita tidak bertemu, setidaknya beri aku pelukan selamat datang. Hei, bahkan seminggu lalu aku memohon pada adikku untuk ikut acara ini agar aku bisa bertemu denganmu, Hana. " Tama merentangkan kedua tangannya kedepan. Aku sudah tidak bisa menahannya. Kepalaku rasanya mau pecah, aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Namun karena tak ingin mencuri perhatian aku menahannya.
"Maaf. Seperti yang kubilang tadi, aku tak ingin orang-orang salah paham. Aku harus segera kembali. Acara selanjutnya pasti sudah dimulai dan terima kasih sudah jauh-jauh datang untuk mengikuti acara ini." Pandanganku kabur, air mata mulai menggenang di kelopak mataku.
Dira menarikku ke atas panggung kecil yang telah disiapkan untuk sesi tanya jawab peluncuran buku pertamaku. Orang-orang sangat antusias dan aku mencoba fokus pada acara. Aku melihat Tama yang berdiri diujung pintu memandangiku. Aku mengalihkan pandanganku kembali pada peserta yang sedang bertanya. Beberapa menit setelahnya aku kembali melihat ke arah pintu dan mendapati Tama sudah tak lagi berdiri disana. Dira menyikut lenganku. Aku menoleh, mencoba tersenyum padanya. "Apa yang kali ini kau pikirkan, nona? Setelah ini acara games, kau harus ikut apapun yang terjadi."
"Baik, permainan pertama kalian harus menggambar orang yang ada disamping kalian dengan mata tertutup. Kalian bisa meraba teman yang kalian gambar dengan tangan kalian masing-masing. Tapi hati-hati, atau kalian bisa mengenai mata teman kalian, atau sialnya malah tangan kalian masuk ke lubang hidung. Hahaa." Sesi permainan diadakan di taman belakang, Dira menjelaskan peraturan permainan menggunakan mic yang ada ditangannya. Semua orang heboh dan mulai menutup mata masing-masing. "Han, lihat orang itu. Sepertinya yang lain sudah mengakrabkan diri satu sama lain. Kau saja yang jadi pasangannya." Aku menolak keras. Dira sengaja membuat peserta dengan jumlah ganjil, dan aku mau tak mau harus ikut bermain. "Ayolah. Kau tak akan membuat pria malang itu bermain seorang diri bukan?"
Aku berdiri disamping Tama dan menutup mataku dengan kain hitam yang diberikan Dira padaku. Ketika peluit tanda permainan dimulai berbunyi, aku masih dengan posisi awal. "Han, permainannya sudah dimulai. Kenapa diam saja?" Tama meraih tanganku dan meletakkannya diatas wajahnya. Aku merasa aneh dan langsung menariknya kembali. Aku mundur selangkah dan meraba udara mencari kanvas yang disediakan untuk menggambar. Tama kembali membantu mengarahkan tanganku. Setelah peluit tanda waktu habis berbunyi, kami melepas penutup mata. Ada yang tertawa, ada yang kesal karena wajahnya terlihat aneh digambar dan ada yang sampai terjatuh dari kursinya karena bercanda satu sama lain. Aku terdiam memandangi kanvas yang ada didepan mataku. "Kurasa kau masih sangat mengingatku, Han. Bahkan kau tak menyentuh wajahku sama sekali tadi." Tama tersenyum lembut, senyum yang sangat kukenal saat kami berseragam putih abu-abu. Aku hampir terpengaruh oleh tatapannya, cepat-cepat aku meninggalkannya. Mendekati Dira yang sibuk menertawakan gambar peserta lain.
Permainan-permainan selanjutnya berjalan sesuai rencana. Semua orang terlihat senang dan sangat menikmati acara. Hana sejenak melupakan kekesalannya pada Tama. Sampai akhirnya ia tersadar tangannya saling bertautan dengan Tama, senyumnya memudar. Dira memberikan pengarahan untuk kembali ke dalam. Pengumuman peserta yang beruntung akan dibacakan di sela-sela makan siang bersama.
Aku duduk dibangku taman yang tak jauh dari studio, tempat workshop diadakan. Menghela napas lega. Hari ini terasa sangat panjang bagiku.
"Kau tidak ikut makan siang, Han?" Tama datang dan duduk disampingku.
"Aku akan pergi sekarang." Aku bangkit dari kursi.
"Hana, kenapa kau terus menghindariku?"Tama ikut bangkit dari kursi, kali ini ia tak menyentuhku sedikitpun.
"Bagus kalau kau menyadarinya. Seharusnya tak usah pedulikan aku." Aku berbalik, menatap wajahnya.
"I missed you, Han. Melihat reaksimu seharian ini membuatku berpikir kau juga merasakan hal yang sama. Apa aku salah?"
"Ya. Kau salah. Aku hanya mencoba bersikap baik pada muridku, tidak lebih. Maaf jika kau mengartikannya lain." Aku mengepalkan kedua tanganku, mencoba berbicara setenang mungkin.
"Hana. Maaf sudah meninggalkanmu tanpa kabar. Kuharap kita bisa memulai hubungan kita lagi. Seperti dulu?"
"Lagi? Kita bahkan belum pernah memulai apapun. Hubungan seperti apa yang kau maksud?" Suaraku mulai meninggi.
"Aku mencintaimu, Han. Kau tahu itu. Tak pernah seharipun aku tak memikirkanmu." Tama maju selangkah.
"... Dan kau tiba-tiba muncul dan baru mengatakannya sekarang. Setelah sepuluh tahun?!"
"Hana..."
"Kau pikir aku semudah itu? Dulu kau memintaku terbuka padamu, kemudian aku menceritakan semua masalahku padamu. Kau memintaku untuk percaya pada diriku sendiri. Mencintai diriku sendiri, kemudian aku melakukannya. Kau selalu tersenyum padaku. Bahkan setiap malam kau menemaniku yang kesulitan untuk tidur. Kemana kau saat aku gagal masuk tes perguruan tinggi, kau bahkan tahu aku mati-matian belajar untuk itu. Terlebih saat kedua orang tuaku pergi meninggalkanku selamanya. Aku hancur, Tam. Aku membenci diriku sendiri, aku membenci semua yang ada didunia ini. Tapi bodohnya saat itu aku masih berharap kau akan datang menghiburku. Kemudian kau muncul setelah sepuluh tahun lamanya dengan entengnya tersenyum, lalu apa? 'bagaimana kabarmu?' ha?" Suaraku serak. Air mataku tak terbendung, turun membasahi pipi.
"Hana, aku minta maaf. Maafkan aku, Han." Aku lengah, Tama sudah memelukku yang terisak seperti anak kecil. Aku tak ada tenaga untuk melepaskan pelukannya dariku. Dan aku membiarkannya memelukku selama beberapa menit.
Ponselku bergetar, satu pesan masuk terlihat di layar utama. Aku melihat satu nama yang langsung membuatku menyadari kenyataan. Aku mendorong Tama pelan. Mengusap air mataku yang hampir kering. Aku hendak berbalik namun lagi-lagi Tama menahanku. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Han." Untuk kesekian kalinya aku mencoba mengabaikannya. "Bisa kita memulainya dari awal, Han? Aku janji tuk membuatmu selalu bahagia."
"Aku harus pergi sekarang."
"Hana, kumohon jawab aku."
"Aku tidak bisa, Tama."
"Kau masih belum memaafkanku?"
"Aku masih dan selalu mencoba memaafkanmu."
"Lalu apa yang menahanmu?"
"Aku mencintai seseorang. Kami akan menikah tahun depan." Seketika genggaman Tama terlepas dari tanganku. Dia membiarkanku pergi. Dan kami tak berbicara sepatah katapun sampai acara hari itu selesai.
---
Aku berdiri di depan pintu kedatangan. Hujan siang itu sangat lebat, beberapa penerbangan bahkan dibatalkan. Kulihat seseorang melambai dari kejauhan. Aku tersenyum, balas melambaikan tangan padanya. Dia berlari kecil dan memelukku lembut. "Kau pasti lama menunggu ya?" Aku menggelengkan kepalaku. "Wah, hujannya deras sekali. Aku yang menyetir, berikan kuncinya padaku."
Aku menggeleng untuk kedua kalinya. "Kau pasti lelah setelah penerbangan empat belas jam. Biar aku saja." Aku menarik salah satu tasnya, bergegas menuju tempat parkir.
"Atau kita bisa menunggu sampai hujan sedikit reda." Dia mengambil kembali tasnya dari tanganku. Kami akhirnya memutuskan untuk singgah di salah satu kafe yang ada di bandara, menunggu hujan reda. "Kau terlihat baik-baik saja tanpa aku, Hana. Aku sedih sekali." Dia mencodongkan posisi duduknya ke depan dan memasang wajah sedih yang menyebalkan.
"Kau mau aku bagaimana? Berlari memelukmu sambil berteriak dan menangis?" Aku menikmati cokelat panas yang ada di depanku. "Kau yang memintaku jangan menghubungimu selama menyelesaikan S3. Aku hanya menuruti keinginanmu, Tuan Arkana Davie."
"Itu yang tidak kusuka darimu, Han. Kau terlalu penurut." Arka kembali menyenderkan tubuhnya ke belakang.
"... Kau akan langsung kembali jika aku menghubungimu. Dan kau akan mengabaikan sekolahmu. Aku tak ingin mengulang 4 tahun dari awal lagi menunggumu jika kau melakukannya. Kau pikir aku senang kau tinggal sendiri disini." Arka diam, menatapku penuh arti. Dia tersenyum. "Berhenti melihatku seperti itu."
"Apa? Maksudmu aku tak boleh memandangi kekasihku yang tak pernah menghubungiku selama 4 tahun?"
"Hentikan, Arka. Atau aku akan pergi meninggalkanmu disini." Aku kembali meminum cokelat panasku, mengalihkan pandangan ke arah lain. Arka tertawa mengejek melihatku salah tingkah. Kami memang sudah berjanji untuk fokus pada kegiatan masing-masing selama 4 tahun. Arka awalnya ragu untuk melanjutkan sekolahnya ke luar negeri, tapi aku terus meyakinkannya karena tak ingin menjadi penghalang bagi karir dan cita-citanya. Dia memintaku untuk ikut, tapi aku menolak dengan alasan ingin melakukan apa yang selama ini ingin kulakukan. Saat itulah Bena mengenalkanku pada Dira, dan menemukan kesibukanku sendiri.
---
Keesokan harinya Arka sudah berada di depan rumahku. Aku masih tertidur lelap di kamar. Dira yang memang datang setiap hari, masuk dengan kunci yang pernah kuberikan padanya. Aku terbangun mendengar suara ketel air yang mendesis dan berjalan menuju dapur. "Kau baru bangun, nona?" Dira mengejekku, seperti biasa. Aku mengiyakan tanpa melihat ke arahnya. Dengan mata yang masih setengah tertutup aku menuang kopi ke dalam gelas. "Lihat itu, setiap hari aku harus melihatnya seperti itu. Dia pikir aku alarm baginya."
"Dia terlihat, luar biasa bagiku." Arka tersenyum melihatku yang mengenakan piyama dengan rambut berantakan.
"Hei! Apa yang kau lakukan pagi-pagi buta disini?"Aku yang terkejut, nyaris menyemburkan kopi yang ada dimulutku, bersembunyi dibalik counter.
"Pagi buta apanya, nona? Sekarang bahkan sudah jam 10 lewat. Lucu sekali nona ini."
"Kenapa kau bersembunyi, Hana? Mulai sekarang aku siap jadi alarm untukmu setiap pagi." Arka sudah duduk jongkok disampingku.
"Hana! Kudengar Arka sudah kembali apa itu benar?" Bena, seorang lagi yang memiliki kunci rumahku datang membuat kehebohan.
"Apa-apaan ini, kenapa pagi-pagi kalian sudah berkumpul disini?" Aku berdiri, diikuti Arka. Bena berteriak dan berlari menghampiri Arka. Ia memeluk Arka dengan sangat kuat. "Ben, apa yang kau lakukan?" Arka hanya melirikku dan mengangkat kedua bahunya. Bena dan Dira menatapku heran. "Apa? Kenapa kalian melihatku seperti itu?"
"Apa aku tidak salah lihat, barusan Hana seperti cemburu padamu Ben. Selamat Arka, ini sejarah baru bagimu."
"Ups. Maaf, Han. Aku hanya terlalu senang melihat Arka." Bena meletakkan satu tangannya tepat dimulutnya dan memasang wajah sok polos. "Sepertinya ditinggal 4 tahun membuat Hana sedikit posesif."
"Aku tidak cemburu."
"Hana. Barusan kau imut sekali." Arka mendorong Bena dengan asal dan menangkupkan kedua tangannya kepipiku. Dira dan Bena sudah bersiap-siap dengan posisi seperti orang mau muntah.
---
Akhir minggu ini Arka berencana mengajakku pergi. Sebenarnya aku ingin Bena dan Dira juga ikut bersama, tapi mereka sama-sama menolak dengan alasan tak ingin mengganggu waktu berduaku dengan Arka.
Arka sudah duduk di ruang tv, seperti janjinya, ia menggantikan Dira yang biasa menjadi alarmku setiap pagi. Aku masih sering mengalami kesulitan tidur setiap malam, dan itu menjadi alasan yang membuatku kesulitan untuk bangun pagi karena terjaga semalaman. Arka terus menekan tombol yang ada di remote tv, mencari channel yang dirasa seru untuk ditonton. Bosan tak ada acara yang menarik, Arka menaiki tangga menuju kamarku. "Boleh aku masuk, Hana?" Dia mengetuk pintu kamar. Aku mengiyakan dan dia masuk sambil tersenyum. "Kau sudah sangat cantik Hana, kenapa kau lama sekali? Aku sampai hafal apa yang dikatakan iklan-iklan di tv itu." Aku mendengus geli, mengambil tas yang ada di lemari dan siap berangkat.
Kami berjalan melewati rerumputan hijau yang terbentang sepanjang jalan. Ada banyak binatang ternak dan bunga-bunga indah disana. Arka membawaku ke sebuah tempat wisata di kaki gunung. Udara disini sangat berbeda dengan kota. Tak banyak mobil yang berlalu lalang, orang-orang sekitar banyak menggunakan sepeda sebagai alat transportasi, atau hanya dengan berjalan kaki. Sebuah toko kecil terlihat dari tempat kami berdiri. Arka sudah duluan masuk ke dalam toko, aku mengikutinya dan berdiri tepat disampingnya. Dia tersenyum padaku sambil melihat-lihat tanaman yang beraneka ragam. "Kau meyukainya, Han?"
"Hmm... Ya. Tempat ini bagus." Aku mengangguk, melihat ke sekeliling.
"Kupikir kau menyukai tanaman?" Arka nampak bingung.
"Ah... aku... Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik. Tapi disini bagus." Kali ini aku memaksakan senyum tergambar diwajahku.
"Sepertinya aku salah. Tapi aku melihat banyak tanaman di studiomu. Kupikir karena kau menyukainya." Arka menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Itu... Dira yang meletakkannya disana. Dia bilang tanaman bisa membuat suasana lebih rileks dan nyaman."
"Hmm... Aku juga melihat kaktus dikamarmu. Bahkan kulihat setiap tahun kau mengganti potnya. Terakhir kulihat coraknya tidak seperti yang tadi pagi."
"Itu... aku... aku akan segera membuangnya. Aku sudah lelah merawatnya." Aku menundukkan kepalaku, menatap lantai kayu toko. Merasa tak enak karena telah berbohong pada Arka.
"Kenapa? Kau sudah merawatnya selama bertahun-tahun, Han. Kenapa sekarang baru membuangnya? Jika aku jadi kaktus itu ... pasti akan sangat sedih. Kukira kau menyayangiku, tapi kau membuangku begitu saja saat kau bosan. Terlebih aku tidak bisa marah padamu, karena selama ini kau satu-satunya orang yang selalu menjagaku meski pada akhirnya kau membuangku yang sudah terlanjur bergantung padamu." Raut wajah Arka berubah, sinar matanya memancarkan kesedihan. Aku terkejut mendengar kalimat itu keluar dari mulut Arka, rasanya seakan dia benar-benar membicarakan dirinya sendiri. "Selama ini aku selalu berharap jadi kaktus itu, Han. Yang selalu melihatmu terlelap dan bangun esok paginya. Kurasa sekarang aku tak mau lagi jadi kaktus itu.
"Arka, aku ... sebenarnya ... " Aku tercekat, Arka tak pantas merasa seperti itu, dia terlalu sempurna jika dibandingkan dengan kaktus bodoh itu. Seketika aku menyesal tak langsung membuangnya malam itu.
"Hei! Hana, kenapa kau menangis? Aku hanya merasa kasihan pada kaktusmu. Itu pilihanmu, Han. Aku tak bisa berbuat apa-apa." Air mataku sudah jatuh membasahi pipi, Arka menyekanya dan mengusap lembut kepalaku. Aku harus segera menceritakan yang telah terjadi beberapa minggu ini, juga tentang beberapa tahun silam jauh sebelum aku mengenal Arka. Tapi aku tak tahu harus mulai darimana. Aku tak ingin menyakiti Arka, tapi disisi lain sesuatu masih mengganjal dihatiku.
Setelah lelah mengelilingi peternakan, kami singgah di sebuah kedai. Aku sedang tak berselera menyantap apapun dan hanya memesan jeruk hangat. "Kau tidak sedang diet kan, Han?" Arka menyendok nasinya ke dalam mulut. Aku tersenyum sambil menggeleng. Selama makan siang Arka banyak cerita tentang kegiatan dan kejadian-kejadian yang terjadi selama ia sekolah. Seringnya ia bercerita tentang dirinya yang menjadi bahan olok-olok teman-temannya. Mereka bilang bahwa Arka berhalusinasi mengenai kekasihnya karena aku sama sekali tak pernah menghubunginya. Begitu pun dengan teman kantor Arka. Aku hampir tidak pernah datang jika teman kantornya mengadakan suatu acara. Aku tidak terlalu senang dengan hal-hal yang seperti itu, terlalu ramai dan berisik. Arka juga tak pernah memaksaku, itu salah satu hal yang kusuka darinya.
Arka mengantarku sampai depan pintu rumah. Dari dulu, sebelum berpisah Arka selalu mencium keningku. Awalnya aku sedikit risih, tapi lama kelamaan aku memahami bahwa itu adalah caranya menunjukkan kasih sayangnya. Dia adalah pria terlembut yang pernah ku kenal. Arka melambaikan tangannya dari dalam mobil. Senyumku mengembang, sebaiknya besok aku menceritakan semuanya pada Arka, pikirku.
---
Hari demi hari berlalu. Tama beberapa kali mencoba menghubungiku meski tak pernah sekali pun aku membalas pesan atau menerima telepon darinya. Aku mengeluarkan semua pakaian terbaikku yang ada di lemari. Bena mengirimku pesan bahwa besok adalah hari dimana acara reuni SMA diadakan. Kebingungan dengan apa yang sebaiknya kukenakan di acara reuni seperti itu, aku meraih ponsel yang ada di atas tempat tidur dan memilih satu nama.
"Ya, Han?" Bena terdengar seperti sedang menahan sesuatu.
"Ben, kau baik-baik saja? Kenapa suaramu aneh begitu?"
"Aku tidak baik, Han. Ini sangat sakit. Uh!"
"Bena, kau tidak sedang..."
"Aaahhh..."
"Hmm. Mungkin sebaiknya kutelepon lagi nanti." Aku memasang wajah jijik sambil menutup telepon, memasukkannya ke dalam saku celana. Tak mau semakin pusing, aku meninggalkan kamar yang berantakan oleh baju-baju menuju dapur. Aku menuang sereal dan susu ke dalam mangkuk lalu menikmati sarapan dengan memandangi taman belakang.
Mangkuk sereal sudah hampir kosong. Ponselku bergetar dan Bena terdengar lebih baik dari sebelumnya. "Hana. Kau tidak berpikir yang aneh-aneh, kan? Aku tadi ..."
"Tak apa, Ben. Aku juga pernah seperti itu. Ah, akan lebih baik jika kau banyak minum air putih atau makan makanan berserat." Aku memotong pembicaraan Bena, tak mau membuatnya malu.
"Well, okay. Aku khawatir untuk hal yang tak berguna. Aku tidak sedang sembelit, Aku sedang massage di spa, hehee."
"Oh. Kupikir kau..."
"Lupakan. Ada apa meneleponku?"
"Apa yang dipakai orang-orang saat acara reuni sekolah, Ben?"
"Kau meneleponku hanya untuk itu?"
"Ya."
"Seriously!? Kau boleh memakai apapun, Hana! Aku sibuk, Han. Aku harus melakukan treatment selanjutnya.. Bye..."
Aku kembali berkutat pada pakaian yang akan kukenakan besok malam. Jawaban Bena sama sekali tak membantu. Aku memilih satu gaun yang pernah Dira belikan untukku. Setelah merapikan semua pakaian ke dalam lemari aku berbaring di atas kasur. Meluruskan badanku yang terlalu lama berdiri dan membungkuk secara bergantian. Ujung mataku menangkap kaktus yang ada di dekat jendela, menatapnya kosong. Seketika teringat kata-kata Arka saat di peternakan. Apa yang sebaiknya kulakukan padamu?
---
Malam acara reuni.
Aku memasuki ruangan yang sudah dipenuhi alumni. Kulihat sebagian wajah yang kukenali, namun lebih banyak yang terlihat asing dimataku. Hanya orang-orang yang pernah berada dikelas yang sama denganku yang benar-benar kuingat. Mereka semua menatapku, aku merasa canggung. Bena yang ada di salah satu tempat duduk berdiri dan menarikku agar duduk di sebelahnya. "Wah. Apa itu Hana? Benar kau, Hana? Aku ingat sekali dulu ... dimana ada Hana disitu ada Tama. Dimana ada Tama disitu pasti ada Hana. Hahaa... Kemana anak itu sekarang?" Arka yang baru saja duduk dikursi yang tak jauh dariku menatapku penuh tanya. "Hei! Panjang umur kau, Tam. Lihat! Hana yang selalu kau puja-puja berubah jadi wanita yang sangat cantik." Bena menyikut orang yang dulunya ketua kelas itu dan mengangkat kedua alisnya, menatapnya tajam. Dia nampak bingung dan tak mengerti maksud tatapan Bena.
Semakin malam suasana semakin ramai, aku lebih banyak diam dan menyimak pembicaraan mereka. Orang-orang saling tertawa mengingat masa-masa sekolah mereka dulu. Sampai tiba-tiba Romi, si ketua kelas, yang baru kuingat namanya kembali berulah. "Kupikir kau benar-benar akan menikah dengan Hana, Tam. Kau sering sekali menceritakan betapa hebatnya dia dimatamu. Oh. Aku memberinya nomor ponselmu, Han. Apa dia tidak menghubungimu?" Saking terkejutnya aku tersedak air yang sedang kuminum. Lagi-lagi aku melirik ke arah Arka, wajahnya terlihat kesal dan duduknya tak tenang. Bena yang juga menyadarinya mencubit perut gendut Romi. Dia mengaduh. Mereka semua tertawa melihat Romi kesakitan, termasuk Tama. Aku yang mendapati Arka sudah tak lagi ada di tempat duduknya, langsung berdiri meninggalkan ruangan.
Sepuluh menit sudah aku mencari Arka disekitar gedung. Aku masih belum juga menemukannya. Bahkan ia tak mengangkat panggilan dariku. Aku kembali menghubunginya, namun tetap tak ada jawaban. "Kau sedang apa, Han?" Tama muncul dari belakang, ternyata dia mengikutiku keluar dari gedung. Aku mengabaikannya dan terus berusaha menghubungi Arka. "Hana, kenapa kau tak membalas pesan ataupun telepon dariku? Aku tahu kau berbohong soal pernikahan itu untuk menghindariku, kan?" Aku masih mengabaikannya, berpura-pura tak mendengarnya. Tama berjalan mendekatiku dan menyentuh kedua pundakku. "Hana, kumohon dengarkan aku."
"Aku tidak ada waktu meladenimu, Tama." Aku menepis kedua tangannya dari pundakku dan mundur selangkah.
"Kau datang bersama orang itu?"
"Ya. Dan sekarang dia pergi mendengar leluconmu dan Romi."
"Kenapa? Apa dia belum tahu? Kau tidak pernah menceritakan hubungan kita dulu padanya? Kau takut dia juga akan meninggalkanmu, Han?"
"Berhenti bicara tentang 'kita' disetiap kata-katamu, Tama. Dan jangan pernah samakan Arka denganmu!"
"Kau mencintai dia, Han?"
"... apa maksudmu?"
"Kau mencintainya, Han?"
"... Dia datang disaat aku benar-benar terpuruk. Dia selalu memastikan bahwa aku baik-baik saja, dan karena dia aku memiliki keberanian untuk kembali berharap. Bagaimana bisa aku tidak mencintainya? Dia berbeda denganmu, Tama. Sangat. Amat berbeda." Sejenak aku ragu dengan apa yang harus kukatakan, dan semua keluar begitu saja dari mulutku.
"Itu bukan cinta, Hana. Kau hanya terbiasa dengan kehadirannya saat kau benar-benar tidak memiliki siapa-siapa. Kau hanya mencari sosok yang bisa menggantikanku dari pikiranmu dan berharap akan dengan mudah melupakanku. Ya, kan? Apa kau pernah berpikir, mungkin pikiranmu dipenuhi dia saat ini, Hana. Tapi tidak dengan hatimu." Tama menyentuh pipiku lembut, menyeka air mata yang perlahan jatuh tak terkendali.
"... Bagaimana denganmu? dengan 'kita'? Pernahkah kau berpikir dulu kita hanya saling terbiasa, dan salah mengartikannya sebagai cinta? Kau dengar apa yang tadi dikatakan Romi? Kemana-mana selalu bersama. Aku ada saat kau ada, begitu sebaliknya. Itu tidak ada bedanya, Tam."
"Hana, kumohon. Biarkan aku memperbaiki kesalahanku. Sekarang aku tak lagi harus menjaga Sarah, Han. Pihak rumah sakit mengabariku bahwa sudah waktunya untuk membiarkannya pergi. Semua sudah berakhir dan aku bisa kembali kesisimu sekarang." Tama menatapku dan tersenyum lega. Tanganku bergerak dengan sendirinya, mendarat di pipi Tama. Aku merasakan dingin di sekujur tubuhku. Merinding mendengar apa yang baru saja ia katakan.
"Kau... Kau senang mengetahui seseorang akan kehilangan nyawanya, Tama? Kau tahu, untuk sesaat tadi aku masih ragu dengan diriku sendiri karena entah hati atau kepalaku masih dipenuhi olehmu. Tapi melihatmu tersenyum seperti itu membuatku sadar dan yakin. Aku sudah melepasmu, Tam. Tak ada lagi ruang untukmu dihatiku. Tak pernah, tak pernah sekali pun aku berpikir bahwa Sarah adalah penghalang hubungan kita. Jika aku jadi Sarah aku akan sangat ketakutan berada didekatmu, Tam. Semua ini terjadi karena ulahmu sendiri! Kau hanya dan selalu mementingkan dirimu sendiri, Tama. Dulu, maupun sekarang. Kuharap aku tak lagi melihatmu di kemudian hari, Naraya Tama."
---
"Aku tidak bisa membiarkanmu keluar seperti ini, Hana." Arka memasang wajah serius. Hana berputar didepan kaca dan menanyakan apa ada yang salah dengan penampilannya malam itu. "Semua pria pasti akan jatuh cinta padamu, Tuan putri." Arka berlutut dan mengecup punggung tangan Hana. Hana salah tingkah, wajahnya memerah.
Hana dan Arka tiba disebuah gedung tempat acara reuni diadakan. Hana masuk lebih dulu karena Arka harus menerima telepon dari rekan kantornya. Begitu selesai, Arka masuk dan mencari kursi yang kosong. Ia bisa melihat Hana dari arah tempatnya duduk. Seseorang dengan perut buncit menyebut nama Hana dengan seorang lain bernama Tama yang tak pernah ia dengar sebelumnya. Arka yang penasaran, mengirimkan sinyal menggunakan gerakan matanya kepada Hana. Tak lama seseorang yang dipanggil Tama tadi masuk, orang-orang mulai berdiri dan menyambutnya. Arka berpendapat bahwa Tama cukup terkenal di sekolahnya dulu. Ia lalu bergantian memandangi Hana dan Tama. Hana tampak memalingkan pandangannya dari Tama, sebaliknya Tama terus memperhatikan Hana meski sibuk berjabat tangan dengan teman-temannya. Ia tak menyukai cara Tama memandangi kekasihnya. Siapa pun pasti menyadari jika Tama memiliki perasaan terhadap Hana.
Arka sudah sangat bersabar mendengar nama Hana terus diungkit dalam pembicaraan Tama dan teman-temannya. Puncaknya adalah ketika ia mendengar Tama bercerita tentang pertemuannya dengan Hana suatu malam di luar kota, ditambah dengan si buncit yang memberikan nomor Hana pada Tama. Arka semakin tak bisa menahan amarahnya dan keluar dari ruangan tersebut.
Setelah berkeliling mencari udara segar, Arka memutuskan untuk kembali ke dalam, langkahnya terhenti, samar-samar ia mendengar suara Hana di ujung lorong. Ia mencari asal suara, dan tak sengaja mendengar pembicaraan Hana dengan seseorang yang ternyata adalah Tama. "Kau mencintai dia, Han?" Arka kesal dan mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia hendak keluar dari balik dinding namun urung ia lakukan setelah mendengar jawaban dari Hana. Ia mendengus pelan, tangannya tak lagi mengepal. Ia memejamkan kedua matanya, tersenyum kecut. Kenapa kau menjawabnya dengan pertanyaan lagi, Hana? Kau bahkan tak bisa langsung mengatakannya.
---
Malam setelah acara reuni, Arka menjadi sedikit berbeda. Ia tak lagi datang setiap pagi ke rumahku. Hanya ada pesan singkat yang memastikan aku sudah bangun dan sarapan. Awalnya aku tak menyadari jika dia menghindariku, dia beralasan jika dirinya hanya sibuk dengan kerjaan dikantornya. Sampai suatu hari aku bertemu salah satu teman kantor Arka di sebuah mall, ia mengenaliku dari foto yang ada di meja kerja Arka. Dia memastikan agar aku tak lupa pada acara makan malam dan ulang tahun istrinya. Sebenarnya aku belum mendengar hal itu dari Arka. Aku hanya tersenyum mengiyakan.
Sampai hari ini Arka masih tak mengangkat teleponnya, meski ia menjawab pesanku, balasannya hanya seputar 'ya' dan 'tidak'. Bena menyarankan agar aku mendatangi kantornya. Tapi setiap kali aku datang, dia selalu tak ada ditempat. Setelah kupikir-pikir acara makan malam teman kantornya adalah satu-satunya cara untuk bisa menemui Arka dan menceritakan yang seharusnya dari dulu ku katakan padanya.
Aku mengaktifkan GPS ke alamat yang dikirim teman Arka melalui pesan. Meyakinkan diri dan berharap semua terselesaikan dengan baik. Aku tidak ingin Arka terus menghindariku. Aku tak bisa membiarkan kesalahpaham ini berlanjut dan melukai perasaan Arka, dia tak pantas mendapatkannya.
Aku tiba sedikit terlambat karena jarak yang lumayan jauh dan jalanan yang macet. Sampai di depan gerbang, aku diantar ke halaman belakang dan melihat Arka sedang tertawa bersama teman-temannya. Dari kejauhan si pemilik rumah sudah meneriaki Arka dan mengatakan wanitanya telah datang. Aku tersenyum canggung. Seketika raut wajah Arka berubah.
---
Arka terus menggeser layar ponselnya. Ia terlihat sedang berpikir keras. Teman-temannya heran melihat Arka yang tak biasanya melamun saat jam kerja. Neo, salah satu temannya mengetuk meja Arka pelan. "Halo. Kau tidak pulang? Semua orang sudah pergi." Arka menoleh dan mengedip-ngedipkan matanya. Ia nampak sedikit terkejut dan bingung. "Kau masih belum bicara dengannya?" Arka menggeleng dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kalian tidak pernah bertengkar sebelumnya. Kau bahkan tak mau menemuinya saat ia mendatangimu beberapa kali ke sini."
"Entahlah. Aku hanya merasa, selama ini hanya aku yang jatuh cinta."
"Apa maksudmu? Hei, sudah seminggu kau seperti ini. Tahun depan kalian akan menikah. Ingat itu!"
"Aku tahu..."
"Dua hari lalu aku bertemu Hana. Awalnya aku takut dia hanya orang yang mirip Hana, tapi ternyata benar dia. Aku memastikan dia harus ikut ke acara makan malam besok, dari ekspresinya terlihat jelas dia tak tahu apa-apa."
"Lagipula dia tidak suka acara yang seperti itu..."
"Kau tahu apa yang dia tanyakan pertama kali saat kubilang aku teman kantormu?"
"Mana ku tahu..."
"Dia langsung menanyakan kabarmu. Dia sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Dia bahkan tak repot bertanya siapa namaku."
"..."
"Masalah hanya akan selesai jika kalian saling bicara. Selebihnya baru boleh kau serahkan pada waktu. Hei, kau tidak jatuh cinta sendirian, kawan. Aku melihatnya dengan mataku sendiri, Hana jauh lebih mencintaimu. Dia hanya belum menyadarinya."
Arka asyik bercanda sambil menikmati hidangan yang telah disediakan. Neo terlihat meninggalkan kursinya setelah membaca pesan masuk di ponselnya. Ia membawa Hana masuk dan bertemu Arka. "Hei, Arka! Lihat, wanitamu sudah datang!"
Hana sudah duduk disebelah Arka, diam satu sama lain. Arka tak lagi lahap menyantap makanannya. Neo yang melihat mereka berdua nampak menderita, berdiri membuat pengumuman. "Hmm... Semuanya! Karena yang datang malam ini semua berpasangan, bagaimana kalau kita berdansa dengan pasangan masing-masing?" Mereka semua langsung berdiri, berjalan mengikuti Neo, bergandengan dengan pasangan masing-masing. Hana baru berdiri setelah Arka bangkit dari kursinya dan mengikuti teman-temannya.
"Aku...aku tidak pernah berdansa sebelumnya." Hana memecah keheningan setelah beberapa detik mereka hanya berdiri berhadapan satu sama lain. Arka menatap Hana yang terlihat tak nyaman berdiri ditengah-tengah lantai dansa dengan musik keras yang mengiringi. Ia menghela napas, berjalan menjauh dari kerumunan orang. "Kau mau kemana? Aku ... ingin berdansa denganmu." Arka yang melihat Hana tetap bergeming kembali menghela napas dan menghampiri Hana. Ia diam sejenak, menyentuh lembut pinggang Hana, menautkan jemarinya dengan jemari kecil milik Hana, menariknya mendekat, mulai berdansa. Hana yang semula terlihat tegang mulai tersenyum, dengan hati-hati ia mengikuti langkah kaki Arka. "Ini seru sekali, Arka." Melihat Hana tersenyum bahagia, ia pun menyerah dan ikut tersenyum.
"Jangan terlalu cepat, ikuti irama musiknya." Arka kembali menuntun Hana menyesuaikan irama. Neo yang melihat dari kejauhan juga ikut tersenyum. untuk beberapa saat mereka hanya berdansa dan menikmati musik. Hana yang sudah mulai terbiasa tak lagi sibuk mengikuti langkah kaki Arka, ia menatap lurus ke depan. Kemudian sedikit mendongak ke atas dan menatap mata Arka. "Apa?" Arka salah tingkah dan mengalihkan pandangannya.
"Maaf."
"... untuk apa?"
"Semuanya, Arka. Maaf karena aku tidak pernah menceritakan tentang Tama sebelumnya, kupikir karena itu hanya masa lalu. Maaf karena aku tak langsung memberitahumu ketika dia datang ke studioku mengikuti workshop. Juga... aku tak bilang jika dia terus menghubungiku setelah itu... Maaf ..."
"...maaf karena tak mencintaiku?"
"...Apa maksudmu?"
"Aku mendengar semuanya, Han. Bahkan aku melihat semuanya malam itu. Kau membiarkan dia menyentuhmu, memelukmu." Gerakan kaki mereka terhenti, Arka melepaskan tangannya dari tubuh Hana.
"Arka, aku ..." Belum sempat Hana menyelesaikan kalimatnya, Arka sudah lebih dulu pergi menuju tempat dimana mobilnya terparkir. "Kau tak ingin mendengarku, Arka?" Arka sudah siap membuka pintu mobilnya.
"Aku tak ingin membahasnya sekarang, Han."
"Lalu kapan? Kau akan terus menghindariku, Arka. Seperti yang kau lakukan semingguan ini." Arka tak mempedulikan Hana dan masuk ke dalam mobilnya. Hana hanya bisa menatap mobil Arka yang semakin menjauh meninggalkannya. Malam itu terasa sangat dingin baginya, ia terduduk, menangis dalam diam.
---
Tahun telah berganti, tepat setelah malam tahun baru Tama mengirim pesan singkat untuk membatalkan rencana pernikahan kami. Aku tak ingin lagi menangis. Tapi rasanya, sebagian dari diriku menghilang. Aku mengasihani diriku sendiri, kembali teringat akan malam dimana Bena membawakan kabar serta kaktus bodoh milik Tama.
Bulan ketiga di tahun baru, seharusnya sekarang kami sedang sibuk-sibuknya menyiapkan segala kebutuhan pernikahan yang rencananya akan di adakan pertengahaan tahun ini. Aku tak bisa menahan diriku untuk tak menangisi yang telah terjadi. Bena kerap kali datang mengunjungiku, memastikan bahwa aku baik-baik saja.
Malam itu hujan kembali turun membasahi seluruh kota. Aku masih terjaga karena rasa kantuk yang tak kunjung datang. Samar-samar aku mendengar suara bel pintu dibunyikan. Ragu sejenak, aku memberanikan diri dan menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati. Kuraih payung yang ada di sudut ruangan, aku mengintip dari balik jendela dan tak mendapati siapa pun diluar sana. Perlahan aku membuka pintu dengan posisi siaga. Betapa terkejutnya aku melihat seluruh tubuh Arka basah oleh air hujan.
"Kau masih ingat saat pertama kita bertemu, Hana?"
"Astaga! Arka, apa yang terjadi?!" Aku menariknya masuk dan cepat-cepat menutup kembali pintu.
"Saat sebelum kau mengatakan 'iya' setiap kali aku menyatakan perasaanku? Tak peduli berapa kali kau menolaknya, aku selalu datang ke perpustakaan hanya untuk melihat wajahmu. Saat itu yang kupikirkan hanyalah melihatmu tersenyum, Han. Terbebas dari kesedihan yang selama ini membuatmu terpuruk."
"Kau basah kuyup, Arka."
"Maaf aku menghindarimu, aku menghilang tanpa kabar, aku melakukan hal yang sama dengan yang Tama lakukan padamu. Kupikir aku akan baik-baik saja jika membiasakan diri tanpamu. Tapi itu semakin membuatku takut kehilanganmu. Aku takut berakhir seperti kaktus itu, Hana."
"Kupikir kau membenciku."
"Aku menyayangimu, Hana. Aku tak bisa berjanji untuk terus membuatmu selalu bahagia, tapi aku akan selalu ada disisimu, apa pun yang terjadi."
Malam itu, hujan badai sekalipun tak terasa dingin bagiku. Meski angin berhembus kencang menggoyahkan pepohonan, meski kilat dan petir menyambar hingga memekakkan telinga. Meski dia memelukku dengan tubuh yang basah karena air hujan, yang kurasakan saat itu hanyalah kehangatan dan kasih sayang yang tulus dari seorang pria manja, bernama Arkana Davie.
---END---

Comments
Post a Comment