"Semua akan terasa ringan jika kita ikhlas"
Kegiatan minggu pagi bersama ibuk yang Aru suka adalah ketika membantu ibuk mencuci piring. Setelah menghabiskan sarapan bersama kakak dan bapak, Aru akan langsung menuju dapur untuk membantu ibuk.
"Ibuk, lihat! Piringnya sudah bersih"
"Wah, iya. Terima kasih, Aru"
"Sama-sama, ibuk"
Aru senang membantu ibuk. Kata ibuk, semua yang kita lakukan bersama-bersama akan lebih terasa ringan dan cepat selesai. Selama Aru dan ibuk mencuci piring, biasanya kakak akan menyapu halaman depan dan bapak menyiram tanaman setelah kakak selesai. Semua itu ibuk lakukan sendiri di hari biasa. Meski begitu, ibuk tak pernah terlihat lelah, apalagi mengeluh.
Suatu hari ibuk memberikan rahasia agar semua pekerjaan selesai tepat waktu, tanpa terasa berat. Ikhlas. Satu kata yang keluar dari mulut ibuk. Aru masih menantikan kata selanjutnya Tapi ibuk hanya tersenyum dan kembali berkata, 'ikhlas'. Dan untuk yang ketiga kalinya ibuk berkata, 'ikhlas'. Aru masih belum mengerti. Aru tidak tahu bagaimana melakukan atau mencari 'ikhlas'. Tapi kemudian ibuk tersenyum sambil menjelaskan bahwa semua pekerjaan, sesedikit dan sebanyak apapun, semua akan lebih terasa ringan jika melakukannya dengan tulus ikhlas. Ikhlas bukan semata-mata mengatakan 'saya ikhlas' setiap sebelum maupun sesudah melakukan sesuatu. Melainkan ikhlas dengan artian melakukan semua hal dengan hati senang, melakukan semua hal dengan senyum tergambar diwajah, dan melakukan semua hal tanpa harus mengukur seberapa banyak yang telah kita kerjakan.
Mengeluh tidak akan menyelesaikan pekerjaan. Aru masih sangat sering mengeluh. Kata ibuk, itu berarti Aru masih belum ikhlas dalam melakukan sesuatu. Padahal Aru sudah tersenyum dan melakukan sesuatu dengan hati senang. Meski belum begitu memahami 'ikhlas', Aru selalu mencoba untuk ikhlas setiap kali ibuk meminta bantuan Aru.
Selesai mencuci piring-piring kotor, Aru mengajak ibuk menonton kartun kesukaan Aru. Terkadang ibuk ikut tertawa bersama Aru. Tapi lebih sering ibuk meninggalkan tempat duduk untuk membersihkan sekeliling rumah.
"Ibuk, kenapa sehabis makan ibuk tidak bersantai dulu? Cuci piringnya kan bisa nanti sekalian habis makan malam?"
"Tadi kan sudah, sambil ngobrol sama bapak dan kakak. Itu sudah cukup bersantai."
"Tapi itu cuma sebentar."
Ibuk kembali duduk di dekat Aru. Bertanya apa yang akan terjadi jika piring kotor dibiarkan sampai malam hari. Kemudian lanjut bercerita, piring-piring kotor tadi akan terus menumpuk, belum lagi noda akan lebih susah dihilangkan. Pekerjaan akan lebih berat jika dilakukan sekaligus. Jika memang seharusnya dilakukan, maka jangan sampai kita menunda-nunda. Karena itu hanya akan menyusahkan diri kita sendiri.
Aru mendengarkan ibuk sambil mengangguk-anggukkan kepala. Aru sekarang mengerti. Kemudian tersenyum. Turun dari kursi. Menarik ibuk untuk membantu ibuk membersihkan rumah, agar nanti Aru bisa main tanpa ada pekerjaan yang menanti selanjutnya.
"Ibuk, lihat! Piringnya sudah bersih"
"Wah, iya. Terima kasih, Aru"
"Sama-sama, ibuk"
Aru senang membantu ibuk. Kata ibuk, semua yang kita lakukan bersama-bersama akan lebih terasa ringan dan cepat selesai. Selama Aru dan ibuk mencuci piring, biasanya kakak akan menyapu halaman depan dan bapak menyiram tanaman setelah kakak selesai. Semua itu ibuk lakukan sendiri di hari biasa. Meski begitu, ibuk tak pernah terlihat lelah, apalagi mengeluh.
Suatu hari ibuk memberikan rahasia agar semua pekerjaan selesai tepat waktu, tanpa terasa berat. Ikhlas. Satu kata yang keluar dari mulut ibuk. Aru masih menantikan kata selanjutnya Tapi ibuk hanya tersenyum dan kembali berkata, 'ikhlas'. Dan untuk yang ketiga kalinya ibuk berkata, 'ikhlas'. Aru masih belum mengerti. Aru tidak tahu bagaimana melakukan atau mencari 'ikhlas'. Tapi kemudian ibuk tersenyum sambil menjelaskan bahwa semua pekerjaan, sesedikit dan sebanyak apapun, semua akan lebih terasa ringan jika melakukannya dengan tulus ikhlas. Ikhlas bukan semata-mata mengatakan 'saya ikhlas' setiap sebelum maupun sesudah melakukan sesuatu. Melainkan ikhlas dengan artian melakukan semua hal dengan hati senang, melakukan semua hal dengan senyum tergambar diwajah, dan melakukan semua hal tanpa harus mengukur seberapa banyak yang telah kita kerjakan.
Mengeluh tidak akan menyelesaikan pekerjaan. Aru masih sangat sering mengeluh. Kata ibuk, itu berarti Aru masih belum ikhlas dalam melakukan sesuatu. Padahal Aru sudah tersenyum dan melakukan sesuatu dengan hati senang. Meski belum begitu memahami 'ikhlas', Aru selalu mencoba untuk ikhlas setiap kali ibuk meminta bantuan Aru.
Selesai mencuci piring-piring kotor, Aru mengajak ibuk menonton kartun kesukaan Aru. Terkadang ibuk ikut tertawa bersama Aru. Tapi lebih sering ibuk meninggalkan tempat duduk untuk membersihkan sekeliling rumah.
"Ibuk, kenapa sehabis makan ibuk tidak bersantai dulu? Cuci piringnya kan bisa nanti sekalian habis makan malam?"
"Tadi kan sudah, sambil ngobrol sama bapak dan kakak. Itu sudah cukup bersantai."
"Tapi itu cuma sebentar."
Ibuk kembali duduk di dekat Aru. Bertanya apa yang akan terjadi jika piring kotor dibiarkan sampai malam hari. Kemudian lanjut bercerita, piring-piring kotor tadi akan terus menumpuk, belum lagi noda akan lebih susah dihilangkan. Pekerjaan akan lebih berat jika dilakukan sekaligus. Jika memang seharusnya dilakukan, maka jangan sampai kita menunda-nunda. Karena itu hanya akan menyusahkan diri kita sendiri.
Aru mendengarkan ibuk sambil mengangguk-anggukkan kepala. Aru sekarang mengerti. Kemudian tersenyum. Turun dari kursi. Menarik ibuk untuk membantu ibuk membersihkan rumah, agar nanti Aru bisa main tanpa ada pekerjaan yang menanti selanjutnya.
"Segera lakukan apa yang seharusnya dilakukan, menunda tidak akan membuatnya menjadi lebih mudah"

Comments
Post a Comment